
"Pakailah ini!" Devan menyodorkan sebuah jaket kehadapan Ellina.
Ellina yang menggigil kedinginan karena pakaiannya juga basah kuyup diguyur hujan menatap jaket dan wajah Devan secara bergantian dengan tatapan waspada. Saat ini keduanya sedang berada didalam mobil Devan.
Awalnya Ellina ingin menolak ajakan Devan untuk naik ke mobil lelaki itu karena tak ingin kejadian beberapa bulan lalu dimana Zean memergoki mereka yang tanpa sengaja bertemu ditaman kota dan malah berujung salah paham kembali terulang.
Namun setelah berpikir panjang dan meyakinkan diri bahwa Zean tak mungkin mencarinya ketaman itu, akhirnya dengan terpaksa Ellina pun menerima tawaran Devan.
Ya terpaksa, mengingat saat ini suasana taman begitu sepi dan sama sekali tak ada kendaraan umum yang lewat akibat hujan lebat yang masih melanda hingga Ellina tak punya pilihan lain selain menumpang pada mobil Devan berharap lelaki itu mau mengantarkannya ke tempat sahabatnya, Tiara.
Melihat Ellina yang hanya diam saja seraya menatapnya penuh curiga, Devan pun tak bisa menyembunyikan senyum ironi dibibirnya.
"Kumohon jangan menatapku seperti itu nona Ellina! Apa dimatamu aku terlihat seperti seorang penjahat?"
Ellina menelan ludahnya dengan susah sembari memalingkan wajahnya kearah lain. Merasa tidak enak dengan sikapnya yang tanpa sengaja sudah menyinggung lelaki itu. Padahal Devan sudah berbaik hati menawarkan tumpangan padanya.
Ya, walaupun dia tahu bagaimana buruknya hubungan Devan dengan Zean, akan tetapi Devan tak memiliki masalah langsung dengannya. Tugasnya hanya bersikap waspada tanpa harus memusuhi.
"Ma-maaf." akhirnya hanya satu kata itu yang mampu Ellina ucapkan untuk menyelamatkan rasa malunya dihadapan Devan.
Devan tersenyum lebar, merasa gemas dengan sikap Ellina yang terlihat salah tingkah.
Namun dibalik senyumnya itu Devan merasa yakin bahwa Zean pasti sudah menceritakan semua permasalahan diantara mereka kepada Ellina melihat dari sikap perempuan ini yang tak ramah diawal perjumpaan dan juga seolah menjaga jarak darinya.
"Tidak apa-apa. Sekarang ambil dan pakailah ini! Setidaknya jaket ini bisa sedikit membantumu untuk mengurangi rasa dingin dari luar."
Ellina kembali menoleh ke arah Devan, namun ekspresinya masih tampak ragu.
"Jika aku memakai jaketmu, kau memakai apa? Sedangkan pakaianmu juga basah." tanya Ellina dibalik giginya yang bergemeletuk menahan dingin.
Lagi Devan tersenyum. Ada rasa haru menyeruak kedalam relung hatinya saat mendapat perhatian kecil dari wanita yang ia cintai dalam diam.
"Tidak perlu mengkhawatirkanku. Selama ini aku sudah terbiasa menahan hawa dingin. Bahkan bisa dibilang rasa dingin itu sudah merasuk sampai kedalam sini hingga membentuk sebuah es sebelum akhirnya sedikit demi sedikit mencair karena tersentuh oleh kelembutan seseorang." ucap Devan sembari memegangi dada kirinya dan menatap Ellina lekat.
Sejenak keduanya saling memandang dalam hening. Namun sepersekian detik kemudian Ellina langsung berdehem menetralkan suasana yang mulai terasa canggung baginya.
"Aku akan memakainya, terimakasih!" ucap Ellina memutus obrolan mereka. Perempuan itu mengambil jaket dari tangan Devan lalu memakainya didepan tubuhnya.
"Maaf!" tiba-tiba Devan kembali berucap membuat Ellina sontak kembali menoleh ke arah lelaki itu dan menatapnya dengan bingung.
"Ya?"
"Maaf karena hari itu aku sudah membuatmu dalam masalah dan tak bisa menolongmu. Sungguh aku benar-benar tidak tahu kalau kau ternyata adalah istri..."
"Tidak apa-apa! Tidak perlu dibahas. Aku sudah melupakannya." potong Ellina cepat. Sungguh saat ini dia tidak mau membahas apapun tentang Zean.
Sebab kenangan buruk hari itu dimana dia nyaris keguguran masih membekas dihatinya ditambah dengan pengkhianatan yang baru saja dilakukan Zean terhadapnya.
__ADS_1
Melihat ekspresi Ellina yang tampak menahan kesedihan disana, Devan akhirnya memilih tak mengungkit masalah itu.
"Baiklah, kalau begitu sekarang aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tidak ingin pulang!" lagi-lagi Ellina memotong ucapan Devan.
"Apa?" kali ini Devan yang menatap Ellina dengan bingung.
"Ehm... Maksudku, aku, aku tadi sedang menunggu saudariku ditaman ini, kami memiliki janji untuk bertemu tapi setelah cukup lama menunggu dia tidak datang juga. Dan aku merasa khawatir dengannya sebab ponselnya tidak bisa dihubungi, jadi ...bisakah kau mengantarkanku ketempatnya?" Ellina terpaksa berbohong sebab dia tidak ingin jika sampai Devan tahu masalahnya dengan Zean.
"Tapi kau kedinginan Ellina. Semua pakaianmu basah. Bagaimana kalau nanti kau..."
"Aku bisa meminjam baju saudariku! Dia pasti akan meminjamkannya untukku. Aku mohon tolong antarkan aku ketempatnya. Tapi jika kau tidak bisa tidak apa-apa. Aku akan keluar dari sini dan menunggu taksi saja." putus Ellina hingga membuat Devan menghela napas berat.
"Ternyata kau ini sungguh keras kepala. Tapi baiklah aku akan mengantarmu ketempat saudarimu itu!" jawab Devan.
Ellina tersenyum simpul.
"Sekali lagi terimakasih."
Devan mengangguk seraya membalas senyuman Ellina.
"Ya, sama-sama."
*
*
Devan membuka seat belt lalu menoleh kearah Ellina. Tampak wanita disampingnya itu tengah tertidur pulas hingga membuat Devan tak tahan untuk tidak tersenyum.
Lantas kemudian Devan memajukan tubuhnya mendekati Ellina. Ditatapnya wanita cantik yang sudah mencuri hatinya itu lekat-lekat dan Devan baru tersadar bahwa wajah Ellina tampak sembab.
Apa dia habis menangis?
Perlahan Devan mengulurkan tangannya hendak mengusap pipi Ellina. Namun urung ia lakukan karena tak ingin membuat Ellina marah dan mencapnya sebagai lelaki kurang ajar. Hingga akhirnya Devan menarik kembali tangannya dan duduk ditempatnya semula.
"Ellina, kita sudah sampai!" ucap Devan mencoba membangunkan Ellina. Akan tetapi panggilan Devan sama sekali tak mendapat respon dari Ellina.
Bahkan sampai ketiga kalinya Devan memanggil dengan suara sedikit keras Ellina tak kunjung membuka mata. Akhirnya lelaki itu menyentuh bahu Ellina lalu menggoyangkannya perlahan.
"Ellina! Ellina! Bangun kita sudah sampai." panggil Devan.
Namun hasilnya nihil Ellina tak juga terbangun. Devan pun memberanikan diri menyentuhkan punggung tangannya ke pipi Ellina namun sedetik kemudian netranya melebar saat merasakan kulitnya seperti terbakar.
"Astaga! Kenapa tubuhnya panas sekali!" pekik Devan kaget. Dia pun kembali menggulirkan lengannya ke dahi perempuan itu untuk memeriksa dan seketika Devan menyadari bahwa Ellina mengalami demam.
"Aku harus segera membawanya ke dokter!"
__ADS_1
Secepat kilat Devan pun memasang kembali seat beltnya dan segera berlalu meninggalkan tempat Tiara.
*
*
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Devan dengan cemas.
Alih-alih memanggil dokter namun Devan tak membawa Ellina kerumah sakit melainkan membawanya keapartemen pribadinya.
Kini lelaki itu sudah berganti pakaian begitu pun dengan Ellina yang saat ini sedang terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, istri anda hanya demam biasa. Sepertinya dia kelelahan dan kurang tidur hingga membuat daya tahan tubuhnya menurun dan mudah terserang virus. Apalagi saat ini istri anda sedang hamil. Saya akan meresepkan obat penurun demam yang aman untuknya. Segera setelah dia sadarkan diri minumkan obat tersebut padanya." jelas dokter panjang lebar.
Devan mengangguk tanpa ingin membantah. Dalam hati ada rasa senang ketika dokter menyebut Ellina sebagai istrinya.
"Baik dok, saya mengerti. Terimakasih!"
Setelah kepergian sang dokter tanpa membuang waktu Devan segera menyuruh pelayan yang selalu membersihkan apartemennya untuk menebus obat di apotek.
Kini tinggallah Devan dan Ellina berdua didalam kamar. Devan duduk ditepi ranjang sembari mengompres Ellina dengan telaten.
"Seandainya kau benar-benar istriku, aku akan lebih senang lagi merawatmu dalam keadaan seperti ini Ellina."
Devan mengangsurkan ibu jarinya mengusap lembut wajah Ellina lalu entah dorongan darimana lelaki itu berniat mengecup bibir Ellina yang terkatup rapat.
Sial! Kau benar-benar bajingan Devan! Tidak seharusnya kau mencuri kesempatan disaat dia tak berdaya seperti ini!
Devan langsung menjauhkan dirinya dari Ellina seraya mengusap wajah kasar. Lelaki itu pun bangkit dari ranjang dan berniat keluar kamar untuk menenangkan diri.
Namun baru selangkah Devan berjalan tiba-tiba telinganya mendengar isak tangis dari bibir Ellina hingga refleks dia berbalik dan menatap wanita itu.
"Kenapa kau mengkhianatiku Zean?! Kenapa?!" Ellina bergumam lirih dengan netra terpejam. Bahkan air matanya mengalir begitu saja dikedua sudut matanya.
Mendengar Ellina mengigau seperti itu, seketika tubuh Devan membeku.
Apa maksudnya??
Saat Devan hendak mencoba menenangkan wanita itu, tiba-tiba dering ponsel dari tas Ellina yang tersimpan diatas nakas mengalihkan perhatiannya.
Devan menatap tas dan wajah Ellina secara bergantian. Lalu dengan ragu ia membuka tas Ellina dan mengambil ponselnya. Tampak id si penelepon bertengger disana dengan nama 'suamiku' yang sudah pasti itu adalah Zean.
Devan tersenyum sinis. Kemudian tanpa ragu dia pun mengangkat telepon dari lelaki yang menjadi rivalnya itu.
"Halo! Selamat sore Tuan Zean! Apa ada yang bisa ku bantu?"
.
__ADS_1
.