
Zean begitu terkejut saat mendengar Ellina menjerit kecil sambil memegangi perutnya.
Tampak gadis itu meringis dan memejamkan mata menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menghantam perutnya itu.
Dengan gerakan cepat Zean segera berlari kearah Ellina dan langsung merangkul bahunya.
"Ellina.. Ada apa?! Apa yang terjadi?!" tanya Zean panik. Satu tangannya menyentuh tangan Ellina yang sudah berada diatas perut.
"Pe-perutku! Akhh...Sakit!"
"Kenapa?! Bukankah tadi kau baik-baik saja?!"
"Aku tidak tahu! Tiba-tiba sakit sekali!"
"Biar aku antar kau kekamar!" tanpa menunggu persetujuan gadis itu, Zean segera menggendong tubuh Ellina ala bridal style dan langsung membawanya kedalam kamar.
Secara perlahan Zean membaringkan tubuh Ellina keatas kasur dengan gerakan yang sangat hati-hati sekali.
Lalu membenarkan posisinya supaya gadis itu merasa nyaman. Namun tetap saja Ellina masih merasa begitu kesakitan.
"Sstt..Akhh.. Sakiit!" lirih Ellina sambil menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri. Sedangkan kedua tangannya meremas perutnya yang terasa nyeri.
Zean yang begitu panik berusaha mencoba untuk tetap tenang. Ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Karena ini pertama kali baginya mengurus wanita hamil.
Sungguh ia takut jika sesuatu terjadi pada Ellina dan calon anak mereka.
"Tahanlah sebentar.. Aku akan menghubungi dokter!" ucap Zean. Ellina mengangguk pasrah.
Dan secepat kilat lelaki itu bergegas keluar kamar mengambil ponselnya yang tersimpan diatas meja makan.
Sambil menunggu dokter datang Zean memberikan Ellina segelas air putih lalu mengompres perutnya dengan handuk kecil yang sudah direndam air hangat agar gadis itu merasa lebih baik.
Awalnya Ellina menolak ketika Zean menyuruhnya mengangkat sedikit bajunya keatas.
Tentu alasannya karena ia merasa takut pada lelaki itu. Takut kalau-kalau Zean mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Zean yang mengerti ketakutan Ellina berusaha meyakinkan gadis itu bahwa dia tidak akan macam-macam.
Niatnya murni untuk memberinya pertolongan. Dan akhirnya setelah diberi pengertian Ellina pun pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Zean. Toh mereka juga sudah sah menjadi suami istri.
Saat sedang mengompres Zean terpaku. Gerakan tangannya seketika terhenti dan bola matanya menatap perut Ellina lekat-lekat.
Entah kenapa tiba-tiba Zean merasakan gelenyar aneh dihatinya. Rasanya begitu dekat dan hangat.
__ADS_1
Ellina yang menyadari hal tersebut jelas merasa risih dan canggung. Secara perlahan ia menurunkan bajunya hingga lamunan Zean buyar.
"Ekhm, maaf! Aku..."
Ting Tong
Ting Tong
Baru saja ingin menjelaskan sesuatu pada Ellina agar tidak salah paham, tiba-tiba bell interkom apartemen Zean berbunyi.
Zean dan Ellina sama-sama menoleh kearah pintu. Namun sepersekian detik Zean menolehkan pandangannya pada Ellina. Keduanya saling menatap.
"Itu pasti dokternya. Aku akan membuka pintunya dulu!" Zean langsung menaruh handuk kecil yang dipakainya tadi kedalam wadah kompresan.
Secepat kilat ia melesat keluar untuk membukakan pintu.
******
Setelah dokter selesai memeriksa Ellina, akhirnya Zean bisa bernafas lega.
Dokter mengatakan bahwa kandungan Ellina baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Pasalnya gadis itu hanya mengalami kram perut yang biasa terjadi pada ibu hamil saat memasuki trimester pertama.
Zean mengangguk mengerti mencoba memahami apa yang dikatakan oleh sang dokter.
Bahkan dokter tersebut menyarankan agar Ellina jangan sampai mengalami stress karena itu akan sangat mempengaruhi kondisi kehamilannya.
Sering stres saat hamil dapat membuat ibu hamil rentan mengalami depresi.
Selain itu, stres berat saat hamil juga bisa mengganggu tumbuh kembang janin dan meningkatkan risiko terlahir prematur atau lahir dengan berat badan rendah.
Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari stres berlebih saat hamil, termasuk saat hamil muda.
Stres dapat dihindari dengan melakukan berbagai hal yang Bumil senangi.
Misal melakukan meditasi dan yoga, bercerita dengan pasangan atau keluarga terdekat, dan memperbanyak waktu istirahat.
Sejenak Zean terdiam. Ia jadi teringat pembahasannya tadi dimeja makan dengan Ellina sebelum gadis itu kesakitan.
Ia jadi berpikir mungkin sebaiknya ia tidak membicarakan soal kesepakatan itu dulu mengingat kehamilan Ellina yang masih sangat rentan.
Zean takut Ellina akan mengalami depresi yang akan berakibat fatal pada tumbuh kembang janin mereka.
__ADS_1
Setelah dokter memberikan resep untuk Ellina, dokter itu segera pamit undur diri.
Tinggalah dua pengantin baru yang satu jam lalu sempat bersitegang. Kini mereka saling terdiam menyelami pikiran masing-masing.
Perlahan Zean duduk ditepi ranjang disamping tubuh Ellina. Entah kenapa semenjak ia menyentuh perut gadis itu perasaannya menjadi berdebar-debar.
Rasanya Zean ingin selalu dekat.
Bukan karena nafsu, melainkan sesuatu yang sangat sulit dijelaskan oleh kata-kata.
Ellina yang tampak terkejut dengan posisi Zean disampingnya, sedikit menggeser tubuhnya menjauhi lelaki itu.
Ia langsung memalingkan wajahnya kesamping. Kedua tangannya diatas perut saling memeluk. Seolah-olah Ellina sedang melindungi janinnya. Jelas rasa kesalnya pada Zean belum sepenuhnya hilang.
Bisa-bisanya lelaki itu ingin membawa bayinya dan menukarnya dengan uang!
Sungguh ide yang sangat gila. Dan sampai kapanpun dia tidak akan menyetujuinya!
Seolah tahu apa yang ditakutkan Ellina, Zean menatap gadis itu lekat-lekat.
Perlahan tangannya terulur membenahi sulur rambut Ellina yang sedikit berantakan. Tentu tindakan tersebut membuat Ellina terperangah.
Dengan refleks gadis itu menghindari jemari tangan Zean.
"Kau mau apa?!" tanya Ellina was-was.
"Maaf!" lirih Zean.
Ellina mengerutkan keningnya.
"Untuk apa kau minta maaf?! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerahkan bayi ini! Aku tidak akan menukarnya dengan uang!" ucap Ellina lantang.
"Ya, untuk itu aku minta maaf padamu! Kita lupakan kesepakatan itu! Aku tidak ingin kau stress dan berdampak pada pertumbuhan janinnya." ucap Zean. Kata-katanya terdengar tulus.
Sesaat Ellina terdiam. Ia menatap Zean begitu tajam.
"Tapi aku ingin kita tetap bercerai! Dan aku akan membawa anak ini bersamaku!" ucap Ellina tegas.
.
.
Bersambung...
__ADS_1