
Sevgi mucul di saat Iskender benar benar membutuhkan seseorang untuk berada di
sisinya. Dia adalah perempuan yang apa adanya. Tidak menutup nutupi kekurangan,
atau memamerkan kelebihannya. Tetapi Iskender tidak kuat dengan sifat keras
kepalanya. Dia selalu mengalah untuk Sevgi. Membiarkan perempuan itu selalu
menang. Karena sikap saling menghargai dan menghormati yang mereka tunjukkan, itu yang membuat hubungan mereka mampu bertahan sampai saat ini.
Tok...... Tok..... Tok......
Iskender mengetuk pintu rumah
Sevgi. Sebuah rumah di permukiman yang di sekelilingi oleh pusat pertokoan.
“Merhaba, canim, Hosgeldiniz.”
Sevgi menyapa dengan cerita ketika dia membuka pintunya.
“Hos bulduk.”
Pandangan Sevgi lalu beralih ke Issabel. Gadis kecil itu tersenyum simpul.
“Merhaba, Issbbael. Gunaydin.”
“Gunaydin, Teyze.”
“Oo, kamu memanggilku Teyze. Manisnya.”
“Haydi, kita pergi.”
Dia sudah cukup senang melihat Sevgi dan Issabel saling menyapa untuk pertama
kalinya.
Sevgi duduk di depan, di samping iskender Iskender. Issabel di belakang. Mobil
bergengsi itu melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Issabel menyembulkan
wajahnya di antara mereka. Sevgi dan Issabel memang masih sedikit kaku. Kedekatan mereka tidak benar benar mengalir. Iskender menganggap itu hal yang bisa. Anak kecil tidak selalu langsung cocok dengan setiap orang yang ditemuinya. Apalagi sikap Sevgi di awal pertemuan mereka di castel kemarin kurang menyenangkan. Namun kali ini sudah lumayan.
“Kita mau ke mana, Amca?”
__ADS_1
“Lihat nanti ya, Issabel. Kamu harus bersabar.”
“Evet, evet, evet.”
Satu setengah jam kemudian, mereka tibba di sebuah perkebunan elma (apel).
Amasya ini memang terkenal dengan provinsi pertumbuhan elma terbaik di Turki.
Mereka disambut oleh seorang bapak tua yang berambut ikat, panjang dan keputihan. Dia adalah pengurus perkebunan ini.
“Hosgeldiniz, sayin (tuan/bapak) Iskender.”
“Hos bulduk, efendim.”
“Perkenalkan ini Sevgi dan Issabel.”
“Merhaba, efendim.”
“Merhaba, sen cok guzelsin, Issabel.”
“Tesekur ederim.”
“Haydi, sayin.”
Bapak tua itu mengajak Iskender, Sevgi dan Issabel untuk mengikutinya menuju perkebunan. Mereka
“Ben hala kafam karisik (aku masih bigung).”
Sevgi memulai percakapan saat dia dan Iskender memiliki waktu berdua.
“Mengapa Ziyadh dan Beelah menitipkan Issabel padamu? Bukan pada Adem atau yang lainnya.”
“Mereka mempercayai ku.”
“Bagaimana bisa? Iki hafta? Dan kamu belum mengenal Issabbel sebelumnya, keluarganya, dia anak siapa.”
Iskender terdiam.
Issabeltampak asyik, sibuk sendiri dengan elma elma di sekililingnya.
“Dia urusanku. Tidak ada yang perlu dikhawatirnya.”
__ADS_1
“Urusanmu, urusanku juga.”
“Tidak semua, Sevgi.”
“Neden?”
“Issabel lain.”
Sevgi mengembuskan napas dengan berat. Dia menyerah kali ini. Tetapi bukan berartidia kalah. Iskender hanya ingin dia tidak mempermasalahkan kehadiran Issabel. Namun Sevgi punya rasa. Gadis kecil itu sudah menguasai waktu Iskender. Semakin sedikit jatah Sevgi untuk bisa mendapatkan ruang di detik Iskender yang begitu padat.
“Dia seperti anak kandungmu sendiri. Padahal dia anak siapa saja tidak tahu.”
“Sevgi.”
“Ne? Perkataan ku yang mana yang menurutmu salah?”
Tiba tiba Issabel sudah berada di depan mereka. Anak itu menatap mereka. Anak itu menatap mereka dengan sayu. Iskender mengembuskan napas pelan. Sementara Sevgi melayangkan pandangannya ke arah lain.
“Amca, ben aciktim (aku lapar).”
Issbael selalu menjadi yang utama. Sevgi sadar itu. Dan dia harus mengalah atau dia
akan benar benar tersingkirkan.
Iskender membawa Issabel ke mobil. Dia memberikan gadis kecil itu dua buah roti keju dan
teh dalam botol.
“Mengapa Amca dan Teyze Sevgi bertengkar?”
“Ha-hayir.”
“Kami hanya sedang membicarakan sesuatu.”
“Membicarakan apa?”
"Tentang pekerjaan, Issabel.”
“Oo.”
“Habiskan makanan mu. Lalu kita kembali ke perkebunan lagi.”
__ADS_1
“Tamam, Amca.”
Iskender mengembuskan napasnya. Lega. Issabel benar benar punya rasa ingin tahu yan besar. Dia nyaris selalu tidak memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukan anak itu. Jika ada Adem, mungkin sahabatnya tersebut akan sangat membantunya.