Paman Aku Kembali

Paman Aku Kembali
Kota Bawah Tanah


__ADS_3

Pertama naik balon udara raksasa.


    Balon bermotif bendera Turki itu terbang tinggi membawa Iskender, Issabel dan Adem


kesebuah sensasi yang sangat menakjubkan. Dari situ mereka dapat melihat ribuan batu gunung dengan fomasi seperti jamur. Issabel tak henti hentinya beteriak.


Membuat Iskender hampir menutup kedua telinganya dengan tangan, Sedangkan Adem malah berasa sangat senang. Issabel bahagia, dia tidka ingat pada kesedihannnya, pada kehilangannya, pada perpisahannya.


“Amca apa begini rasanya punya sayap?”


Issabel bertanya pada Iskender.


                “Belki (mungkin).”


                Datar. Jawaban Iskender membuat Adem kesal. Adem berfikir bagaimana bisa sikap Iskender pada Issabel begitu setiap hari seperti itu. Ziyadh tidak salah menitipkan Issabel padanya. Tetapi Iskender perlu pendidikan merawat anak.


Adem bigung harus mengatakan apa pada


temannya.


“Kalau Issabel punya sayap, Issabel bisa terbang lebih tinggi lagi dari ini.”


                “Oo begitu Amca Adem.”


                “Issabel mau punya sayap?”


“Mau, Issabel mau terang ke tempat Baba dan Anne.”

__ADS_1


                Jawaban itu sangat menyentuh hati Adem. Dan Iskender kali ini merasa sedikit sesak di dada.


                “Setelah ini kita kemana Amca?”


                “Ke kota bawah tanah, Canim.”


                “Vay.”


                Issabel masih tetap segembira biasanya. Padahal dia baru saja mengeluarkan kata kata yang mengharukan. Adem tidak bisa membayangkan jika anak itu tidak bertemu dengan orang orang seperti Ziyadh dan Beelah. Siapapun mungin akan mudah menyayanginya, tetapi belum tentu semua mengasihinya.


“Apakah kota itu ada di bawah tanah yang kita injak?”


                “Evet.”


                “Apakah disana panas?”


           “Apakah di dalamnya banyak bebatuan?”


                “Evet, kamu sudah tidak sabar ya?”


                “Eum...”


          Adem gemas sekali pada anak itu. Dia sampai ketakutan jika Issabel bertanya lebih banyak lagi. Dia hanya khawatir bila dia tidak bisa menjawab . dan tidak mungkin membuat Issabel berfikir bahwa tak semua orang dewasa itu pintar.


      Lihat Amca di sebelahnya. Begitu santai menikmati hidupnya. Ziyadh dan Beelah menitipkan seorang manusia padanya, anak anak, gadis kecil yang bahkan belum genap berusia 6 tahun, bukan sebuah barang yang bernilai biasa saja.


Adem ingin menasehatinya, tetapi khawatir akan  membuatnya tersinggung atau

__ADS_1


terkesan menggurrui. Karena bagaimana pun Iskender tentu tahu apa yang harus dilakukannya.


                Kedua. Kota bawah tanah.


               “Berk, lakukan sesuatu untuk Issabel!”


                Adem meminta disaat mereka berjalan beriringan, sementara Issabel di tengah asyik melihat para penjual aprikot kering yang berjejer rapi di persimpangan arah lokasi tujuan mereka. Salah satunya adalah baik untuk kesehatan kulit.


                “Ne?”


                “Ah, Kamu ini. Apa perlu kuberi


tahu? Aku tidak membayangkan bagaimana  bosannya Issabel tinggal dengan mu di castel itu kucuk cocuk. Mainlah dengan dia. Kamu haarus jadi anak kecil juga. Pasang tampang yang lucu, bicara mu yang lucu. Jadi dia suka.”


         “Memangnya dia tidak suka dengan ku?”


         Tanya Iskender membuat Adem menarik napas dalam dalam.


                “Hayir, dia lebih suka dengan ku.”


                “Dia milik Ziyadh dan beelah. Kamu jangan merebutnya.”


                “Oo,,Ya Allah.”


        Adem hampir menjedotkan kepalanya ke tembok. Iskender sangat serius. Dia tidak paham maksud perkataan Adem. Adem sampai gregetan. Sepertinya dia salah jika berbasa basi dengan laki laki macam Iskender. Dan Ziyadh juga salah telah menitipkan Issabel padanya. Namun bukan tampa alasan tentu saja. Ziyadh punya tujuan. Adem harus bersabar.


    Langkah kaki Issabel berhenti tepat di depan daganggan aprikot kering dari seorang ibu

__ADS_1


tua. Dia terdiam. Sorot matanya tajam menatap buah tersebut.


__ADS_2