Paman Aku Kembali

Paman Aku Kembali
Baba And Kiz


__ADS_3

musim semi ini juga paling indah bagi Amca.


Lalu pandangan Issabel berpaling ke arah iskender.


Laki laki itu masih melamun dengan sekian pikirannya tentang ingatan akan sebuah


kenangan. Sekeras apa pun dia berfikir, dia tetap tidak menemukannya. Kenangan


itu mungkin tidak pernah ada, atau dia hanya sedang mencoba membangun


kenangannya sendiri. Entahlah.


               “Bagaimana dengan Amca Iskender?”


                “N-ne?”


   “ini musim semi yang paling indah juga bukan?”


                “Eum, tentu saja.”


          Jawaban singkat. Tidak menjelaskan apapun. Hanya memastikan bahwa mereka bertiga memiliki musim semi dengan rasa yang sama tahun ini.


        Issabel memandan ke langit. Dia ingat, temannya di Konya pernah bilang kalau Baba dan Anne nya ada diatas sana. Memperhatikannya, melihatnya. Issabel seperti ingin memperkenalkan Amca Adem


dam Amca Isskender pada mereka.


 


SABIL BANA, ISSABEL !!!


Cumartesi


(sabtu).


    Sevgi yakin bahwa dia tidak salah dengar. Waktu itu benar benar ada suara perempuan.


Dia sangat terganggu dengan sikap aneh Iskender. Ini yang pertama kali laki


laki itu mengabaikannya lebih dari satu hari. Dia sudah tidak sabar untuk


mengetahui kebenarannya langsung.

__ADS_1


           Su an (Sekarang) saat 7 (yedi)


aksam.....


    Issabel sedang menggambar di buku gambar baru hadiah dari Adem. Alat alat tulisnya juga


pemberian dari Amca itu. Sementara Iskender asyik menonton serial drama di televisi.


Tiba tiba seseorang mengetuk pintu. Membuat Iskender harus bangkit


dari posisi nyamannya.


                “Canim.”


Sevgi langsung meraih tubuh laki laki itu ketika dia melihatnya.


                “Se-sevgi.” Iskender sulit bernapas


                Sevgi melepas pelukannya.


                “Oo, aku kangen kamu.”


Iskender memang tampang datarnya seperti biasa. Issabel mengamati mereka.


                “Amca Iskender.”


Kedua mata Sevgi langsung menangkap sosok gadis kecil itu. Dia syok.


        Iskender membawa Sevgi duduk tenang di sofa. Dengan Issabel di hadapan mereka. Suasana menjadi tidak damai. Sevgi seperti duduk di atas kursi panas di dalam sebuah


sidang.


                “Berapa lama?”


                “Iki hafta (dua minggu).”


                “Kapan Ziyadh dan Beelah menjemputnya?.”


                “Gelecek hafta (minggu depan).”


                “Dan itu artinya sudah satu minggu dia disini dengan mu. Kamu tidak menceritakannya pada ku?”

__ADS_1


                “Kamu tidak bertanya.”


                “Hah?”


                Sevgi mendengus dengan kesal.


                “Pulanglah! Aku akan ke rumahmu nanti.”


                “Zaman (kapan)? Setelah anak itu pergi? Glecek hafta, minggu depannnya lagi?”


                “Sevgi.”


                “Ne? Dia masih anak anak, dia tidak akan mengerti pembicaraan orang dewasa.”


       Sevgi sudah mulai naik darah. Dia tidak bisa terima Iskender menyembunyikan Issabel darinya. Ada yang salah yang mungkin membuat Iskender tidak menceritakan kehadiran Issabel padanya.


        Iskender menarik tangan Sevgi, membawanya menjauh dari Issabel


                “Dia bisa mendengar, dia bisa menangkap apa yang kamu katakan. Jangan buat dia merasa tidak nyaman denganmu.”


                “Aku yang tidak nyaman dengan dia. Dia menjadi masalah bagiku sekarang.”


     Mereka bertengkar. Issabel hanya menundukkan kepalanya sambil memegang hasil gambarnya. Gambar seorang perempuan dengan dua laki laki. Gambar Baba dan Anne, juga Amca. Salah satu diantaranya


Ziyadh, Iskender dan Adem.


                “Apa masalahmu?”


                “Kamu membentak ku.”


                “Aku tidak membentakmu, Sevgi!”


           “Tapi kamu memarahiku karena anak itu.”


                “Issabel namanya.”


                “Kita tidak bisa pergi malam ini. Aku akan meneleponmu nanti. Pulanglah sekarang!”


     Issabel  memeluk buku gambarnya. Wajahnya murung, kedua matanya berkaca kaca. Dia jadi tidak enak hati pada perempuan yang dipanggil Sevgi itu. Tetapi dia juga tidak suka dengan sikap Sevgi yang menentang kehadirannya. Namun dia senang Amca Iskender membelanya. Ternyata Amca sangat  menjaganya.


        Tanpa memberikan sepatah kata pun sebagai penutup, Sevgi lantas pergi. Iskender mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dia tahu dia salah pada perempuan itu. Dia sudah menjawab 'bisa' waktu itu saat Sevgi meminta mereka untuk berjalan malam minggu ini.

__ADS_1


Andai Sevgi mampu lebih sopan terhadap Issabel, atau sedikit ramah menyikapinya, Iskender pasti tidak akan membuatnya kesal. Dan mungkin mereka bisa jalan bertiga sekarang.


__ADS_2