Pak Tentara Itu Suamiku

Pak Tentara Itu Suamiku
Bab 14: Setelah 2 tahun


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


🌹✨💞✨🌹


Hari ini, hari keberangkatan Naura, Ririn, Coki dan dua rekan lainnya yang di utus membantu Naura dan lainnya.


Mereka sudah berada di bandara, setelah check-in mereka duduk di ruang tunggu.


"Kenapa harus kita sih yang di usul, Dokter di rumah sakit banyak bahkan lebih hebat dari kita," omel Coki tidak terima. Rasanya ingin membungkam mulut pria tua juga seperti yang di kata Ririn, pria tidak tau diri taunya memerintah tanpa mau di perintah.


"Sudah gak usah ngebacot, semua sudah terlambat terima aja nasib kita sekarang sebulan full di kota C yang akan menjadi tempat penyiksaan," ucap Ririn pasrah akan semua ini, dan juga menakut-nakuti Coki.


"Loh gak usah ngacau mana ada kayak gitu," tidak percaya Coki membantah perkataan Ririn.


"Kenapa? gak percaya? ya sudah gapapa nanti juga bisa ngerasain sendiri," ucap Ririn acuh.


"Ra, loh kenapa? masih mikirin Kak Noval?" melihat Naura terdiam, Ririn tidak tega dan Ia yakin hal sama yang membuat Naura seperti ini.


"Tidak," menggeleng kepala Naura tersenyum kecil menatap Ririn.


"Gue tau loh bohong Ra, tapi apa yang bisa gue lakuin selain berdoa loh bisa lewati semua ini," batin Ririn sedih memandang Naura yang terus diam tidak berkata sejak tadi.


Pandangan Naura berpindah pada layar ponsel, jarinya begitu lincah memainkan ponsel.


Ketika bosan hal yang di lakukan nya bermain game, sambil mendengarkan lagu.


1 jam menunggu, sekarang tibalah pesawat mereka untuk berangkat.


Semua ponsel di kasih mode pesawat atau di non-aktif, Naura duduk di dekat kaca pesawat. Menyandarkan kepala melihat pemandangan luar.


"Siapa pun pasangan mu Kak, aku berdoa bahagia selalu. Aku akan memulai semua dari awal tanpa mengingat masa lalu. Semua kenangan dan rasa bersalah ini akan ku kubur dalam-dalam," batin Naura mencoba ikhlas meski susah akan Ia lakukan.


Melihat dan terus berbicara dalam batin perlahan mata mulai terpejam dan tertidur.


Pekerjaan yang selalu di paksa meski tubuh merasa lelah sering naura lakukan tanpa peduli jika Ia akan sakit nanti nya.


Hidup terasa keras untuk nya. Kini Ia sadar satu hal kebahagiaan tidak bisa di miliki siapa pun. Kebahagiaan datang hanya untuk memberi kenangan yang mungkin bisa menjadi bumerang untuk diri sendiri.

__ADS_1


.


.


.


"Jemputan mana sih, masa udah jam segini belum datang?" ngomel Coki kepanasan berdiri di bawah terik matahari.


"Stop deh Cok! Kita juga panas bukan hanya loh jadi gak usah banyak bertingkah atau gue lempar ke laut!" ancam Ririn kesal, ia pun juga merasa panas.


Berbeda dengan Naura, ia juga sama dengan mereka kepanasan, tapi ia tidak mengoceh, diam sudah mendominasi di dalam dirinya. hingga apapun yang terjadi ia selalu diam, meski merasa sakit sekali pun.


"Dok seperti nya mereka sudah datang," tunjuk salah satu suster yang ikut bersama mereka pada kedua mobil hitam di depan.


"Mana Sus?" Coki dengan cepat melihat kiri-kanan mencari apa benar yang di kata suster tersebut.


"Itu Dok."


"Oh iya benar. Akhirnya kita bisa terbebas dari panas nya terik matahari," lega Coki dengan wajah senang.


Pembahasan mereka tidak begitu penting hingga Naura terus memainkan ponsel meski bawah teriknya sinar matahari.


Obrolan kedua seketika terhenti, tidak ada suara yang terdengar lagi. Pandangan Ririn tertuju ke depan tanpa sedetik mengedipkan mata.


Sosok pria di depan membuat nya kehabisan kata-kata, bibir nya gemetar. Langkah kaki semakin mendekat mengarah mereka, mulut belum juga bicara dengan benar memberitahu Naura akan apa yang di lihat di depan sekarang.


Dia mencoba memberitahu Naura dengan cara menarik tangan.


Merasa tangan nya di tarik Naura pun segera menoleh. "Kenapa Rin?"


Ririn tidak menjawab malah memberi lirikan ke depan.


Karena paham lirikan tersebut adalah kode, Naura pun menghadap ke depan.


Deg!


Deg!

__ADS_1


Jantung berdetak dua kali lebih cepat dari biasa, semua terasa mimpi melihat sosok pria yang sudah lama tidak di jumpai selama 2 tahun kini mendadak berada di depan nya.


Perasaan nya menjadi tak menentu, pandangan terus melekat pada sosok pria tersebut, rindu itulah yang di rasakan Naura saat ini.


Namun pria yang di tatap itu pandangan nya tidak tertuju pada satu orang, pandangan nya tertuju ke semua yang berada di depan.


"Ra," panggil Ririn dapat merasa tangan Naura gemetar.


Sejak tadi memberitahu tentang keberadaan Noval, tangan nya belum di lepaskan dari tangan Naura.


"Naura baik gak usah khawatir," paham Naura akan apa yang di pikirkan Ririn sekarang.


"Tapi-"


"Seriusan," menoleh menatap Ririn, Naura tersenyum kecil meski senyuman itu tidak palsu, Ia tetap berusaha menunjukkan dirinya baik.


"Gak usah maksain diri untuk membuat orang percaya loh baik-baik saja, kalau sebenarnya loh sedang tidak baik-baik," ucap Ririn pandangan nya tertuju kedepan sama dengan Naura.


Para jemputan mereka ternyata para tentara dan salah satu tentara yang datang menjemput adalah Noval pria yang membuat nya merasa bersalah akan sikap nya di masa lalu.


"Apa rencana mu Tuhan? kenapa aku harus bertemu lagi setelah berjanji melupakan semua yang terjadi," batin Naura sedih sebenarnya apa yang di inginkan takdir pada kehidupan nya.


"Selamat siang semua. Bagaimana perjalanan kalian hari ini? apa ada masalah?" tanya Noval basa-basi sebelum mengajak semua ikut bersama pasukan TNI.


Naura terdiam tanpa bisa berkata apapun, pandangan nya langsung ia jatuhkan ke bawah. Meski pertemuan mereka tanpa di sengaja, ia akan berusaha memengang janji nya untuk tidak menganggu Noval, membiarkan pria tersebut bahagia dengan pilihan nya bukan dia yang sudah menabur luka.


"Ada. Kita sudah berada di sini hampir 1 jam, tau gak matahari kota C panas nya sudah melebihi panas nya api. Apa Bapak-bapak sengaja melakukan ini pada kita?" tanpa takut Coki mengatakan apa yang di rasakan dengan tatapan kesal.


"Maaf atas keterlambatan nya, karena kami sudah tiba kita bisa langsung pergi saja. Barang bawaan nya bisa di berikan pada pihak kami, Dokter dan suster bisa ikut saya ke mobil," ucap Noval pandangan nya tak sekali mengarah atau bertatapan dengan Naura.


Noval memimpin jalan, para tim Dokter dan suster membututi dari belakang


"Ra, loh benaran gapapa? apa loh mau ngomong sesuatu pada kak Noval? ngomong aja mumpung ketemu nanti nyesal loh," Ririn menakut-nakuti Naura agar wanita tersebut berbicara tidak diam saja.


...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...

__ADS_1


__ADS_2