
"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Andita sembari mengambil gelas teh dari tangan Ellina. Menaruh gelas itu dinakas kemudian memijat lembut pundak menantunya.
Saat ini Ellina sudah berganti pakaian dan duduk bersandar pada dipan. Begitu pun dengan Zean. Lelaki itu kini sudah rapi dengan pakaian barunya dan tengah duduk di sofa sambil memperhatikan interaksi kedua wanita dihadapannya dengan raut kesal.
Bagaimana tidak kesal jika melihat sang ibu begitu menyayangi Ellina?
Barusan ketika Zean selesai membantu Ellina, lelaki itu segera turun kebawah dengan tergesa-gesa dan meminta pelayan supaya membuatkan teh hangat untuk Ellina. Alhasil seluruh anggota keluarga yang sedang sarapan pun bertanya-tanya pada lelaki itu tentang apa yang terjadi dan Zean pun menceritakannya. Hingga Andita yang khawatir memutuskan menemui Ellina.
Dengan perasaan tidak enak hati Ellina mengangguk pelan.
"Sudah Bu."
"Syukurlah. Sekarang makanlah bubur ini. Bubur ini Ibu buat khusus untukmu." ucap Andita
"Kau yakin dengan keputusanmu Zean?! Kenapa harus terburu-buru? Apa dia yang memintanya?!" tanya Tuan Wildan menatap tajam kearah Ellina.
"Tidak Kek! Ini murni keputusanku. Tidak ada sangkut pautnya dengan Ellina. Aku hanya ingin hidup mandiri."
Zean mencoba meyakinkan sang kakek sambil menatap satu persatu wajah keluarganya.
Siang ini Zean sengaja mengumpulkan semua anggota keluarga untuk membahas rencana kepindahannya bersama Ellina dari kediaman Tuan Wildan.
Tentu rencana dadakannya itu membuat kakek, nenek beserta ayah, dan ibunya terkejut. Begitu pun dengan Ellina yang sama sekali tidak diberi tahu sebelumnya.
Tidak seperti Tuan Wildan yang berpikir negatif, Andita dan Zidan justru senang mendengar keputusan Zean. Sebab mereka tidak ingin jika rumah tangga putranya direcoki oleh sang ayah.
__ADS_1
"Tapi kenapa dadakan sekali nak? Kalian bisa tinggal disini sampai istrimu melahirkan. Ditambah lagi disini ada kami yang akan menjaga Ellina dan memantau perkembangan calon buah hati kalian. Nenek harap kalian tidak terburu-buru untuk pindah!" ucap Nyonya Liyana.
Seketika wajah Zean menegang. Justru saat-saat Ellina melahirkanlah yang Zean tunggu karena setelahnya dia akan menceraikan perempuan itu.
Zean pun berpikir keras mencari alasan supaya sang nenek mengizinkannya untuk pindah.
"Nek, kami hanya akan pindah ke apartemenku, masih dikota yang sama. Jika kalian berkenan kalian juga boleh datang mengunjungi kami untuk memantau perkembangan kehamilan Ellina. Benarkan Ellina?" ucap Zean sembari meremas tangan Ellina dan menatapnya dengan tatapan intimidasi.
Mendapat tatapan seperti itu tentu saja Ellina hanya bisa pasrah dengan menganggukkan kepala.
"B-benar Nek. Kalian bisa datang mengunjungi kami." jawab Ellina.
Melihat cucu dan cucu menantunya yang kompak akhirnya Nyonya Liyana pun tidak bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal.
"Tentu saja Nek. Aku akan menjaganya dengan baik." jawab Ellina.
******
Dalam perjalanan menuju apartemen pribadi Zean, kedua pengantin baru itu tampak saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tentu saja Ellina tak berani bicara sepatah katapun karena ia sangat tahu bagaimana karakter lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
Hingga tak terasa mobil yang dikendarai Zean sudah memasuki bassement apartemen. Setelah memarkirkan mobil, keduanya segera turun dengan membawa koper masing-masing.
Mereka berdua hanya membawa pakaian saja, karena apartemen Zean sudah lengkap dengan segala macam perabotan.
__ADS_1
Begitu mereka tiba didepan pintu, Zean langsung menekan kode intercom unit pribadinya.
Enam digit angka dimasukkan dan pintu otomatis terbuka. Sejenak Ellina yang masih berdiri diluar terpaku saat melihat isi didalamnya. Begitu mewah dan dipenuhi barang-barang mahal.
Setelah security pergi, Zean langsung menutup pintu dan berbalik badan. Ia menatap punggung Ellina yang tengah memperhatikan apartemennya. Lalu perlahan menghampiri gadis itu.
"Sudah puas melihatnya?!"
Sontak Ellina terperanjat kaget saat Zean berbicara tepat dibelakangnya.
Ellina segera berbalik dan tanpa sengaja ia menendang koper disamping kanannya hingga ia nyaris terjatuh kebelakang.
"Akhh!"
Beruntung Zean segera menangkap tubuh Ellina dengan posisi kedua tangannya menahan punggung dan pinggang gadis itu secara bersamaan.
Sementara tangan kanan Ellina memegang bahu Zean dan tangan kirinya mencengkram erat tangan kanan lelaki itu.
Dan untuk sesaat kedua insan itu saling menatap dalam keterkejutan.
.
.
Bersambung...
__ADS_1