
"Dia bukan penipu Kek! Aku memang telah menghamilinya. Dan aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku!"
Seketika semua orang menoleh kebelakang. Mereka begitu terkejut saat melihat Zean sudah berdiri diambang pintu.
"Zean?!" gumam Tuan Wildan.
Perlahan Zean melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
Netranya menatap lurus kearah Ellina yang saat ini juga tengah menatap kearahnya.
Sepersekian detik Ellina langsung menurunkan pandangannya. Diiringi dengan rasa takut yang kembali menghantam benak perempuan itu.
Sedangkan Zidan, Andita, Zyl, dan Nyonya Liyana menatap Zean dengan tatapan penuh kekecewaan.
Begitu berada dihadapan keluarganya, Zean menghentikan langkahnya.
Ia menatap satu persatu wajah anggota keluarganya lalu menunduk dalam.
"Maaf sudah membuat kalian kecewa. Aku berjanji akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku dengan menikahi perempuan itu."
Mendengar pengakuan serta keputusan Zean, semua orang tampak terdiam. Tapi tidak dengan Tuan Wildan yang tampak amat sangat terkejut mendengar keputusan tersebut.
"Kau serius dengan ucapanmu Zean? Kau benar-benar akan menikahi Ellina?" tanya Andita tiba-tiba, sembari merangkul Ellina yang berdiri disampingnya.
"Aku serius Bu. Aku akan menikahinya." jawab Zean tegas.
"Memang sudah seharusnya kau mempertanggung jawabkan perbuatanmu setelah kau melemparkan kotoran kepada kami." sahut Zidan pedas dengan wajah merah padam. Sejak tadi ia berusaha keras menahan amarahnya untuk tidak menghajar sang putra.
Zean mendongak lalu membalas tatapan sang Ayah dengan penuh penyesalan.
"Maafkan aku Ayah. Aku benar-benar menyesal."
__ADS_1
"Astaga! Omong kosong apa ini?!" tiba-tiba Tuan Wildan menyela sembari mendudukan dirinya disofa.
Dan kini pandangan semua orang tertuju kearah pria tua itu.
"Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan Zean?!" tanya Tuan Wildan.
"Ya, aku sangat sadar Kek. Dan ini sudah menjadi keputusanku."
Tuan Wildan menghela napas kasar. Lalu menatap Zean dengan tajam.
"Jangan gegabah dalam mengambil keputusan cucuku. Sebab ini menyangkut masa depanmu. Lagipula apa kau yakin kalau perempuan itu sedang mengandung darah dagingmu, hm?!"
Zean terdiam. Sekilas netranya melirik kearah Ellina lalu kembali menatap sang kakek.
"Aku yakin Kek. Aku yakin janin yang ada didalam kandungannya adalah benihku darah dagingku. Karena hanya aku satu-satunya lelaki yang menyentuhnya."
Tuan Wildan mengepalkan erat kedua tangannya. Ia begitu geram mendengar jawaban sang cucu yang diucapkannya tanpa keraguan sedikitpun.
"Maaf untuk itu Kek!"
Brakk
"MAAF?! Apa semua bisa selesai dengan kata maaf Zean?!" bentak Tuan Wildan setelah menggebrak meja dihadapannya. Hingga semua orang yang berada diruang tamu pun tersentak kaget dan tak ada yang berani bersuara.
"Dengar Zean, sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui pernikahanmu dengan perempuan murahan ini! Jika sampai kau menikahinya maka jangan pernah menganggapku sebagai Kakekmu lagi! Ingat itu baik-baik!" ucap Tuan Wildan seraya menunjuk Ellina lalu segera pergi meninggalkan ruang tamu dengan perasaan marah luar biasa.
Jelas Tuan Wildan begitu murka saat Zean tetap pada pendiriannya untuk menikahi Ellina.
Bayangkan saja, sudah sejauh ini dia melakukan banyak hal untuk menyingkirkan Lyora dari hidup Zean, tapi tanpa diduga sang cucu malah menghamili gadis lain.
Dan hal yang membuat Tuan Wildan semakin geram adalah gadis yang akan dinikahi Zean memiliki latar belakang yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan Lyora.
__ADS_1
Tentu kenyataan tersebut tidak bisa diterima pria tua itu.
Setelah kepergian Tuan Wildan yang disusul oleh Nyonya Liyana, Zidan pun hanya bisa menatap punggung sang ayah sembari menggelengkan kepala.
Ia tidak habis pikir kenapa ayahnya itu selalu aja melihat seseorang dari strata sosialnya.
Perlahan Zidan berjalan mendekati Zean lalu menepuk pundak putranya itu, berusaha menenangkan.
"Jangan khawatir. Ayah sangat paham bagaimana sifat Kakekmu. Ayah yakin cepat atau lambat Kakekmu akan merestui hubungan kalian. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah kapan kau akan menikahi Ellina?"
Zean masih terdiam menatap sang Ayah dengan tatapan ragu. Kemudian secara tidak sengaja manik matanya kembali bertemu dengan manik mata Ellina yang berdiri tidak jauh dibalik punggung Zidan.
Untuk sesaat tatapan keduanya saling mengunci. Namun itu tak lama karena Ellina langsung memutus pandangan mereka dengan menunduk.
"Secepatnya Ayah." jawab Zean.
"Bagaimana kalau minggu depan. Lebih cepat lebih baik bukan?!" usul Andita sambil berjalan menghampiri suaminya dengan menggandeng tangan Ellina.
"Apa?! Minggu depan?!" pekik Zean yang merasa terkejut. Begitupun dengan Ellina yang tampak tercengang.
Andita mengangguk mengiyakan. "Kenapa kau terkejut? Bukankah tadi kau bilang secepatnya?"
"Ya memang, tapi bukan berarti minggu depan juga Bu?! Aku butuh waktu untuk menyiapkan semuanya!" protes Zean.
"Kau tidak perlu menyiapkan apapun Zean. Ayah dan Ibumu yang akan mempersiapkan semuanya. Kau hanya perlu mempersiapkan dirimu dan juga membereskan semua pekerjaanmu sebelum hari pernikahan kalian tiba." tegas Zidan.
Akhirnya mau tidak mau Zean pun hanya bisa pasrah. Toh yang terpenting masalahnya dengan keluarganya sudah selesai. Tinggal ia membuat kesepakatan dengan Ellina.
.
.
__ADS_1
Bersambung...