
Suara Ellina tercekat ditenggorokkan bersamaan dengan tubuhnya yang sedikit limbung kebelakang ketika melihat pemandangan tak terduga didepan matanya.
Tidak disangkanya kedatangannya kekantor Zean untuk memberi kejutan pada lelaki itu justru malah berujung dirinya yang dibuat terkejut.
Zean bersama Lyora?! Mereka berciuman?! Jadi ini kesibukan yang Zean maksud?!
Kedua tangan Ellina mengepal erat, sementara dadanya bergemuruh dipenuhi oleh rasa sakit tak terperi lantaran merasa dibohongi.
Zean mengkhianatinya?! Kenapa? Apa salahnya?! Dan sejak kapan keduanya kembali menjalin hubungan?!
Ellina menatap Zean dan Lyora secara bergantian. Netranya yang dipenuhi oleh tanda tanya berbalut kekecewaan seketika mulai memanas.
Sekuat tenaga perempuan itu berusaha mengendalikan diri dengan menggigit bibirnya agar tak sampai bertindak impulsif yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri mengingat saat ini dirinya tengah hamil.
Meskipun rasanya ingin sekali Ellina merangsek maju dan mengamuk kepada kedua manusia tak berperasaan itu karena telah berani bermain api dibelakangnya.
"Maaf, sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat. Kalian ...kalian pasti sangat sibuk. Lanjutkanlah! Aku akan pergi!" tuturnya dengan suara bergetar.
Setelah mengatakan itu Ellina langsung membalikkan tubuh dan didetik itu juga air matanya luruh tak terbendung.
Kau benar-benar jahat Zean! Kau jahat! Sebenarnya apa salahku sehingga kau melakukan semua ini padaku?!
Sesaat Ellina bergeming merasakan sesak didada. Namun tak lama perempuan itu berusaha tegar dengan menghapus air matanya lalu lekas beranjak meninggalkan ruangan Zean dengan hati luar biasa pedih.
Disisi lain Zean yang baru tersadar dari rasa terkejutnya atas kedatangan Ellina yang tiba-tiba tampak mengerjapkan mata begitu melihat wanitanya hendak kembali pergi.
Tak ingin Ellina salah paham, Zean pun berusaha mengejar wanita itu.
"Ellina tunggu! Ini tidak seperti yang kau lihat!" teriak Zean.
Tak Zean pedulikan tatapan penuh tanda tanya yang dilemparkan beberapa karyawannya yang ada diluar ruangan terhadapnya. Fokusnya saat ini hanya pada Ellina.
Sayangnya Ellina tak menghiraukan panggilan Zean. Perempuan itu malah semakin mempercepat langkahnya menuju lift.
"Ellina! Aku bilang tunggu! Aku bisa jelaskan semuanya!"
Zean berseru keras ketika dia berhasil mencekal pergelangan tangan Ellina. Namun tanpa diduga Ellina menepis cekalan tangan Zean dengan kasar lalu mendaratkan sebuah tamparan diwajah suaminya itu.
Plak!
__ADS_1
Suara tamparan membahana. Semua orang yang ada dilantai yang sama dengan Zean begitu terkejut melihat pemandangan tak terduga itu. Begitu pun dengan Lyora yang mengejar Zean keluar ruangan.
Mereka tampak mematung seolah tak percaya jika seorang Zean Arion Wijaya, atasan mereka sekaligus pemilik perusahaan Royal Group yang terkenal angkuh dan sombong akan mendapatkan tamparan dari seorang wanita tak dikenal.
Ya tak dikenal, karena dulu Ellina memang belum lama bekerja diperusahaan Zean, sehingga yang mengenalnya hanya beberapa orang saja dan itu pun hanya sebatas teman sejawatnya sesama cleaning service.
Sejenak Zean bergeming. Ini pertama kalinya dirinya ditampar oleh seorang wanita, didepan umum pula! Tentu hal itu mengkoyak harga dirinya sebagai seorang lelaki sekaligus pemimpin perusahaan.
Tetapi Zean sadar bahwa dirinya memang bersalah dan dia pantas menerima itu. Hingga Zean memutuskan tak akan membalas apapun yang ingin Ellina lakukan padanya.
"Tidak perlu menjelaskan apapun padaku Zean. Aku sudah melihat semuanya! Silahkan lanjutkan! Tidak usah memikirkan diriku. Kau pasti sangat merindukannya bukan? Maaf jika kedatanganku mengganggu kegiatan kalian!" Ellina menekankan ujung kalimatnya dengan nada getir. Sementara air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.
Lalu perempuan itu melirik sekilas kearah Lyora yang berdiri tak jauh dari punggung Zean. Tatapan keduanya saling bertemu. Namun segera Ellina memutusnya dan mengalihkan kembali perhatiannya kepada sang suami.
"Kekasihmu sudah menunggu. Kembalilah padanya dan jangan coba mengejarku lagi, karena aku tidak sudi dikejar oleh seorang pengkhianat sepertimu!"
Deg!
Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Tak membuang waktu Ellina segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kotak besi itu, meninggalkan Zean yang masih termangu.
"Ellina!" teriak Zean ketika pintu lift baru saja tertutup. Lelaki itu berusaha menggedor-gedor pintu lift seraya menekan tombol buka dengan frustasi.
Menyadari bahwa upayanya sia-sia, Zean segera melesat kembali keruangannya untuk mengambil kunci mobil.
"Kau mau kemana Zean?! Biarkan saja Ellina pergi, dia pasti butuh waktu untuk menyendiri!" ucap Lyora dengan tak tahu malu.
Sontak perkataan Lyora membuat Zean semakin meradang hingga tanpa sadar lelaki itu mencengkram leher Lyora dengan satu tangannya dan mendorongnya kedinding.
"Semua ini gara-gara kau Lyora! Untuk apa kau melakukan hal serendah itu, ha?! Sudah kubilang menjauh dariku! Kenapa kau tidak mengerti juga?!" bentak Zean.
Netra Lyora membelalak lebar ketika Zean semakin mencekik lehernya seolah ingin meremukannya tanpa ampun.
"Ze-zean! Le-lep-pas-kan!" pinta Lyora dengan suara tercekat. Wajah wanita itu tampak memucat. Tangannya bergerak menahan tangan Zean. Sayangnya Zean yang dikuasai amarah tak mengindahkan permintaan Lyora.
Beruntung David yang baru saja menyelesaikan makan siangnya datang tepat waktu. Lelaki itu nampak terkejut ketika melihat apa yang dilakukan atasannya pada Lyora.
"Tuan! Apa yang anda lakukan?! Anda bisa membunuhnya!" seru David.
Lelaki itu mencoba menarik tubuh Zean dari Lyora dibantu oleh beberapa karyawan laki-laki lainnya yang awalnya hanya menjadi penonton.
__ADS_1
Tak berselang lama usaha David berhasil. Cengkraman Zean terlepas dari Lyora hingga wanita itu terbatuk dan jatuh terduduk diatas lantai dengan kondisi menyedihkan.
Namun hal itu sama sekali tak membuat Zean merasa iba.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku Lyora! Seharusnya aku tidak melunakkan diriku sedikitpun terhadapmu! Jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Ellina dan calon anakku maka aku bersumpah, kau akan membayarnya dengan nyawamu!" geram Zean seraya menunjuk wanita itu.
Sontak Lyora menengadahkan kepalanya seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Zean barusan. Zean benar-benar murka kepadanya.
"Sekarang kemasi barang-barangmu dan berikan surat pengunduran dirimu pada David! Jika tidak, aku akan memecatmu secara tidak hormat dan kupastikan kau tidak akan diterima perusahaan manapun hingga kau akan menangisi nasibmu yang menyedihkan! Ingat itu baik-baik!"
Setelah meluapkan emosinya Zean pun segera berlalu meninggalkan gedung untuk mengejar Ellina.
Sementara karyawan lain langsung menghambur kearah Lyora untuk membantunya. Wanita itu tampak memegangi lehernya sambil menangis.
"Sebenarnya apa yang terjadi Lyora?! Apa yang kau lakukan sampai-sampai Tuan Zean begitu marah padamu?" tanya David penasaran.
Sebab setahu David tuannya tidak akan mungkin bertindak sejauh ini jika tidak diusik sampai pada batas kesabarannya. David cukup lama mengenal Zean dengan menjadi sekretaris lelaki itu. Dan dia tentu tahu bahwa Zean memiliki tempramen yang sangat buruk.
Lyora hanya bergeming seolah enggan menjawab pertanyaan David. Saat ini pikirannya benar-benar kacau.
Awalnya wanita itu hanya ingin mencari tahu kenapa beberapa hari ini Zean menghindarinya.
Ya, sejak kejadian malam itu, Zean seolah menjaga jarak dari Lyora. Dan hal itu membuat Lyora kalang kabut. Perasaannya semakin tak terkontrol hingga ia nekat menemui Zean diruangannya.
Dan ternyata dugaannya benar. Ketika Lyora bertanya pada lelaki itu apa yang membuatnya menjauh, Zean menjawab bahwa dia melakukan itu demi menjaga perasaan Ellina. Tentu Lyora tak bisa menerimanya begitu saja.
Disaat mereka belum selesai bicara dan Zean hendak berlalu meninggalkannya, dengan nekat Lyora menarik lengan Zean dan mencium lelaki itu tanpa peringatan agar Zean sadar bahwa rasa cintanya pada lelaki itu belum sirna.
Sialnya perbuatan mereka dipergoki oleh Ellina. Jelas hal itu adalah malapetaka bagi Zean, namun tidak bagi Lyora.
Dalam hati wanita itu merasa puas karena akhirnya Ellina tahu hubungannya dengan Zean, meskipun sebenarnya tidak ada yang spesial diantara mereka.
Merasa diatas angin, Lyora mencoba peruntungannya lagi dengan mencegah kepergian Zean untuk mengejar Ellina, berharap lelaki itu mendengarkannya.
Naasnya sikap Lyora malah memancing kemurkaan Zean. Dan kini dia harus menerima konsekuensinya.
Akan tetapi bukan Lyora namanya jika wanita itu menyerah begitu saja. Zean adalah pancang hidupnya. Dia sudah bersumpah akan merebut kembali lelaki itu dari Ellina. Tentu Lyora akan merealisasikannya.
Zean, kau sudah mempermalukanku didepan umum, maka jangan salahkan aku jika nanti aku melakukan hal yang sama kepadamu! Ya, aku akan melakukan itu jika kau menolakku dan lebih memilih Ellina.
__ADS_1
.
.