Pak Tentara Itu Suamiku

Pak Tentara Itu Suamiku
Bab 34: Perubahan ajaib


__ADS_3

🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻


πŸŒΉβœ¨πŸ’žβœ¨πŸŒΉ


Selama dua minggu Naura tidak bekerja, ia memilih menenangkan diri meski semua sudah terungkap jika bukan dirinya lah yang gagal, tapi semua karena sabotase orang jahat.


Dan orang jahat tersebut sudah berada di kantor polisi, tapi hingga sekarang orang dari dalang semua ini belum di ketahui hingga Naura selalu was-was.


Naura berbaring menatap langit-langit atap putih, pikiran nya tak tau kemana saat ini, rasa khawatir mendadak melanda otak nya.


Noval pagi-pagi sudah ke kantor, meski jabatan nya tinggi tidak membuatnya sibuk seperti dulu yang harus kiri kanan untuk berperang, tapi ia tetap profesional.


"Ada apa dengan ku? kenapa terus merasa cemas seperti ini?" tanya Naura pada dirinya sendiri bingung.


"Kenapa juga aku terus memikirkan wajah wanita itu? rasanya aku pengen tabok," pikir nya pada diri sendiri. " Astaga bicara apa aku kenapa jadi kacau seperti ini? sungguh aneh... sadar Naura," menepuk kedua pipi nya agar sadar.


Lama berargumen dengan pendapat sendiri Naura beranjak dari kasur menuju kamar mandi, ia membasuh wajahnya lalu keluar.


Memandangi kaca pada meja rias nya, Naura terdiam lama. Ingatan masa lalu kembali hadir membuat nya sadar apa tujuannya datang ke kota.


"Kenapa aku bisa melupakan ini? tapi dari mana aku harus memulai? aku benar-benar tidak tau tempat tinggalnya, wajahnya saja aku ragu, apakah berubah atau masih sama dengan foto yang di tunjukkan Nenek dulu," ucap Naura ragu akan bisa bertemu pria yang sudah membuat hidup nya dan Bunda nya menderita.


"Bunda ijin kan, Naura agar dapat bertemu pria jahat itu, Naura janji bakal balas dia berkali-kali sudah tega membuang kita."


Apa yang di cemaskan tadi seketika lenyap dengan hadir nya kenangan masa lalu yang merubah itu menjadi penuh tekad amarah untuk melawan.


Sebelum Naura tidak pernah seperti ini, tapi seketika emosi nya memuncak tidak mampu mengendalikan diri lagi, dendam masa lalu kembali hadir membuka luka yang sudah tertutup kembali terbuka hingga sulit mengobati.


"Hiks... hiks... hiks... Bunda, Naura rindu... Hiks... hiks... hiks..." tangis Naura seketika pecah suasana hatinya sedang tidak baik.


Bahkan begitu cepat berubah dalam hitungan menit yang awalnya marah menjadi mellow. Sungguh ajaib.


Bunyi dering ponsel menyadari Naura dengan cepat ia mengambil ponsel di atas meja rias dan menggeser layar hijau ke tengah.


"Assalamualaikum," salam Naura dengan suara serak habis nangis.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, sayang kamu kenapa? apa yang terjadi? apa ada yang menyakitimu?" cemas Noval mendengar suara serak Naura.


"Hiks... hiks... hiks... aku rindu Bunda Val, aku rindu... hiks... hiks... hiks..." tangis Naura kembali pecah, entah kenapa ia menjadi mellow saat ini.


"Sayang jangan sedih, Bunda akan sedih melihat mu seperti ini. Aku akan segera pulang sekarang, jangan menangis lagi aku mohon," pinta Noval, hatinya terasa teriris mendengar tangisan Naura.


"Tidak perlu Val, tetaplah bekerja aku baik-baik saja disini, aku hanya merindukan Bunda. Sekarang aku sudah mendingan setelah mendengar suara mu," ucap Naura kembali riang nada suara nya tidak seperti awal telpon membuat Noval di sebrang sana mengerutkan dahi dengan perusahaan sikap Naura yang aneh ini.


"Aneh, ada apa dengan nya?" batin Noval bertanya, bahkan ia menjadi khawatir dengan Naura sekarang.


Tidak dapat di pungkiri ia takut yang terjadi pada Naura saat ini karena tekanan 2 minggu lalu pada kejadian di rumah sakit, hingga Naura aneh.


"Tidak, aku akan pulang sekarang," putus Noval langsung mematikan sambungan telpon dan segera bangkit dari duduk meninggal ruangan nya.


Belum juga melakukan protes sambungan sudah terlebih dahulu mati hingga Naura hanya diam.


Naura termenung memikirkan perubahan sikap pada dirinya sejak tadi, ia pun mencoba menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi.


Lama bergulat pada diri sendiri otaknya benar-benar puyang dengan semua yang terjadi pada diri sendiri hari ini.


Meski bukan seorang dokter kandungan, Naura juga sedikit belajar mengenai ini. Ia bahkan sangat mengingat begitu jelas pertama kali berhubungan dengan Noval saat itu adalah masa subur nya, bagaimana tidak yakin kehamilan akan begitu cepat terjadi padanya.


Dengan penuh keyakinan Naura menggenggam benda kecil tersebut masuk ke dalam kamar mandi.


Mata Naura berkaca-kaca melihat hasil pada benda tipis tersebut, dua garis membuat nya tak mampu berkata lagi.


"Aku hamil," ucap Naura masih belum percaya akan menjadi seorang Ibu di usia muda.


"Aku memang sudah yakin akan kehamilan ku secepat ini, tapi apa aku bisa menjadi seorang Ibu yang baik untuk anak-anak nanti?" ragu Naura akan dirinya sendiri.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


"Sayang, ada apa dengan mu? kenapa sejak aku datang terus diam? apa terjadi sesuatu pada mu? katakan jangan seperti ini," cemas Noval melihat Naura terus diam sejak kedatangan nya.


Bahkan wanita itu tak mengatakan apapun, mulutnya terkunci rapat enggan berbicara.

__ADS_1


Pikirannya berkecamuk tidak jelas, banyak keraguan di benaknya.


"Sayang katakan sesuatu jangan diam seperti ini," bujuk Noval tidak tenang melihat Naura seperti ini.


"Apa kamu sudah siap menjadi Papa jika aku hamil?" satu pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Naura, mata nya tak lepas dari wajah Noval yang terlihat kaget mendengar ucapannya.


"Maksud kamu apa sayang? kenapa bertanya seperti itu? sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Noval tidak mengerti.


"Jawab saja apa yang ku tanyakan Val, gak usah balik bertanya," serius Naura enggan menjawab pertanyaan Noval.


"Baiklah. Aku sudah sangat siap menjadi Papa, bahkan aku berharap kamu secepatnya hamil," jawab Noval dengan wajah tak bisa di gambarkan sangat menanti kehamilan Naura.


"Kamu tau saat aku memaksa membobol gawang mu, aku sangat berharap kamu segera hamil agar tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi," sambung nya lagi menceritakan pada Naura.


"Lalu? sekarang apa keinginan mu saat ini masih sama?" tanya Naura.


"Tentu sayang, aku berharap saat ini di dalam perut mu ini ada buah hati kita," jawab Noval seraya mengelus perut rata Naura.


Naura tersenyum ia bahagia mendengar jawaban Noval, tidak ada keraguan di hati nya lagi sekarang. Jika Noval sudah siap, kenapa ia tidak siap?


"Hmmm, aku memang sedang hamil sekarang," ucap Naura tersenyum.


"Oh hamil," sahut Noval belum sepenuhnya sadar.


"Apa!? hamil? kamu serius kan?" tanya Noval yang seketika sadar dengan perkataan Naura barusan.


"Iya aku hamil sekarang," Naura mengangguk membenarkan dan Noval langsung memeluk sang istri tidak dapat berbicara apapun lagi saat ini ia sangat bahagia.


Cup.


Cup.


Cup.


...Bᴇʀsα΄€α΄Κ™α΄œΙ΄Ι’......

__ADS_1


...✨____________ 🌼🌼_______________✨...


__ADS_2