Paman Aku Kembali

Paman Aku Kembali
Teyze Sevgi


__ADS_3

Tanpa memberikan sepatah kata pun sebagai penutup, Sevgi lantas pergi. Iskender


mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dia tahu dia salah pada perempuan itu.


Dia sudah menjawab ‘bisa’ waktu itu saat Sevgi meminta mereka untuk berjalan


malam minggu ini. Andai Sevgi mampu lebih sopan terhadap Issabel, atau sedikit


ramah menyikapinya, Iskender pasti tidak akan membuatnya kesal. Dan mungkin


mereka bisa jalan bertiga sekarang.


     Laki laki itu menarik napasnya dalam dalam. Lalu duduk di tempatnya semula. Issabel tidak berani menatapnya.


                “Tadi itu siapa, Amca?”


                ‘Teyze Sevgi!”


                “Oo.”


       Sebenernya Issabel ingin bertanya Teyze Sevgi itu siapanya Amca Iskender, namun dia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin membuat Amca itu makin kusut wajahnya.


            “Maaf ya telah membuat mu terganggu.”


                “Eum.”


        Iskender melirik buku gambar gadis kecil itu yang terus dikepitnya.


                “Sudah menggambarnya?”


                “Zaten (sudah).”


                “Gambar apa?”


                “Orada (ada).”


                “Boleh Amca lihat?”


      Issabel menunjukkan gambarnya


malu malu. Teharu hal yang pasti yang Iskender rasakan ketika mengetahui apa yang Issabel gambar. Dia tidak tega ingin bertanya lebih banyak. Anak itu selalu punya cara untuk membuat dadanya sesak.


                “Baba, Anne dan yang ini siapa?”

__ADS_1


                “Amca.”


                “Amca Ziyadh?”


                “Amca Iskender Berk.”


                Deg. Jawaban Issabel menelusuk


cepat tepat di dalam relung hatinya yang kosong.


Iskender merasa sangat tersanjung. Baru seminggu dia dan Issabel bersama, namun gadis kecil ini sudah menjadikannya salah satu sosok yang ingin digambarnya setelah orang tuanya. Bukan Ziyadh atau Adem yang jelas jelas mereka adalah Amca terbaik yang pernah ada bagi Issabel


 


Tanpa memberikan sepatah kata pun sebagai penutup, Sevgi lantas pergi. Iskender


mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dia tahu dia salah pada perempuan itu.


Dia sudah menjawab ‘bisa’ waktu itu saat Sevgi meminta mereka untuk berjalan


malam minggu ini. Andai Sevgi mampu lebih sopan terhadap Issabel, atau sedikit


ramah menyikapinya, Iskender pasti tidak akan membuatnya kesal. Dan mungkin


mereka bisa jalan bertiga sekarang.


                “Tadi itu siapa, Amca?”


                ‘Teyze Sevgi!”


                “Oo.”


          Sebenernya Issabel ingin bertanya Teyze Sevgi itu siapanya Amca Iskender, namun dia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin membuat Amca itu makin kusut wajahnya.


            “Maaf ya telah membuat mu terganggu.”


                “Eum.”


      Iskender melirik buku gambar gadis kecil itu yang terus dikepitnya.


                “Sudah menggambarnya?”


                “Zaten (sudah).”

__ADS_1


                “Gambar apa?”


                “Orada (ada).”


                “Boleh Amca lihat?”


   Issabel menunjukkan gambarnya malu malu. Teharu hal yang pasti yang Iskender rasakan ketika mengetahui apa yang Issabel gambar. Dia tidak tega ingin bertanya lebih banyak. Anak itu selalu punya cara untuk membuat dadanya sesak.


                “Baba, Anne dan yang ini siapa?”


                “Amca.”


                “Amca Ziyadh?”


                “Amca Iskender Berk.”


           Deg. Jawaban Issabel menelusuk cepat tepat di dalam relung hatinya yang kosong.


Iskender merasa sangat tersanjung. Baru seminggu dia dan Issabel bersama, namun gadis kecil ini sudah menjadikannya salah satu sosok yang ingin digambarnya setelah


orang tuanya. Bukan Ziyadh atau Adem yang jelas jelas mereka adalah Amca


terbaik yang pernah ada bagi Issabel.


 


Pazar


(minggu), 08.00 pagi.


Musim semi adalah musim yang menjadi favorit Iskender dan Sevgi. Mereka bertemu di


kota Selcuk pada musim tersebut. Pertemuan yang sangat memalukan sebenarnya.


Saat itu, Iskender dan Sevgi terjebak dalam sebuah ruangan di Library of Celcius. Mereka  berpisah  dari teman teman mereka. Iskender mengira bahwa Sevgi bukan berasal dari Turki , dia bertanya pada perempuan itu menggunakan bahasa Inggris. Sevgi yang tidak bisa berbahasa Inggris akhirnya menjawab dengan bahasa Turki yang kental.


Lalu mereka menjadi akrab. Hingga Sevgi memutuskan untuk keluar dari tempat


kerja nya, dan memulai pekerjaan baru di Amasya agar bisa lebih dekat dengan


Iskender.


  Sevgi mucul di saat Iskender benar benar membutuhkan seseorang untuk berada di sisinya. Dia adalah perempuan yang apa adanya. Tidak menutup nutupi kekurangan, atau memamerkan kelebihannya.

__ADS_1


Tetapi Iskender tidak kuat dengan sifat keras kepalanya. Dia selalu mengalah untuk Sevgi. Membiarkan perempuan itu selalu menang.karena sikap saling menghargai


dan menghormati yang mereka tunjukkan.


__ADS_2