Paman Aku Kembali

Paman Aku Kembali
Traveler Kota Bawah Tanah


__ADS_3

    Adem hampir menjedotkan kepalanya ke tembok. Iskender sangat serius. Dia tidak paham maksud perkataan Adem. Adem sampai gregetan. Sepertinya dia salah jika berbasa basi dengan laki laki macam Iskender. Dan Ziyadh juga salah telah menitipkan Issabel padanya. Namun bukan tampa alasan tentu saja. Ziyadh punya tujuan. Adem harus bersabar.


        Langkah kaki Issabel berhenti tepat di depan daganggan aprikot kering dari seorang ibu tua. Dia terdiam. Sorot matanya tajam menatap buah tersebut.


                “Hayi, Issabel!”


                Adem membawa gadis kecil itu pergi.


     Iskendeer masih di posisinya. Dia mendekati dagangan ibu tua tadi, dan mengambil beberapa kotak saja. Setelah membayar, dia mencoba mengingat. Mungkin sesuatu telah terlewatkan.


“Issabel,” katanya sambil memberikan sekotak aprikot yang baru dibeli itu pada yegen.


Adem ternganga.


“Tesekkur ederim, Amca.”


“Kamu menyukainya?”


“Hayir.”


“Anne yang menyukainya.”


        Wajah Issabel seketika berubah menjadi murung. Dia sangat rindu pada orang tuanya.


Dari lahir  dia sudah tidak bisa mendapatkan sentuhan dari Anne nya sendiri, dan pada usia 5 tahun dia kehilangan baba nya juga. Adem menundukkan kepala. Dia tahu bagaimana sedihnya  seorang Issabel. Sementara Iskender membuang pandangannya ke langit. Kedua matanya mendung.


    Tak berapa lama, mereka tiba di kota bawah tanah Derinkuyu. Sebuah kota bawah tanah kuno yang bertingkat tingkat dan memiliki kedalaman hingga 177 kaki. Pengunjung harus melewati lorong lorong sempit dengan banyak anak tangga.


    Terdiri dari lima lantai. Lantai pertama dan kedua dari permuakan tanah adalah tempat tinggal, sekolah keagamaan dengan meja meja batu, tempat pembaptisan, dapur, gudang anggur dan kandang.

__ADS_1


    Lantai ketiga dan keempat adalah terowongan, tempat untuk menyembunyikan senjata.


Sedangkan terakhir sumur, jalan rahasia, gereja, kuburan dan tempat pengakuan.


    Iskender tidak melepas tangan Issabel sedetik pun. Dia melindungi gadis kecil itu. Adem melihat mereka seperti Baba dan Kiz ( anak perempuan).


                “Amca.” Issabel memanggil Adem.”


                “Evet, Canim.”


                “Jangan menjauh dari kami.”


                “Tamam, kamu tenang saja.”


                “Amca.”


Iskender hanya menoleh ke arahnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


      “Jalannya pelan pelan. Nanti Amca Adem ketinggalan.”


   “Evet, aku sudah melangkah lebih kecil dari biasanya.”


                “Disini sedikit gelap.”


                “Karena ini dibawah tanah, Canim.”


Issabel senang Amca Adem itu selalu sigap membalas perkataannya. Tidak seperti Amca Iskender yang lebih banyak diam. Namun bukan masalah. Mereka sama sama menjaganya dengan cara masing masing.


Adem menjadi tour guide bagi Issabel. Iskender berjalan di belakang mereka.

__ADS_1


Setiap orang memiliki caranya masing masing dalam menikmati hidupnya. Terkadang pilihannya itu terpaksa, di pengaruhi oleh metode orang lain, atau memang begitulah seseorang pada aslinya. Namun, ada yang sangat penting yang sebenernya juga dapat menentukan hal tersebut. Yaitu kenangan. Kenangan adalah ingatan seseorang tentang sesuatu yang berkesan.


       Itulah yang sedang menggangu fikiran Iskender. Like a scene from of movie. Dia terus terbayang saat ketika Issabel menerima aprikot kering darinya. Ekspresi anak itu, Bagaimana dia senang mendapatkan buah yang sebenarnya tidak dia sukai tersebut dengan lembut. Seperti seseorang yang Iskender kenal. Seperti seseorang dalam hidupnya juga pernah melakukan hal yang sama. Tersenyum sepenuh hati.


                “Amca Adem.”


  “Baba pernah bilang, ilk bahar ask mevsimidir ( musim semi adalah musim cinta ).”


   “Evet,tabii ki (tentu saja). Semua musim adalah musim cinta.”


                “Cinta itu apa, Amca?”


                Deg !! Adem bigung bagaimana menjelaskannya.


                “Cin-cinta, cinta itu.”


                “Seperti Baba dan Anne?”


                “Evet, evet seperti itulah.”


           “Musim semi ini en  guzel bahar (musim semi paling indah) bagi Issabel.”


         “Oo, musim semi ini juga paling indah bagi Amca.”


Lalu pandangan Issabel berpaling ke arah iskender. Laki laki itu masih melamun dengan sekian pikirannya tentang ingatan akan sebuah kenangan. Sekeras apa pun dia berfikir, dia tetap tidak menemukannya. Kenangan itu mungkin tidak pernah ada, atau dia hanya sedang mencoba membangun kenangannya sendiri. Entahlah.


AYO.... SCROLL LAGI


JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE YA.

__ADS_1


__ADS_2