
Sejak kapan Ellina mengenal Devan?
Sejak kapan mereka menjalin hubungan?
Seperti kaset rusak, pertanyaan itu terus berputar dikepala Zean. Bergabung dengan kepingan kejadian beberapa bulan lalu dimana Devan dan Lyora mengkhianatinya.
Dengan langkah lebar Zean bergegas menghampiri keduanya. Dia takkan menerima jika Ellina berkhianat.
"Singkirkan tangan kotormu dari wajah istriku BAJINGAN!"
Deg
Sontak Devan menghentikan aktifitasnya. Pandangannya menoleh kebelakang. Begitu pun dengan Ellina.
"Zean?!"
"Zean?!"
Ucap Devan dan Ellina secara bersamaan. Keduanya terhenyak ketika melihat kehadiran Zean yang tiba-tiba.
Secepat kilat Zean menarik kerah baju Devan, menjauhkannya dari Ellina.
Dan tanpa peringatan Zean langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Devan dengan keras.
Bughh
Satu pukulan berhasil mendarat, membuat Devan tersungkur diatas rerumputan.
"Shitt!" umpat Devan saat melihat darah segar keluar dari sudut bibirnya. Ia hendak bangkit untuk membalas Zean, namun Zean lebih dulu menindih tubuhnya.
"BAJINGAN! BERANINYA KAU MENYENTUH ISTRIKU!"
Bugh
Bugh
Bugh
Berulang kali Zean memukuli wajah Devan secara membabi buta. Kejadian mendadak itu membuat Ellina shock sampai ia membekap mulutnya sendiri.
"ZEAN HENTIKAN!" teriak Ellina histeris.
Pergulatan mereka jelas menjadi tontonan bagi para pengunjung.
Beberapa orang mencoba menghentikan tindakan brutal Zean dengan menahan kedua lengannya dan menarik Zean dari atas tubuh Devan.
Sedikit kesulitan lantaran tenaga Zean begitu kuat karena didominasi oleh emosi yang membuncah.
Kenzi yang melihat pamannya dipukuli habis-habisan jelas menangis. Ia menjatuhkan es krim yang dipegangnya kemudian berlari kearah Devan.
"Uncleeee!"
Bocah kecil itu menangis tergugu memeluk sang paman yang tak berdaya.
__ADS_1
"Zean! Apa yang kau lakukan?! Kau lihat? Kau membuat anak kecil itu menangis karena tindakanmu!" Ellina menatap marah pada Zean.
Zean memicingkan mata. Ia menatap Ellina dengan tatapan tak percaya. Bisa-bisanya sang istri membela bajingan itu dan meneriakinya didepan umum.
"Apa yang kulakukan?! Kau bertanya apa yang kulakukan Ellina?! Harusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan dengan bajingan itu disini ha?!" bentak Zean.
"Jadi ini alasannya kenapa kau mematikan ponselmu? Agar kau lebih leluasa menikmati waktu bersamanya iya?!"
Ellina yang mulai mengerti akar kemarahan pria itu mencoba menenangkan.
"Kau salah paham Zean?! Semua tidak seperti yang kau lihat!"
"Benarkah?! Setelah tertangkap basah, kau masih bilang ini semua salah paham?!" sela Zean.
"Lepaskan aku?!" Zean menyorot tajam kearah orang-orang yang masih memegangi tangannya.
Mereka saling pandang kemudian melepaskan Zean setelah Ellina mengatakan bahwa Zean adalah suaminya.
Zean merapihkan jasnya yang sedikit berantakan, kemudian menatap Ellina dengan sengit.
"Kita pulang sekarang!" ucapnya seraya mencengkram tangan Ellina. Sebelum beranjak pandangannya melihat kearah Devan.
"Dan kau?" tunjuk Zean pada Devan yang tengah berdiri dibantu oleh dua orang pengunjung.
"Urusan kita belum selesai!"
Setelah mengatakan itu Zean benar-benar pergi sembari menyeret Ellina dengan paksa.
Devan menatap nanar kepergian keduanya. Ia tak bisa berbuat apapun untuk menolong Ellina meski ingin.
Dan kenapa harus Zean yang menjadi suami Ellina?
Devan memejamkan mata mencoba menetralkan pergolakan batinnya.
******
Brakk.
Ellina terlonjak kaget saat Zean menutup pintu mobil dengan keras. Pria itu memutari mobil dengan tergesa-gesa lalu masuk ke arah pintu kemudi.
Pria itu benar-benar marah. Terlihat dari rahangnya yang mengeras.
Rasa kesal Ellina karena telah lama menunggu Zean ditaman berubah menjadi rasa takut dan ngeri.
Bahkan udara didalam mobil membuatnya sesak. Ia tak bisa bernafas dengan baik.
Zean melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hatinya benar-benar terbakar cemburu.
Ia tak peduli dengan pengendara lain yang membunyikan klakson karena mobilnya nyaris saja menyerempet mobil mereka.
Bahkan terkadang hilang kendali dan hampir menabrak pembatas jalan hingga membuat Ellina ketakutan. Ellina hanya mampu berdoa dalam hati supaya janin didalam perutnya baik-baik saja.
Ketika sampai diapartemen, Zean segera keluar dari mobil lalu membukakan pintu Ellina dan menarik tangan perempuan itu dengan kasar.
__ADS_1
Zean sama sekali tak menghiraukan Ellina yang merintih kesakitan karena pergelangan tangannya ia cengkram kuat. Juga ia tak peduli dengan tatapan orang-orang dilobby yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Mereka menaiki lift. Begitu tiba didepan unit dan menekan kode intercom, Zean langsung menghempaskan tubuh Ellina masuk kedalam. Lantas menutup pintu apartemen dan menguncinya.
Amarah dan sakit hati yang dibendungnya sejak tadi tak bisa lagi ia tahan.
"Sekarang katakan! Sejak kapan kau menjalin hubungan dengan bajingan itu, hah?!" teriak Zean. Menatap bengis pada Ellina seolah-olah ingin memakan wanita itu hidup-hidup.
Tampak tubuh Ellina bergetar. Diiringi dengan airmatanya yang mengalir.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Devan, Zean! Kami hanya berteman! Pertemuan kami terjadi dipusat perbelanjaan. Dia pamannya Kenzi, anak kecil yang pernah ku ceritakan padamu!" jelas Ellina sambil terisak.
"BOHONG!"
Zean meraih vas bunga yang ada diatas meja ruang tamu lalu melemparkannya dengan keras kedinding.
Praangg
Dalam sekejap vas bunga itu hancur berkeping-keping.
Ellina terperanjat kaget. Ia memejamkan mata, sambil memeluk perutnya. Perempuan itu benar-benar dilanda ketakutan luar biasa. Ellina tidak menyangka jika Zean akan semarah ini padanya.
"Aku tidak bohong Zean! Aku mengatakan yang sebenarnya!"
"Lalu kenapa dia bisa berada ditaman yang sama denganmu, hm? Sebelumnya kalian sudah janjian untuk bertemu bukan? Pantas saja kau bersikukuh ingin tamasya denganku padahal sebenarnya kau ingin bertemu dengan bajingan itu!"
Ellina menggeleng cepat sambil terus terisak.
"Itu tidak benar Zean! Aku tidak sepicik itu! Kenapa kau tidak percaya padaku?!"
"Bagaimana aku bisa percaya padamu, sedangkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa tadi dia menyentuh wajahmu! Dan jelas kau menikmatinya!" bentak Zean.
Zean berusaha keras mengontrol emosinya sembari menatap Ellina lamat-lamat.
"Apa kau lupa?! Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku benci pengkhianatan?! Dan sekarang kau malah melakukannya! Apa salahku padamu sehingga kau begitu tega mengkhianatiku Ellina?!"
Kelopak mata Zean terlihat membasah. Perasaan ini membuatnya mengingat luka lama.
"Aku berani bersumpah aku tidak mengkhianatimu Zean! Kenapa kau tidak percaya padaku?! Devan hanya membantuku meniupkan debu yang masuk kemataku tidak lebih!" suara Ellina terdengar putus asa. Ia masih berusaha meyakinkan suaminya bahwa yang dilihatnya tidaklah benar.
"Hanya katamu?! Asal kau tahu, aku paling benci jika milikku disentuh orang lain meski itu seujung kuku sekalipun! Apalagi oleh bajingan itu! Aku akan kembali menemuinya dan membuat perhitungan padanya!"
Secepat kilat Zean menarik kasar tangan Ellina, memaksanya masuk kedalam kamarnya kemudian menguncinya dari luar.
Ia takut jika ia pergi Ellina akan melarikan diri.
"Zean! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau mengurungku?! Buka pintunya!" teriak Ellina dari dalam. Seolah tuli Zean tak menggubris permintaan Ellina.
Ia segera meninggalkan apartemen untuk kembali menemui Devan.
.
.
__ADS_1
Bersambung...