Painful Love Story

Painful Love Story
Bab 54


__ADS_3

Lyora terpaku ketika Zean tiba-tiba memeluknya. Bahkan batinnya bertanya-tanya apa yang membawa pria yang masih sangat dicintainya itu kemari? Bukankah pria ini sangat membencinya?


Tunggu apa mungkin...


"Zean..." Lyora membalas pelukan Zean dengan erat ketika ia menduga bahwa Zean telah mengetahui semuanya. Ia yakin bahwa rahasia Tuan Wildan telah terungkap. Mendengar Zean sejak tadi menggumamkan kata maaf sambil terisak dipelukannya.


Akhirnya kau kembali...


Cukup lama mereka saling berpelukan dan menangis hingga akhirnya Lyora melepaskan pelukan mereka lebih dulu.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Lyora ketika melihat wajah Zean dipenuhi luka, sementara kemeja putih yang dipakainya tampak kusut dan kotor seperti orang yang baru saja berkelahi.


"Boleh aku masuk? Kita bicara didalam." sela Zean sambil menyeka air matanya.


Lyora mengangguk lalu mempersilahkan pria itu untuk masuk dan duduk.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Zean pelan. Ia bisa melihat wajah Lyora sedikit pucat.


"Kabarku baik. Sekarang jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi padamu? Dan apa yang membawamu datang kemari?" tanya Lyora tak sabar. Karena sejujurnya ia begitu penasaran sekaligus khawatir melihat penampilan Zean yang tampak kacau.


Zean beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Lyora lalu ia bersimpuh dihadapan wanita itu sembari menggenggam tangannya.


"Kedatanganku kemari untuk meminta maaf padamu Lyora. Maafkan aku!" ucap Zean yang lagi-lagi menangis. Ia benar-benar merasa bersalah pada wanita dihadapannya karena ulah kakeknya Lyora harus kehilangan kehormatannya.


"Maaf? Maaf untuk apa?" tanya Lyora berpura-pura tidak mengerti hanya untuk memastikan praduganya.


"Maaf karena aku tidak bisa menjagamu dari rencana kotor Kakekku."


Deg.


Lyora termangu. Ternyata dugaannya benar. Zean sudah mengetahui kejahatan kakeknya.Tentu dia merasa senang.


Lyora menangkup tangan Zean yang awalnya menggenggam tangannya kemudian membawa tangan itu kebibirnya untuk dikecup.

__ADS_1


"Tidak perlu meminta maaf. Semua sudah terjadi. Lagipula ini bukan salahmu. Aku sudah cukup bersyukur kalau kau sudah mengetahui semuanya." jawab Lyora dengan bijak.


"Kau tidak dendam pada Kakekku kan? Aku sungguh meminta maaf atas segala perbuatannya padamu." lirih Zean.


"Tidak. Aku tidak dendam pada beliau. Aku sudah lama memaafkan Kakekmu." jawab Lyora. Tentu saja dia berbohong. Sampai detik ini bahkan rasa sakit itu masih ada. Karena perbuatan Tuan Wildan dia harus kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya dan menderita dalam kesendirian.


"Terimakasih Lyora. Kau begitu baik. Aku beruntung bisa mengenalmu."


Lyora tersenyum lembut.


"Sama-sama Zean. Aku juga beruntung bisa mengenalmu."


Dan akan lebih beruntung lagi jika aku bisa kembali memilikimu.


"Oh ya darimana kau tahu semua kebenaran ini? Dan wajahmu..." Lyora mengangkat tangannya hendak mengusap wajah Zean, namun Zean yang baru tersadar kalau dirinya sudah menikah dengan segera menghindar.


Dan ternyata tindakan Zean itu membuat Lyora tersinggung. Seolah-olah Zean kini telah kembali menjaga jarak darinya.


Lyora tersenyum ironi namun tak urung ia tetap bertanya. "Kau berkelahi?"


Deg.


Lyora terhenyak saat mendengar nama tersebut. Dan seketika rasa marah memenuhi rongga dadanya hingga tanpa sadar tangannya mengepal.


Devan.


"Apa kau mengetahui rahasia Kakekmu darinya?"


Zean mengangguk.


"Ya. Bajingan itu yang memberitahuku." jawab Zean tanpa ingin menjelaskan secara detail.


Lyora mengerutkan kening merasa bingung. Untuk apa Devan membongkar rahasianya sendiri pada Zean? Ia yakin lelaki itu memiliki tujuan tertentu.

__ADS_1


Saat Lyora hendak menanyakan hal tersebut tiba-tiba ia merasakan kepalanya begitu sakit bahkan tak lama kemudian hidungnya mengeluarkan darah hingga membuat Zean yang melihatnya terkejut bukan main.


"Lyora! Kau kenapa?!"


Belum lagi Lyora menjawab pertanyaan Zean, pandangan matanya tiba-tiba mengabur dan lambat laun dia mulai tak sadarkan diri.


"Lyora!"


*****


"Bagaimana? Apa ponselnya sudah aktif?" tanya Adrian. Saat ini dirinya tengah menemani Zyl pergi menuju apartemen Zean dengan mengendarai mobilnya.


Sebelum mereka pergi, Nyonya Liyana sudah sadarkan diri walau keadaannya masih lemah karena baru saja mengalami shock berat.


Sementara Tuan Wildan, pria tua itu mengalami koma. Dan sebelum pergi Adrian sudah berpesan pada salah satu suster untuk segera menghubunginya jika sesuatu terjadi pada Tuan Wildan, karena ia tidak bisa membiarkan Zyl pergi sendiri.


"Belum. Bahkan ponsel Zean kini ikut mati." ucap Zyl dengan kesal.


"Kita berdoa saja, semoga Nona Ellina dan calon bayinya baik-baik saja." jawab Adrian menenangkan.


Dua puluh menit kemudian keduanya tiba didepan apartemen Zean. Zyl dengan tidak sabar segera menekan bel.


Namun tidak ada jawaban dari dalam. Merasa sudah diambang batas kesabarannya, Zyl menekan tombol intercom dan tak lama pintu terbuka. Beruntung dia tahu kode sandi apartemen Zean, yaitu tanggal lahir sang Ibu.


Zyl langsung menerobos masuk diikuti oleh Adrian dibelakangnya. Mereka disambut oleh gelapnya ruangan karena Zean meninggalkan apartemennya sejak sore hari.


Zyl segera mencari kontak lampu. Begitu seluruh lampu ruangan menyala, Zyl dan Adrian mulai memanggil nama Ellina sembari membuka setiap kamar yang tertutup.


Dan ketika Zyl berada tepat didepan kamar Zean, Zyl mendengar suara rintihan yang amat lirih. Ia yakin bahwa itu adalah suara Ellina.


Zyl pun segera memanggil Adrian untuk membantunya membuka pintu yang terkunci didepannya.


Kesal karena tak menemukan kunci cadangan, akhirnya Adrian mendobrak pintu tersebut hingga pintu terbuka dan langsung menampakkan sosok Ellina yang tengah meringkuk dibawah ranjang dengan darah dikakinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2