Painful Love Story

Painful Love Story
Tidak Menyangka


__ADS_3

Melihat Devan yang begitu akrab dengan Tuan Wildan, jelas membuat batin Lyora bertanya-tanya.


Jika Zean dan Devan adalah rival bisnis, seharusnya Tuan Wildan dan Devan tidak seakrab itu bukan?


Rasa penasaran Lyora pun semakin menjadi. Ia berniat mencari tahu tentang hubungan keduanya.


Dengan cepat Lyora mencari tempat duduk yang aman dan terjangkau supaya bisa mendengar percakapan kedua pria berbeda generasi itu. Ia bahkan sampai menutup wajahnya dengan buku menu supaya keberadaannya tidak diketahui oleh mereka.


"Maaf sudah membuat anda menunggu Tuan!" ucap Devan seraya membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


"Tidak masalah. Duduklah!" titah Tuan Wildan.


"Terimakasih Tuan!"


Devan menarik kursi yang ada dihadapan Tuan Wildan lalu mendudukinya.


"Ambil ini!" tanpa basa-basi Tuan Wildan menyodorkan sebuah map kehadapan Devan yang berisikan dokumen penting didalamnya "Sesuai dengan janjiku, aku akan memberikan salah satu anak cabang perusahaanku di Singapore sebagai bonus jika tugasmu berhasil."


Devan meraih map tersebut sembari tersenyum. Lalu mulai membuka dan membacanya dengan seksama.


"Terimakasih Tuan! Saya tidak menyangka anda begitu baik. Sekali lagi terimakasih." puji Devan setelah selesai membaca dan memasukkan kembali dokumen pengalihan nama kepemilikian perusahaan itu kedalam map.


Tuan Wildan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi.


Disisi lain Lyora yang masih belum mengerti terus memperhatikan percakapan keduanya dengan intens.


"Urusan kita sudah selesai. Aku harap kita tidak bertemu lagi." ucap Tuan Wildan.


"Baik Tuan! Saya mengerti!"


Tampak Tuan Wildan menghela napas panjang.


"Jika tahu akan semudah ini, seharusnya dari dulu saja aku memintamu untuk menjebak perempuan itu supaya cucuku meninggalkannya. Dengan begitu aku tidak perlu berpura-pura menerima Lyora dihadapan Zean selama tiga tahun ini."

__ADS_1


Duarrr


Seketika buku menu yang dipegang Lyora jatuh keatas meja.


Lyora tampak begitu terkejut dan shock ketika mendengar perkataan Tuan Wildan. Ia tidak menyangka, jika ternyata Tuan Wildan-lah dalang dibalik hancurnya hubungannya bersama Zean.


Tidak! Ini tidak mungkin!


Dengan perasaan hancur Lyora segera bangkit dari duduknya dan menghampiri meja Tuan Wildan.


Ia ingin tahu mengapa kakek dari mantan kekasihnya itu sampai hati melakukan hal sepicik itu padanya.


"Jadi semua masalah yang terjadi padaku dan Zean karena perbuatan anda Tuan?"


Deg.


Sontak Tuan Wildan dan Devan menoleh keasal suara.


"Kau?!" pekik Tuan Wildan dan Devan secara bersamaan. Bahkan saking terkejutnya keduanya langsung beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing.


"Sedang apa kau disini?!" tanya Devan gugup.


Lyora tersenyum getir lalu menatap Devan dengan sinis.


"Kenapa? Kau terkejut?" jawab Lyora dengan balik bertanya. "Aku tidak menyangka ternyata kau dan Tuan Wildan saling mengenal. Bahkan sampai hati kalian bekerja sama untuk menjebakku!" ucap Lyora seraya menatap Devan dan Tuan Wildan secara bergantian. Tatapannya menyiratkan amarah dan luka.


"Kenapa Tuan? Kenapa anda tega melakukan hal serendah ini padaku dan Zean?! Bukankah anda tahu bahwa aku dan Zean saling mencintai?!" lirih Lyora.


Jika biasanya Lyora memanggil Tuan Wildan dengan sebutan Kakek, namun untuk kali ini tidak. Setelah dia mendengar semua kebenarannya.


Tuan Wildan yang awalnya sempat terkejut kini tersenyum sinis kearah Lyora.


"Saling mencintai?" cibir Tuan Wildan. "Omong kosong!" sambungnya tanpa perasaan.

__ADS_1


"Aku tahu kau hanya menginginkan harta cucuku untuk menjamin kehidupanmu supaya kau bisa hidup enak layaknya seorang ratu bukan? Lalu setelah kau mendapatkan segalanya, kau akan meninggalkan Zean begitu saja. Aku tahu niat orang-orang sepertimu Lyora."


Deg.


"Apa yang anda katakan Tuan?! Meninggalkan Zean?? Kenapa pikiran anda begitu sempit dan kotor Tuan?! Asal anda tahu, selama aku berhubungan dengan Zean sedikitpun aku tidak pernah menginginkan...."


"Cukup!" Tuan Wildan mengangkat jari telunjuknya hingga membuat Lyora tidak melanjutkan kata-katanya.


"Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulutmu! Yang aku tahu hubunganmu dan Zean sudah berakhir. Jadi akan lebih baik jika kau mencari pria lain. Lupakan Zean dan jangan pernah lagi hadir didalam kehidupan keluarga kami, mengerti!" tegas Tuan Wildan.


Lelaki tua itu segera mengambil tongkatnya dan bergegas meninggalkan cafe. Namun tiba-tiba perkataan Lyora menghentikan langkahnya.


"Anda sangat keterlaluan Tuan! Apa anda pikir setelah aku mengetahui semuanya aku akan diam saja? Tidak Tuan. Aku pasti akan mengadukan apa yang aku dengar barusan kepada Zean. Dia harus tahu bahwa Kakek-nyalah dalang dibalik hancurnya hubungan kami!" ucap Lyora dengan nada berapi-api.


Sontak Tuan Wildan pun berbalik lalu menatap Lyora dengan tajam.


"Silahkan saja jika kau ingin mengadukanku padanya. Lakukan apa yang kau mau. Karena aku tahu, kau tidak memiliki bukti apapun untuk diberikan pada Zean. Dan aku sangat yakin, bukannya mempercayaimu tetapi Zean akan berbalik semakin membencimu, karena kau telah memfitnah Kakeknya."


Deg.


Lyora terhenyak mendengar jawaban Tuan Wildan. Ia baru sadar bahwa dia tidak memiliki bukti apapun.


Tuan Wildan menyeringai puas melihat kebingungan di wajah Lyora. Begitu pun dengan Devan. Lelaki itu menatap Lyora dengan pongah.


"Kenapa kau diam?! Bukankah tadi kau ingin melaporkan kami pada Zean? Pergilah! Aku ingin lihat bagaimana reaksi Zean setelah kau mengatakan rahasia kami padanya." ucap Devan dengan nada mengejek yang kental.


Lyora mengepalkan erat tangannya. Tanpa berkata lagi ia segera pergi meninggalkan cafe dengan hati yang begitu sakit.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2