
Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, perasaan Zean tak tenang. Hatinya diliputi oleh rasa bersalah. Bodohnya dia sampai melupakan Ellina karena amarahnya yang tak terkendali.
Semalaman ia mengurung perempuan itu dikamarnya tanpa adanya makanan sama sekali. Ia yakin Ellina pasti kelaparan. Apalagi perempuan itu sedang hamil.
Berulangkali Zean mengusap wajah kasar sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Zean berjanji ketika dia bertemu Ellina nanti, dia akan meminta maaf pada istrinya itu dan menanyakan soal Devan secara baik-baik.
Setibanya di apartemen, Zean langsung menekan tombol intercom dan berjalan masuk kearah kamarnya dengan tergesa-gesa.
Namun langkahnya terhenti ketika ia mendapati pintu kamarnya terbuka lebar seolah habis didobrak seseorang dan bahkan kini istrinya tidak ada didalam.
Seketika netra Zean berkilat oleh api amarah. Ia menggertakkan gigi seraya mengepalkan kuat tangannya ketika membayangkan Ellina melarikan diri bersama Devan.
"Kurang ajar! Kau benar-benar perempuan murahan Ellina!" geram Zean dengan wajah merah padam.
Ia yakin, sebelumnya Ellina sudah memberitahu Devan kode apartemennya sehingga lelaki itu bisa leluasa masuk disaat ia tidak ada.
Demi meluapkan emosinya, Zean mengambil foto pernikahannya bersama Ellina yang terpajang didinding kamar lalu membantingnya dengan keras hingga menciptakan bunyi nyaring yang memekakkan telinga.
"Aku bersumpah, aku akan menemukan kalian dan membuat kalian menyesal!"
*****
Zean mendudukkan dirinya disofa. Ia sudah membersihkan diri dan berganti pakaian.
Meski begitu amarah dihatinya masih menggebu-gebu. Seolah segarnya air yang menempa tubuh kekarnya ketika mandi tadi tak mampu mendinginkan kepala dan hatinya yang terasa panas terbakar api cemburu.
Zean meraih ponselnya yang baru saja ia charge lalu menghidupkannya.
Seketika keningnya berkerut dalam saat melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan dari Zyl yang menanyakan keberadaannya tanpa memberitahu keadaan Ellina.
Zean yakin bahwa sang nenek telah menceritakan semua perbuatan jahat kakeknya pada adiknya itu. Sehingga Zyl berpikir bahwa dia membutuhkan seorang teman untuk berbagi keluh kesah.
Merasa tidak begitu penting, Zean mengabaikan pesan Zyl dan mencoba menghubungi asisten pribadinya untuk memberinya tugas supaya menghancurkan perusahaan Devan bagaimana pun caranya.
__ADS_1
Setelah memberi perintah, Zean mematikan ponselnya kemudian membuka laptop untuk memeriksa cctv apartemennya.
Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat bukan Devan yang menerobos masuk kedalam apartemennya, melainkan Zyl dan Adrian.
Bahkan yang lebih mengejutkan lagi dalam rekaman cctv itu menampakkan Adrian tengah bersusah payah menggendong Ellina yang terlihat tak sadarkan diri.
Astaga! Apa yang terjadi pada Ellina?!
Zean menjambak rambutnya dengan frustasi. Ternyata dia sudah salah menilai istrinya sendiri.
Tanpa banyak berpikir Zean langsung menghubungi Zyl.
"Dimana Ellina?" tanya Zean to the point ketika panggilannya tersambung.
"Kau yang dimana?!" sentak Zyl. "Kau tahu, karena ulahmu istrimu nyaris keguguran!"
Deg.
"APA?!"
*****
Gadis itu menggeleng tidak percaya lalu menghela napas kasar guna menetralisir emosinya.
Setelah memberitahu dimana keberadaan Ellina, Zyl kembali masuk kedalam ruang rawat kakak iparnya.
"Sebentar lagi lelaki brengsek itu akan datang." ucap Zyl sambil melangkahkan kakinya kearah sofa lalu mendudukkan dirinya disana.
"Jaga bicaramu Zyl. Bagaimanapun Zean adalah kakakmu!" jawab Andita menatap tajam sang putri.
"Ya kenyataan itulah yang aku sesali Bu."
"Zyl!" kini Zidan yang melempar tatapan peringatan pada putrinya hingga Zyl terdiam.
__ADS_1
Ya, saat ini Zidan dan Andita sudah berada di Indonesia. Mereka pulang setelah mendapat kabar mengejutkan dari putri semata wayangnya itu yang mengabarkan bahwa saat ini Ayah dan menantunya sedang dirawat dirumah sakit.
Ketika tiba ditanah air, Zyl langsung menceritakan semua yang terjadi pada orang tuanya. Membuat Zidan dan Andita begitu shock mendengar berita tersebut.
Mereka tidak menyangka jika kisah lama akan terulang kembali. Dimana ayahnya akan melakukan segala cara demi bisa mendapatkan menantu dari keluarga terpandang.
Zidan dan Andita kemudian menatap Ellina yang sedang tertidur pulas dengan perasaan iba. Mereka berharap sang putra tidak akan meninggalkan Ellina walaupun Lyora tidak bersalah.
*****
Dua puluh menit berlalu.
Zean yang sudah tiba dirumah sakit segera mencari kamar Ellina. Tak butuh waktu lama lelaki itu langsung bisa menemukannya.
Ketika Zean membuka pintu, semua mata tertuju pada lelaki itu, termasuk Ellina yang sejak tadi sudah bangun.
"Zean?" lirih Ellina dengan terkejut.
"Ellina." Zean menatap Ellina dengan mata berkaca-kaca.
Menyadari putra dan menantunya butuh waktu untuk bicara, Zidan, Andita dan Zyl memutuskan keluar dari kamar tersebut. Memberi ruang bagi keduanya untuk menyelesaikan masalah yang tengah mereka hadapi.
Zean langsung melangkahkan kakinya mendekati brangkar Ellina. Tanpa bisa ditahan lelaki itu langsung memeluk tubuh sang istri dan menangis tersedu-sedu.
"Maafkan aku, Ellina! Maafkan aku...Karena perbuatanku kau nyaris keguguran."
Sekuat tenaga Ellina mencoba untuk tidak menangis. Tapi tetap saja tidak bisa. Ia kembali menitikkan air mata. Namun kali ini air mata kekecewaan.
Jika Zyl dan Adrian tidak menolongnya, sudah pasti dia akan kehilangan calon anak mereka.
"Kau kemana saja? Kenapa baru kembali?"
.
__ADS_1
.