Paman Aku Kembali

Paman Aku Kembali
Sevgilim


__ADS_3

Sevgilim


Sevgilim saclarini tarayip


Gerdanini oksayip


Ninniler soyleyip dizlerimde


Uyutsam seni


Sevgilim seni


Kagit olup kalem aldanmayip


Kagit olup kalem olup


En sonuma yazsam seni


Hic bir seye degismem


Askla bakan gozlerini


Enson animda bile soylemeliyiim sevdigimi


Hic bir seye degismem senle gecen gunlerini


En son animda bile tutmaliyim ellerini


Alunan lagu Sevgilim (My Love)  oleh penyanyi kelahiran  Ankara 35 tahun silam, Mustafa ceceli, menyudahi tangisan Sevgi tentang penyesalannya memutuskan hubungan dengan Iskender.


                Dia begitu menghawatirkan sesuatu. Dia memiliki sebuah ketakutan, dimana kenyataan pahit akan sangat menyakitkan. Dia belum mengenal Iskender sejauh atau sedalam cintanya pada laki laki itu. Dia juga tidak yakin bahwa orang yang menjadi kekasihnya benar benar menyayanginya.


                Iskender mempunyai masa lalu yang disimpanya sedemikian rapi.Bahkan sampai membuat dirinya sendiri lupa pada beberapa moment yang teramat penting bagi kehidupannya. Dia sadar ada yang tidak beres dalam memory nya . tetapi tidak ada yang perlu difikirkannya sebegitu keras. Karena dia, tidak tahu apa yang telah hilang dari ingatannya.

__ADS_1


                Ddrtttt...... Ddrtttt......


                Sevgi menerima panggilan.


                “Merhaba,  Aksu!”


                “Merhaba, Sevgi.”


                Aksu adalah rekan kerjanya.


                “Aku baru saja pulang dari Uner


Hotel, menemui temanku yang menginap disana. Tadi aku lihat Iskender dengan seorang anak kecil. Mereka tampak akrab sekali. Ku kira ada kamu, tenyata tidak.”


                “Lalu?”


                Suara Sevgi terdengar malas meladeni cerita Aksu.


                “Siapa anak kecil itu? Apa dia keponakan Iskender? Mereka punya bentuk wajah yang mirip.”


suka pada wanita perebut jabatannya tersebut. Sevvgi sangat beruntung memilki kekasih setampan, sekaya dan sebaik Iskender. Sementara dia belum pernah sekalipun merasakan berpacaran dengan laki laki  yang nyaris sempurna seperti kekasih Sevgi itu. Aksu berbadan gemuk, tidak begitu tinggi, berambut panjang keriting  dan pirang. Sifatnya yang suka mengadu domba sudah terkenal dilingkunggan kantornya.


                Sevgi tidak ingin termakan omongan Aksu. Namun kali ini perkataan wanita berwajah bulat itu ada benarnya juga.


                “Bilmiyorum,”


                “Oo,bagaimana bisa kamu tidak


tahu? Kalian kan berpacaran. Seharusnya Iskender menceritakan semua hal


padamu.”


                Klik, Sevgi langsung mengakhiri panggilan Aksu. Dia tidak ingin menghiraukan ucapan ucapan berbara itu. Namun Issabel sudah benar benar mengusik hidupnya saat ini.

__ADS_1


                Dia mengambil beberapa Efes dan menghabiskannya satu persatu.


 


Issabel tertidur di kursi milik Eren. Sementara resepsionis cantik itu tengah siukmembuat laporan, dan Gizem sedang melayani tamu baru. Isskender datang untuk menengok gadis kecil titipan Ziyadh dan Beelah. Dia tidak tega kalau harus membangunkan Issabel. Wajahnya kelihatan sangat lelah sekali karena beberapa


jam menyapa para tamu yang keluar masuk, ditambah para karyawan yang terus mengajaknya bicara.


                Tiba tiba ponsel Iskender berbunyi. Deringnya membuat Issabel terbangun. Iskender menggankat telepon sembari menghindar dari keramaian, ddan Issabel asyik mengucek ucek matanya


sambil menguap sesekali


      “Merhaba, Issabel !! Sudah bagun ya??”


     “Wah, anak siapa itu?” tanya seorang tamu yang sedang Gizem layani.


   “Lucu sekali,” sambung teman yang ada di sebelahnya


       Issabel lantas menoleh ke arah Iskender yang mendengar dengan samar pertanyaan tamu itu. Eren dan Gizem saling melempa pandangan. Si tamu dan temannya mengira bahwa  Iskender adalah ayah dari anak gadis kecil tersebut.


                “Anaknya cantik, efenddim.”


                “Siapa tadi namanya?”


                “Issabel.” Gizem yang menjawab.


                Issabel tidak menanggapi karena dia masih mengantuk. Pikirannya masih belum kembali seperti semula.


                “Oo, seperti bulan, nama yang bagus.”


                “Mirip ya seperti baba nya.”


                “Tentu saja. Baba nya tampan, anak nya sangat cantik. Begitu serasi sekali.”

__ADS_1


                Iskender sudah mengelesaikan panggilan teleponnya. Dia menyimak percakapan kedua tamu itu. Eren dan Gizem hanya bisa terdiam. Sedangkan Issabel hanya memberikan senyum simpul pada sang Amca.


__ADS_2