Painful Love Story

Painful Love Story
Saling Mengungkapkan


__ADS_3

Ellina tertegun mendengar ucapan Zean yang ambigu.


Keduanya masih saling menatap dalam. Hingga akhirnya Ellina membuka suara setelah melepas seat beltnya.


"Maaf, jujur aku masih tidak mengerti apa maksudmu. Jika kau memintaku untuk melupakan semua kesalahanmu sebelum kita menikah, aku akan mencobanya karena akhir-akhir ini kau sudah bersikap baik padaku."


"Tapi...Untuk kalimatmu yang mengatakan jika kau ingin memulai semuanya dari awal dan tidak ingin ada orang ketiga diantara kita, bisa kau memperjelasnya?"


"Aku mencintaimu Ellina."


Tiga kata itu sukses membuat Ellina membeku. Ia menatap Zean dengan terkejut.


"Aku baru menyadari perasaanku saat kita selalu bersama. Itu sebabnya aku ingin memulai semuanya dari awal. Kita bisa membangun keluarga kecil kita yang utuh. Aku, kau dan calon anak kita."


Ellina terdiam, mencerna. Ini begitu tiba-tiba baginya.


"Zean, kau sadar dengan apa yang kau ucapkan barusan?"


"Ya, aku sangat sadar Ellina!" Zean menarik satu tangan Ellina, membawanya dalam kecupan hangat lalu menatap manik cokelat itu lekat-lekat.


"Dengarkan aku sekali lagi. Aku mencintaimu Ellina!" ucap Zean dengan tegas.


Tampak mata Ellina berkaca-kaca.


"I-ini bukan mimpi kan? Kau.. Kau mencintaiku?!" tanya Ellina memastikan.


Zean tersenyum. Ia menganggukan sedikit kepalanya sebagai jawaban.


"Ini bukan mimpi. Aku benar-benar mencintaimu!"


Jantung Ellina berdegub kencang. Ia mencoba mencari kebohongan dimata Zean. Namun yang ada hanya kejujuran.


"Jika ini bukan mimpi, boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Ellina.


"Tentu."


Ellina menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia berkata kemudian.


"Aku.. Aku juga mencintaimu Zean!" ucap Ellina dengan bibir bergetar.


Sontak Zean merasa terkejut sekaligus bahagia.


"Benarkah?"


Ellina menganggukkan kepalanya.


"Ya, aku mencintaimu!" ulang Ellina seraya menghambur memeluk tubuh Zean. Bahkan kini ia menangis dibahu lelaki itu.


Seketika senyum Zean mengembang. Ia membalas pelukan Ellina dengan erat.


"Terimakasih Ellina. Terimakasih telah memberiku kesempatan dan mencintaiku." seru Zean sembari mencium kepala Ellina bertubi-tubi.


"Mulai detik ini aku berjanji akan selalu menjaga dan berada disisimu setiap waktu. Aku akan menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang bertanggung jawab untuk calon anak kita! Aku janji padamu!" ucap Zean dengan sungguh-sungguh.


Ellina yang terharu mendengar ucapan suaminya tak bisa berkata-kata. Setelah puas mengungkapkan rasa, Zean melepas pelukan mereka dan menghapus airmata Ellina.


"Sudah malam, ayo kita pulang!" ajak Zean.


Ellina mengangguk dan memasang kembali seat beltnya.


Namun saat Zean baru akan menjalankan mobilnya ia teringat sesuatu. Lantas ia menoleh kearah Ellina.


"Ellina."


"Ya?!"


"Kau mau berjanji padaku?"

__ADS_1


"Apa?"


"Berjanjilah untuk tidak mengkhianatiku atau bermain dibelakangku. Jika kau bosan padaku kau bisa mengatakannya langsung. Aku tidak akan egois dengan memaksamu tetap disisiku sedangkan hatimu bukan lagi untukku. Aku mengatakan ini karena aku benci pengkhianatan. Aku lebih senang jika kau jujur tentang perasaanmu. Aku akan menghargainya dan melepasmu meski pun itu rasanya sakit. Kau mengerti?"


Ellina terdiam.


Ucapan Zean seketika mengingatkannya pada Zyl yang pernah menceritakan tentang Lyora, mantan kekasih suaminya itu padanya.


Jika Zean pernah dikhianati Lyora, berarti pertemuannya dengan pria itu terjadi saat Zean tengah mengalami patah hati bukan?


Dan itu artinya dirinya hanyalah sebagai pelampiasan semata.


Agak sesak memang jika mengingat kejadian lalu.


Namun bagi Ellina yang terpenting sekarang hubungan Zean dan Lyora telah berakhir. Dan kini dirinya dan Zean saling mencintai. Itu adalah takdir yang harus ia terima.


Ellina mengangguk sambil mengulurkan jari kelingkingnya kehadapan Zean. Lantas ia tersenyum.


"Aku janji, aku tidak akan pernah mengkhianatimu!"


Zean ikut tersenyum seraya menautkan kelingkingnya dijari Ellina.


"Satu hal lagi!"


"Apa?"


"Kau harus janji untuk tidak berteman dengan sembarang pria! Apalagi pria itu adalah orang asing! Aku tidak menyukainya!"


Ellina mengulum senyum. Ingatannya langsung menerawang pada sosok Devan.


"Apa kau sedang cemburu pada Unclenya Kenzi?" tanya Ellina.


"Bisa untuk tidak bertanya?! Kau hanya perlu berjanji!" tegas Zean. Ia merasa gengsi jika harus mengatakan 'iya aku cemburu'.


Jelas Ellina tertawa melihat ekspresi Zean yang kesal bercampur gengsi.


"Baiklah. Aku janji tidak akan sembarangan berteman dengan pria asing! Termasuk Uncle Kenzi. Kau puas?!"


"Tapi kau pun harus janji untuk tidak berteman dengan sembarang wanita! Ingat kau sudah memiliki istri dan akan menjadi seorang ayah!" Ellina memberi peringatan.


Zean tertawa.


"Kau tenang saja sayang! Aku tidak akan tergoda dengan wanita manapun. Aku bukan Darren yang suka tebar pesona dan senang bergonta ganti pasangan. Bagiku kau adalah yang terakhir!"


Wajah Ellina merona mendengarnya. Namun ia berusaha menyembunyikan perasaannya itu.


"Berjanjilah!" titah Ellina.


"Baik Ratuku! Aku berjanji!"


*****


Dua minggu kemudian.


Hampir setiap detik kebahagiaan menyelimuti Zean dan Ellina.


Semakin hari keduanya semakin mesra. Memang benar pepatah yang mengatakan, jika cinta tumbuh karena terbiasa bersama.


"Sayang! Kau sedang apa?" Zean menghampiri Ellina yang tengah berkutat didapur.


Memeluknya dari belakang dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Ellina hingga kebagian depan perut wanita itu. Lalu menjatuhkan kepalanya dipundak Ellina dan menghirup aroma tubuhnya yang memabukkan.


"Aku sedang menyiapkan bahan masakan sayang! Bukankah sore ini kita akan tamasya ketaman kota?" jawab Ellina mengingatkan.


Sejenak Zean terdiam.


"Hmm..sayang! Maaf! Bagaimana jika kita tunda dulu tamasyanya? Sepertinya hari ini aku akan sangat sibuk. Aku harus mengadakan rapat untuk mengevaluasi kinerja divisi yang ada di perusahaan untuk memastikan jika semuanya sudah sejalan dengan visi dan tujuan perusahaan setiap bulannya. Aku harap kau tidak keberatan, hm?"

__ADS_1


Seketika Ellina menghentikan aktivitasnya.


Ia menaruh sayuran yang ada ditangannya diatas meja dapur lantas ia berbalik hingga kini tatapannya dan Zean saling bertemu.


Zean bisa melihat gurat kesedihan dan kekecewaan dimata pujaan hatinya itu.


"Bukankah kau sudah berjanji akan selalu menemaniku setiap waktu? Bahkan aku tidak memintamu tamasya setiap hari. Aku hanya meminta hari ini saja. Temani aku! Itu pun kita tidak pergi dari pagi. Dan kau masih juga tidak bisa?" keluh Ellina.


Airmatanya hendak mendesak keluar. Entah kenapa akhir-akhir ini moodnya mudah sekali berubah-ubah.


Terkadang ia merasa bahagia, kesal, sedih secara tiba-tiba tanpa sebab.


Zean sampai pusing dibuatnya. Tapi ia mencoba memahami situasi tersebut. Mengingat saat ini Ellina tengah mengandung buah hati mereka.


"Hey! Kenapa kau menangis?!" Zean menangkup wajah Ellina lalu menghapus buliran bening yang baru saja keluar membasahi pipi wanita itu dengan ibu jarinya.


"Kau tidak menepati janjimu Zean!" lirih Ellina.


Zean menghembuskan nafas berat. Kemudian membawa Ellina kedalam pelukannya. Menyandarkannya didada dan dengan lembut mengusap pelan kepalanya.


"Baiklah! Sore ini kita akan pergi tamasya, hm?! Sudah jangan menangis!"


"Tidak usah! Kau pasti terpaksa!" ucap Ellina sembari menarik kepalanya menjauh dari Zean.


"Siapa bilang?!" Zean kembali memasukkan kepala Ellina kedalam dekapannya.


"Aku sama sekali tidak merasa terpaksa sayang! Demi kau dan buah hati kita, aku akan melakukan apapun! Asal kau janji jangan menangis lagi, hm?!"


Didalam pelukan Zean, Ellina tersenyum. Ia benar-benar merasa dicintai.


"Ya, aku janji! Terimakasih sayang!"


Ellina membalas pelukan Zean. Ia melingkarkan tangannya dipinggang pria itu. Rasanya sangat nyaman sekali.


******


Zean berjanji akan segera menyusul Ellina ketaman kota setelah ia menyelesaikan pekerjaannya.


Awalnya ia ingin menjemput Ellina langsung di apartemen tapi Ellina menolak, dengan alasan tak ingin membuang waktu.


Karena jarak dari apartemen mereka ke Taman Kota itu cukup jauh ketimbang jarak dari kantor Zean yang lebih dekat.


Dan akhirnya mau tidak mau meski berat hati, Zean mengizinkan Ellina berangkat sendiri menggunakan taksi.


Pukul 4 sore Ellina sudah berada di taman. Ia duduk dibangku yang sudah disediakan.


Ellina menaruh keranjang berisi makanan yang ia bawa dari apartemen disampingnya, untuk nantinya makanan itu ia santap bersama Zean.


Lima belas menit berlalu.


Sebelumnya Ellina sudah mengabari Zean sejak ia tiba dan Zean berjanji akan datang dalam waktu kurang lebih 20 menit lagi.


Disaat sedang menunggu, tiba-tiba Ellina dikejutkan suara anak kecil yang memanggil namanya dari jauh.


"Aunty Ellinaaa!"


Sontak Ellina menoleh kesamping. Ia terkesiap begitu melihat siapa yang memanggilnya.


"Kenzi?!"


Ellina beranjak dari duduknya. Ia menatap Kenzi yang berlari kearahnya dan Devan yang mengikuti langkah anak kecil itu dari belakang.


Astaga kenapa mereka ada disini?! Bagaimana jika Zean melihatnya?!


Deg.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2