
“Amca,,,,,Amca.”
Iskender dan Adem langsung mendekatinya.
“Merhaba, Issabel.”
“Merhaba, Amca Adem.”
“Kamu sudah bangun. Issabel bagaimana keadaan mu?”
“Kepala ku pusing, Aku ingin minum susu cokelat hangat.”
“Tamam, Amca akan buatkan untukmu.”
Sementara Iskender ke belakang. Adem duduk di samping sisi ranjang. Dia menatap Issabel. Dia tahu Issabel sedang mencari perhatian Iskender. Issabel tampak sangat nyaman berada di dekatnya. Meskipun sahabatnya itu adalah orang yang dingin, kurang peka dan tidak jarang menyebalkan.
“Amca.”
“Evet.”
“Apa Ama Ziyadh akan menjemputku?” tanya Issabel seperti berbisik.
“Tentu saja, Canim.” Jawab Adem menirukan gaya Issabel.
“Tapi, aku kan sedang sakit.”
“Kamu harus segera sembuh. Lusa Amca Ziyadh dan Teyze Beelah kembali dari Paris. Mereka akan menjemput mu pulang.”
Anak itu cemberut. Adem berfkir bahwa Issabel masih ingin tinggal disini.
Iskender memang tidak pernah membicarakan dogeng untuk Issabel. Dia juga jarang menuntun atau menggendong Issabel. Dia bahkan tidak humoris, kurang ramah dan sulit tertawa. Tetapi Iskender mulai melukan banyak hal untuknya. Hal hal yang baru kali ini Iskender lakukan, itu semua karena Issabel.
__ADS_1
“Su su cokelat hangat spesial untuk Issabel sudah datang.”
Issabel langsung menyambarnya.
Adem tersenyum haru. Sahabatnya menjadi sedikit berbeda sejak kehadiran gadis kecil itu.
“Kamu bisa memakan dan meminum apa pun, tetapi badan mu tiak mudah gemuk, Issabel.”
“Dia tersiksa dengan mu.”
“Mana mungkin?”
“Coba kamu tanyakan sendiri pada nya.”
“Issbael.”
Gadis kecil itu sudah menghabiskan segelas susu cokelatnya hanya dalam beberapa tegukan.
“Aku ingin segelas lagi, Amca.” Pinta Issabel sambil menunjukkan gelasnya yang kosong.
***********************************
“Aku sangat merindukan Issabel.” ucap Beelah ketika dia dan Ziyadh tiba di bandara militer Amasya Merzifon Airport.
Dari Paris ke Istanbul, dari Istanbul ke Amasya. Dengan tanga bergandengan, mereka berjalan menuju keluar sambil membawa koper mereka masing masing. Ada banyak tumpukan rindu yang mereka simpan untuk seorang anak yang sudah mereka anggap seperti anak kandung mereka sendiri.
“Tapi anehnya aku tidak menghawatirkannya sama sekali.”
“Karena dia berada pada orang yang tepat.”
“Aku tidak sabar ingin melihat kebersamaan mereka secara langsung.”
__ADS_1
“Aku pun begitu.”
“Apa Adem mengajarkan Issabel untuk memanggil Iskender dengan sebutan Baba?”
“Sepertinya Hayir.”
Tiba tiba ponsel Ziyadh bergetar. Sebuah pesan dari Adem.
“Issabel sakit. Antara dia kelelahan karena kemarin seharian diluar atau tubuhnya menahannya karena dia tidak ingin pulang.”
Beelah menyimpulkan, “Issabel nyaman dengan Iskender.”
“Seperti seekor anak burung yang menyasar, lalu sekarang menemukan sagkarnya.”
“Bir an Bir iliski (sebuah momen, sebuah hubungan).
Mereka sangat lega, senang dan bersyukur.
Iskender dan Issabel telah memiliki banyak momen yang berkesan. Mereka sudah menjalin hubungan yang cukup berkembang selama kurang dari dua minggu ini.
Namun momen Issabel sakit, adalah berbeda. Issabel tahu apa yang dia rasakan.
************
hallo reader, yang semangat untuk baca cerita ini jangan lupa untuk meninggalkan komen dan like serta memberi vote dan tampol tamlol hati atau kursi karna sumpah cerita ini tuh bikin nagih untuk para reader yg baca cerita.
Jika sudah mampir, mari jadikan karya Author sebagai favorit di hati kamu dan di list galeri kamu, biar kalo kamu rindu kamu bisa berkunjung
...MERHABA
__ADS_1
...
ayo mampir kembali