
“Apa kamu ingin menjadi pacar ku.”
Seluruh teman yang ada di kelas bersorak mendukung tindakan Iskender, dan mendesak Ameerah untuk menerima.
“Apa kamu serius?”
“Evet.”
“Apa aku harus menjawabnya sekarang?”
“Evet.”
“Tamam.”
“N-ne?”
“Aku mau.”
Mendengar jawaban pelan Ameerah, seisi kelas langsung heboh. Adem mungkin menjadi orang yang paling berjasa dalam hal ini. Dia yang menyarankan Iskender untuk menembak Ameerah itu pertama kalinya mereka berfoto bersama.
...Foto jaman dahulu yang ke dua....
Suatu hari Ameerah sedang makan permen lolipop. Warna warni lolipop itu mencerminkan suasana hatinya. Iskender masih ingat betul apa yang Ameerah katakan setelah fotonya di ambil.
“Rasanya seperti apa yang kita rasakan sekarang.”
“Oo.”
“Coba.”
Lalu Ameerah memasukkan lolipopnya ke mulut Iskender dalam tiga detik. Sampai dia dapat mengerti bagaimana rasanya.
“Manis sekali.”
__ADS_1
“Eum.”
...Foto jaman dahulu yang ketiga....
Foto Ameerah yang sedang bersama ibu penjual aprikot kering di sebuah tempat wisata saat dia dan Iskender berkenan untuk yang ke sekian kalinya.
Sebelum itu Ameerah sempat mengambek karena Iskender melarangnya menganggu ibu penjual Aprikot yang sedang bekerja. Padahal dia hanya ingin foto berdua saja. Setelah Ameerah melayang aksi pura pura marahnya, Akhirnya Iskender mengalah juga. Dia mengajak bicara ibu itu untuk mau berfoto dengan kekasihnya.
Ameerah sangat gembira, Sayang, mereka lupa membeli Aprikot dagangan ibu itu.
Bugh !!
Adem tiba tiba melempar sebuah buku tetang kebijakan publik dari William Dunn yang mengenai bahu Iskender.
Dr.Dunn adalah seorang sarjana, penidikan dan administrator akademik. Pengajaran dan penelitian areanya adalah analisis kebijakan publik, filsafat dan sosiologi ilmu terapan, desain penelitian dan metode kuantitatif dan kualitatif (mixed) metode, pemanfaatan informasi ilmiah dan teknis oleh pembuat kebijakan.
Seketika itu pula lamunanya tentang tentang kenanggan kenanggan indah bersama Ameerah buyar.
Kembali ke kenyataan.
************************************************
Sebulan setelah penikahan Ferhat dan Ameerah, album foto pernikahan mereka pun telah tersedia. Ferhat sedang melihat lihat. Ameerah tampak sibuk merapikan barang barang di rumah barunya di kota kelahiran Ferhat, Konya.
Ada foto yang sangat mencuri perhatian Ferhat. Foto bersama Ziyadh, Beelah, Adem, dan Iskender. Iskender berdiri tepat di samping Ameerah. Tangan mereka saling berpegangan. Ferhat tidak terkejut dengan hal itu. Dia hanya baru menyadari. Ibu Ameerah telah menceritakan tentang Iskender padanya. Justru Ferhat yang merasa tidak enak hati pada Ameerah.
“Mengapa kamu tidak bilang?”
“N-ne?”
“Tentang Iskender.”
Ameerah mematung. Kemudian hal ini terjadi memang sudah dia pikirkan. Suatu saat Ferhat pasti akan tahu, dan ternyata suaminya itu sudah tahu sejak hari pernikahan mereka. Dia tidak terlalu kaget lagi.
__ADS_1
“Apa yang sudah kamu ketahui?”
“Apa yang masih kamu sembunyikan?”
Mereka saling melempar tanya.
“Jawab pertanyaan ku terlebih dahulu.”
“Banyak.”
“Apa kamu akan meneritakannya satu per satu?”
“Tidak akan habis, karena terlalu banyak.”
“Kalau begitu waktu kita akan lebih panjang.”
“Maksud mu?”
“Sampai aku mengenal istri ku sendiri dengan baik.”
Ameerah kehabisan kata kata. Dia tidak punya kalimat untuk mengalahkan Ferhat.
“Sekarang jawab pertanyaan ku.”
“Sama.”
“Terlalu banyak, Ameerah. Hingga aku membiarkan semuanya berjalan begitu saja.”
“Aneh.”
“Siapa yang aneh? Aku atau kamu?”
“Kita berdua.”
__ADS_1
“Evet, kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai. Dan tidak seorang pun ingin hidup dalam rasa bersalah yang besar.”
Pernyataan jujur Ferhat tersebut seolah menampar pemikiran Ameerah tentang pernikahan macam apa yang dia jalani.