Pandemik

Pandemik
PROLOG


__ADS_3

Terkadang, aku berpikir keras tentang diriku sendiri. Entah, apa yang membuat seseorang sepertiku berada di dunia ini. Aku tak tau apakah di luar sana ada yang sepertiku. Yang jelas, aku akan lebih bersyukur jika tidak ada di dunia ini.


 


Di antara yang lainnya, mereka mengganggap diriku sebagai manusia paling bodo amat. Yah, memang kenyataannya seperti itu. Saking tak pedulinya sampai-sampai aku tak peduli dengan diriku sendiri. Terkadang.

__ADS_1


 


Ada seseorang yang pernah berkata padaku. “Setidaknya jangan bodo amat pada dirimu sendiri!” begitu katanya. Dia mengatakannya dengan wajah yang marah, seolah-olah dia sangat menginginkan hal itu. Wajar saja, sebenarnya juga aku tak begitu peduli dengan apa yang terjadi padaku. Mati juga tak apa.


 

__ADS_1


Walaupun begitu, aku tidak bisa menuntut mereka tuk menjadi seperti diriku. Lagian, aku sudah muak dengan semua bualan orang-orang. Mereka mengatakan ini dan itu, di belakang dan di depanku. Entahlah, apa yang mereka bualkan. Aku hanya menganggap gelombang suara mereka sebagai suara anjing yang menggonggong di malam hari.


Aku rasa itu tak masalah. Setidaknya, aku hidup dengan caraku sendiri. Dan aku tidak merasa telah mengusik mereka, para anjing-anjing malam yang suka menggonggong.


 

__ADS_1


__ADS_2