
BEKLEMEDIGIM BIR
ANDA GIRDIN HAYATIMA
Issabel bangun lebih awal dari Iskender. Dia melihat Amca itu masih tertidur dengan nyenyak. Seperti
sangat lelah di hari kemarin, atau sedang memimpikan seseorang. Issabel tidak tega untuk merepotkannya.
Dia membiarkan seluruh bagian selimut menutupi tubuh Iskender. Kemudian dia bangkit dari tempat tidur. Ke kamar mandi, membersihkan badadnnya, mengosok giginya dan memakai pakaian. Issabel kelihatan sangat pintar. Dia belajar melakukan hal hal dengan caranya sendiri.
Tiba tiba telepon berdering. Alarm.
Issabel menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Lalu dia mengklik ponsel yang lantas membuat suara nyaing tidak enak di dengar itu seketika berhenti. Isskender belum juga terbangun.
Setelah Issabel menyisir rambutnya, menemplokan sedikit bedak di wajahnya dan bercermin sebentar, dia merasakan perutnya keroncongan. Dia lekas mengambil kursi untuk dapat menaikinya dan memerikas apa yang di atas meja. Dia membuat beberapa tumpukan roti keju dengan selai kacang
dan coklat dibaliknya. Lalu menuangkan air mineral ke dalam dua gelas panjang.
Tak berapa lama, Iskender membuka matanya. Dia terkejut bukan main ketika menyadari Issabel tidak ada disampingnya. Dia bangkit kebigungan dan terdiam saat mendapati Issabel tengah sarapan sambil
menonton televisi dengan volume yang kecil.
“Is-sabell.”
“Kamu melakukannya semua sendiri?”
Gadis kecil itu tersenyum lebar. Giginya menjadi hitam karena cokelat.
Iskender duduk berhadapan dengannya.
“Zeki cocuklar ( anak cerdas ).”
Lalu dia mencoba roti berselai yang penampilan nya sedikit berantakan itu.
Iskender tidak tahu bagaimana tanggapan Ziyadh dan Beelah jika mereka mengetahui ini.
Issabel tumbuh dengan sendirinya di castel.
“Hari ini kita kemana, Amca?”
“Ke Hotel.”
“Lalu??”
“Aku banyak pekerjaan, Issabel.”
“Oo.”
“Kamu bisa menggambar atau menonton film di ruangganku.”
“Tapi aku ingin bermain.”
“Evet, kamu boleh bermain apapun sesukamu.”
“Aku ingin bermain dengan Amca.”
“Hari ini tidak bisa.”
“Sebentar saja.”
__ADS_1
“Kita lihat nanti ya.”
Issabel mengangguk. Dia berharap sekali Iskender akan menyisihkan sedikit waktunya
untuk bermain dengan nya. Issabel ingin mereka bermain Turkey’s Checker dan
Satranc lagi. Atau adam yang tiba tiba datang sekedar menemaninya main Rozana
dan Amina. Dia benar benar butuh teman bermain.
-----------------------------------------------------
“Amca.”
Issabel memulai percakapan.
“Ne?”
“Aku bosan kalau diruangan Amca sendirian.”
“Lalu?” tanya Iskender sembari fokus mengemudi mobil menuju Uner Hotel.
“Aku ingin bekerja juga.”
Mendadak Iskender menginjak rem. Membuat kendaran di belakangnya ikut berhenti tiba
tiba, dan mereka mengklakson beberapa kali sampai Iskender kembali melajukan
mobilnya.
“Kamu mau bekerja apa? Kamu masih kecil, Issabel.”
“Oo, evet istiyor istiyor istiyor
(aku mau, aku mau, aku mau)
jadi re-res.....” Issabel terbata bata
“Re-sep-si-yo-nist.”
“Tanam, itu.”
Setengah jam kemudian mereka tiba di hotel, Iskender langsung memberi pengarahan pada
karyawan karyawannya. Issabel gadis kecil berusia 6 tahun, rekan baru mereka.
Dalam sekejap anak itu menjadi idola semua department. Eren dan Gizem sangat
senang pekerjaannya dibantu, dan mereka gemas sekali dengan Issabel.
Iskender berharap Ziyadh dan Beelah mengampuninya juga kali ini.Issbael memakai fatigues, sepatu flat hitam mengkilap, sedikit make up, rambutnya di kuncir kuda, dan berdiri di atas kursi kantor yang bisa
berputar. Dia menyapa siapa saja yang baru datang dan melewati resepsionis. Tugas Eren dan Gizem menjadi lebih ringan hari ini. Issabel menjadi primadona cilik Uner Hotel.
Otuz dakika (30 menit), kemudian. Telepon bagian Eren berdering, dia ingin mengangkatnya namun Issabel mengangkatnya terlebih dahulu. Eren dan Gizem langsung waswas, mereka lekas memasang kuping lebar lebar disisi resepsionis baru tersebut.
“Merhaba.”
“Saya di kamar 415. Saya ingin handuknya diganti, dan errikan saya sepasang sandal baru. Sekarang!” Senut si penelepon . seorang wanita berusia 40-an yang berbicara dengan tegas.
__ADS_1
“Mengapa kamu meminta handuk dan sandal padaku? Kamu siapa?”
Eren dan Gizem lantas menepuk jidad serentak.
Si penelepon kesal.
“Hey! Apa hotel ini sudah
berubah menjadi tempat karaoke? Yang tidak menyediakan handuk dan sandal. Aku
meminta pada mu tolong berikan aku handuk dan sandal. Sekarang!”
“Mengapa kamu menyuruh ku?”
“Hey!”
“Suruh saja pelayan hotel yang
lain atau temanmu atau baba atau anne mu.”
Mendengar itu raut wajah Issabel menjadi sendu. Eren segera mengambil alih telepon,
sementara Gizem menunggu gadis kecil itu mengatakan sesuatu.
“Dia meminta handuk dan sendal pada ku. Dia bilang suruh saja baba atau anne mu.”
Gizem ikut tenggelam dalam luka pilu Issabel, yang mencoba menahan air matanya keluar.
“Issabel, canim, yang menelepon tadi seperti waktu itu kamu menelepon dan bilang kamu haus. Kami akan melaporkannya pada yang bertugas dan mereka akan membawakan apa yang kamu
butuhkan. “Jelas Gizem sehati hati mungkin.
Issabel tampak berfikir.
“Tapi dia menyuruh Baba atau anne ku.”
“Dia hanya tidak tahu kamu yang mengangkat teleponnya, Issabel meminta maaf padamu . maafkan teyze yang menelepon tadi ya canim.”
“Eum.”
Mereka menjauh dari gadis itu. Mereka perlu untuk diskusi.
“Kudengar orang tuanya sudah meninggal, Gizem.”
“Oo, Pantas saja.”
“Dia lucu. Tapi mau sampai berapa lama dia menjadi rekan kerja kita?”
“Katanya hanya hari ini.”
“Sepertinya dia kesepian.”
“Ku lihat begitu.”
“Tidak ada anak seusianya disni.”
Gizem mengganguk. Dia dan Eren tahu kalau Iskender bukan tipe laki laki yang memiliki selera humor yang tinggi. Mereka bahkan belum pernah melihat Iskender menyapa seorang anak kecil di sekitar Uner Hotel ini. Issabel menjadi yang pertama dan mereka melihat Iskender sudah cocok untuk menjadi seorang baba. Pasangannya adalah seorang yang beruntung.
__ADS_1
Telepon kembali berdering. Dengan sigap Gizem mengangkatnya. Dia tidak ingin kejadian barusan terulang.