Pandemik

Pandemik
The Beginning Of Change [II]


__ADS_3

Dari semua yang aku baca, itulah kesimpulan yang dapat di ambil saat ini. Namun aku masih penasaran, bagaimana dengan satu sampel yang hilang kendali? Apakah dia juga ikut lenyap?


“Vin!” Destian berlari ke arah kami berdua.


“Ada apa? Apa kalian mendapatkan sesuatu?” tanyaku.


“Saat kami menghitung mayat yang ada, kami hanya menemukan 19 mayat. Dan, tabung penelitiannya ada 20. Yang satu kemana?”


“Sepertinya dugaanku benar.” Aku mengusap daguku. “Kami menemukan dokumen-dokumen yang berisi informasi tentang penilitian ini. Dan data mengatakan ada satu sampel yang hilang kendali, kemudian menghancurkan semuanya.”


“Apa kemungkinan sampel itu yang hilang? Jadi, dia masih hidup?” tanya Destian.


“Kemungkinan begitu,” jawabku. “Kita tidak tau seperti apa hasil penelitiannya, yang jelas berhati-hatilah jika menyusuri ruang penelitian.”


“Baiklah.”


 


Untuk saat ini, kami belum menemukan petunjuk yang lebih lanjut. Tiba-tiba aku mendengar suara dari arah ruangan ketiga.


 


“Apa kalian mendengar suara?” bisikku pada mereka bertiga yang berjalan di belakangku. Kami pun terhenti.


“Dimana?” tanya Destian dengan suara lirih sambil mengendap-endap mendekatiku.


“Kelihatannya di ruangan depan itu.” Aku menunjuk ke sebuah pintu yang tertutup.


Kami pun berjalan dengan pelan, dan akhirnya sampai di depan pintu yang aku maksud.


“Kita masuk sekarang?” tanya Destian sambil memegang gagang pintu.


“Ok.” Aku dalam posisi siap dengan kedua pedangku. “1... 2... 3...”


Pintu pun terbuka dan kami langsung menghunuskan senjata masing-masing. Ternyata, tak ada apa-apa di ruangan ini. Hanya beberapa tumpuk kardus.


“Coba kau periksa kardus-kardus itu,” suruhku kepada Destian.


Dan ternyata setelah kami menggeledahnya, kami menemukan seseorang yang masih hidup. Pakaiannya sama seperti mayat yang aku dan Yuli temukan di ruangan dua. Aku rasa dia juga anggota para peneliti di sini.


“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku ketika aku mendekat. Dia masih terkapar berusaha ingin berdiri.


“Ya, siapa kalian?” tanyanya sambil menatap kami berempat.


“Kami adalah orang-orang yang selamat.” Aku berusaha menjelaskan.


“Aku kira sudah tidak ada lagi yang tersisa. Bagaimana kalian bisa sampai di sini?” Dia terus bertanya tentang kami.


“Bisa dibilang, banyak hal yang telah terjadi. Dan mungkin karena kami beruntung hingga kami bisa sampai ke sini,” jawabku.


“Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan penelitian ini?” Destian menyela dengan pertanyaan.

__ADS_1


“Penelitian yang gagal. Padahal sudah dirancang beberapa tahun yang lalu. Aku salah satu peneliti di sini. Namaku Alphian Leonard,” jawabnya.


Seketika aku teringat, ternyata dugaanku dan Yuli salah. Yang di sana bukanlah mayat peneliti itu. Karena dia masih hidup di sini.


“Ini bukumu?” Aku menunjukkan sebuah buku yang aku dapatkan tadi.


“Oh, iya. Itu hasil penelitianku.” Dia pun mengambil buku itu dari tanganku. Aku tak menyangka ada peneliti semuda ini. Aku kira orang yang bernama Alphian ini sudah sedikit tua. Ternyata masih seumuran dengan kami. Mungkin dia peneliti termuda di sini.


“Apa kau bisa menceritakan apa yang terjadi di sini?” pintaku padanya. Dia pun mengangguk dan mulai menceritakan semuanya.


“Saai itu, penelititan pertama bersampelkan 30 orang mengalami kegagalan karena penolakan serum di dalam tubuh sampel. Dalam percobaan pertama, 10 orang meninggal.”


“Tunggu dulu,” Destian menyela. “Berasal dari mana orang-orang yang menjadi sampel itu?” tanyanya.


“Mereka adalah narapidana yang bisa dibilang, telah dijatuhi hukuman mati.”


Kemudian dia melanjutkan penjelasannya.


“Setelah percobaan pertama, kami melakukan percobaan lagi. Kali ini, kami menggunakan sampel yang tersisa 20 orang. Dan entah kenapa, satu sampel mengalami penerimaan yang berlebihan dan menyebabkan serum di sampel lain mengalami evolusi. Yang akhirnya menjadi virus yang mematikan.”


Setelah itu dia diam.


“Tapi, kenapa pandemik ada di seluruh dunia sedangkan hanya di sini yang mengalami kegagalan?” tanya Lia.


“Kemungkinan koneksi antar virus yang memicu. Serum tersebut memiliki koneksi dengan serum lain melalui gelombang elektromagnetik. Jadi, virus yang berevolusi di sini akan memicu evolusi virus lain,” terangnya.


“Sejak awal aku penasaran. Apa tujuan penelitian ini sampai-sampai menggunakan sampel manusia?” tanyaku.


“Evolusi manusia,” jawabnya singkat. Aku masih kurang mengerti.


“Tujuannya adalah menciptakan manusia yang memiliki kemampuan di atas manusia normal. Serum yang kami buat akan meningkatkan produktivitas sel-sel tubuh. Dan juga meningkatkan kemampuan otak, serta hal-hal lainnya.”


“Dan... berapa kemungkinan berhasilnya?”


“70 persen,” jawabnya singkat.


“Oh satu lagi. Kemana satu sampel yang mengalami penerimaan berlebihan atau apalah itu? Kami tak menemukan mayatnya.” Tiba-tiba Destian menyela dengan pertanyaan.


“Dia belum mati. Dia adalah sampel yang berhasil.”


Seketika aku dan Destian saling menatap sambil mengerutkan alis. “Jadi, sampel itu masih hidup? Dan sekarang dimana?” tanyaku.


“Aku tak tau pasti. Yang jelas, dia sampel dengan kode 021. Dia berbahaya, hindari dia sebisa mungkin.”


Aku tak tau pasti bagaimana evolusi manusia yang dia katakan. Tapi yang jelas, kami tak akan mampu untuk melawannya.


“Lalu, apa yang akan kalian lakukan?” tanya peneliti yang bernama Alphian tersebut.


“Hmm... entahlah, kamu juga tidak tau pasti apa yang akan kami lakukan. Yang jelas, kami melakukan apa yang kami anggap menarik,” jawabku.


“Hoho... menarik? Mungkin aku bisa menunjukkan kepada kalian sesuatu yang menarik.” Dia kemudian berjalan menuju ruang tempat percobaan. Kami pun mengikutinya.

__ADS_1


Di ruangan itu, dia mengambil satu kotak seukuran laptop dan meletakkannya ke atas sebuah meja. “Apa ini?” Aku menghampiri kotak tersebut dan ingin membukanya.


“Buka saja,” suruhnya. Aku pun membukanya.


“Ini... serum yang kalian gunakan?” tanyaku kaget setelah mengetahui isi kotak tersebut.


“Ya, serum itu sudah aku sempurnakan. Tingkat keberhasilannya 75 persen. Jika kau ingin menghentikan pandemik, kau harus membasmi pemicu virus tersebut. Selebihnya tak perlu kujelaskan bukan? Aku rasa kau sendiri sudah paham.” Dia tersenyum licik padaku.


“Bagaimana?” tanyaku pada Yuli.


“Itu semua tergantung dirimu,” jawabnya singkat. Aku masih sedikit ragu, tiba-tiba Destian berkata.


“Aku tak begitu paham, tapi apa salahnya mencoba?” Kata-kata anak itu semakin meyakinkanku.


“Aku ingin tanya satu hal.” Aku menutup kembali kotak tersebut dan menatap sang profesor.


“Apa itu?”


“Kenapa kau tidak mencoba pada dirimu sendiri?” tanyaku. Dia hanya diam.


Namun setelah beberapa saat dia pun menjawab. “Aku sudah melakukannya.”


“Dan... apa jadinya?” tanyaku semakin penasaran.


“Hmm, sulit untuk dijelaskan. Aku akan menunjukkan padamu saja.” Dia mulai menggulung lengan jubah putihnya hingga ke siku. “Perhatikan baik-baik.”


Dia langsung mengeraskan genggaman tangannya dan menegangkan otot yang ada di lengannya. Dan seketika, muncul beberapa tulang yang menonjol runcing di bagian luar lengannya membentuk duri besar layaknya ujung pedang. Otot-otot yang ada di lengannya juga terlihat seperti berkontraksi, sehingga mulai menonjol dan berwarna kehitaman.


“Ba-bagaimana kau melakukannya?” tanya Destian memundurkan kakinya karena terkejut.


“Ini yang aku katakan evolusi manusia. Sudah aku katakan tadi, serum yang kami ciptakan akan meningkatkan reproduksi sel dan kemampuan otak. Aku menggunakan reproduksi sel pada tulang hastaku untuk membuat ini.” Dia mengangkat lengan yang penuh tulang tadi dan mengibaskannya ke bawah. Tulang-tulang bagaikan duri tadi pun hilang dan tangannya normal kembali.


“Aku masih tak percaya ini semua benar-benar terjadi,” kata Lia di susul dengan angguka kepala Yuli.


“Yah, dengan semua yang telah terjadi. Aku menjadi paham situasinya. Tidak mungkin kau masih hidup di sini jika kau tidak memiliki kemampuan khusus,” kataku. “Baiklah, kami akan membawa ini.” Aku menepuk kotak di atas meja tersebut.


“Oh iya, bagaimana jika kau ikut saja bersama kami?” Destian menawarkannya pada profesor muda tersebut. Dia hanya diam sejenak, kemudian menjawab.


“Di sini adalah duniaku. Aku hanya ingin bebas dengan melakukan sesuatu yang kuanggap menarik. Sama seperti kalian, tapi sedikit berbeda.”


“Baiklah, jika itu maumu.”


“Apa kau yakin ingin memberikan ini semua kepada kami?” tanyaku.


“Aku tidak peduli. Lagian, serum itu tak bisa aku gunakan lagi. Jadi, kalian bawa saja,” jawabnya. “Pulanglah, aku ingin istirahat.” Dia pun kembali masuk ke ruang tempat kami menemukan dirinya tertidur.


“Pulangkah?” Aku menatap mereka bertiga.


“Skuy.”


...

__ADS_1


**Halo readers! Pandemik udah mau masuk di akhir cerita nih. Gimana menurut kalian? Tuangkan pendapat kalian di komentar yah...


See you next chapter** :)


__ADS_2