Pandemik

Pandemik
P-DAY + 8 : The Beginning Of Change


__ADS_3

06:12


Langit masih terlihat gelap, kelihatannya matahari tak mucul lagi pagi ini. Aku lihat Destian masih tidur, Lia dan Yuli juga masih tak bergerak dalam selimut di sofa. Aku pun tak mengusik dan bergegas turun ke lantai satu. Tak ada apa pun di sini.


Aku kembali ke lantai dua dan menuju teras. Menyandarkan kedua tanganku di pagar besi. Tanganku terasa dingin ketika menyentuh besi itu di pagi hari. Sekeliling, nampak kabut masih menyelimuti atmosfer kota pagi itu.


Terlihat samar beberapa mayat hidup di seberang jalan. Entah, hari ini akan bergerak atau tidak. Mengingat mereka masih seperti itu. Aku jadi merasa bersalah terhadap Destian.


Setahuku, saat sekolah dia selalu bersamanya. Dan sekarang tidak akan mungkin lagi. Mungkin sebaiknya kami tidak melanjutkannya, ekspedisi ini. Tapi, memangnya apa yang bisa dilakukan selain itu? Bertahan hidup juga tak akan menyelesaikan masalah yang ada. Virus sudah tersebar, gerak-gerik pemerintah juga belum terpantau. Terkadang aku bertanya-tanya. Sejauh mana kami bisa bertahan dan akan menemui akhir? Aku takut semua ini hanya sia-sia. Yah, setidaknya ini tidak membosankan.


Mungkin mereka sudah menerima semuanya. Sehingga mereka bisa setenang ini menyelesaikan semua permasalahan yang ada. Walaupun jika dipikir lagi, semua ini tidak masuk akal. Keadaan keluarga kami yang entah bagaimana. Kami hanya bisa menerimanya. Seolah-olah tak ada waktu untuk memikirkan semua itu.


“Sudah bangun sepagi ini?” Suara Destian mengejutkanku dari arah belakang. Aku pun berbalik.


“Kau sendiri? Tak biasanya bangun sepagi ini.” Aku mencoba menghiburnya untuk mencairkan suasana.


“Entahlah.” Dia hanya menjawab singkat dan terdiam di sampingku. Melihatnya begitu, aku pun ikut tertunduk. Dia pun kembali berkata “sudahlah, semuanya sudah terjadi. Hari ini kita harus ke pulau itu kan?”


“Betulan tidak apa? Kita bisa istirahat selama beberapa hari,” jawabku.


“Sudahlah, dia pasti ingin kita melanjutkannya dengan cepat.”


“Mungkin kita berdua bisa sekuat ini, tapi bagaimana dengan mereka berdua?” tanyaku ragu.


“Lia aku rasa sudah menerimanya. Kemarin dia benar-benar mengeluarkan banyak air mata. Yuli juga kemarin bersamamu kan? Aku rasa mereka berdua akan baik-baik saja untuk kedepannya,” jawabnya.


“Ya sudah kalau begitu. Ayo masuk, di sini dingin.” Kami berdua pun kembali ke dalam ruangan.


......


07:21


 


Sejak tadi, aku hanya bermain gim di laptop sambil menunggu mereka berdua bangun. Destian hanya mengotak-atik ponselnya berbaring di atas karpet. Rasanya, aku mulai lapar.


 


“Des? Kau tidak lapar?” tanyaku memecah keheningan.


“Tidak juga, aku tidak tau ingin makan apa,” jawabnya dengan pandangan fokus ke ponsel di genggamannya.


Aku pun turun ke lantai satu, dan mencari sesuatu yang bisa dimakan. Sepertinya ada beberapa makanan yang kami simpan sejak beberapa hari yang lalu. Dan akhirnya aku mengambil sebungkus roti lalu kembali ke atas.


“Sudah bangun?” tanyaku ke Yuli saat dia terduduk dengan mata sayu.


“Hmm... aku mau ke kamar mandi dulu.” Dia pun bergegas menuju kamar mandi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Lia pun bangun. Setelah itu kami sarapan lalu bersiap-siap menuju Pulau Kumala. Aku pikir mereka akan menolak untuk hari ini. Tapi ternyata tidak.


“Saat ini senjata jarak jauh kurang efisien untuk kita gunakan. Aku akan menggunakan katana. Destian menggunakan pedang besarnya. Untuk kalian berdua, bawalah M4A1 ini. Meskipun tanpa amunisi tapi aku sudah memasang bayonet di ujungnya. Itu akan lebih berguna.” Aku melanjutkan penjelasan kepada mereka tentang bagaimana strategi memasuki pulau tersebut.


“Tangga bawah tanah yang kita lihat di video, aku sudah menemukan letaknya. Tidak terlalu jauh dari tempat kita berada kemarin,” jelas Yuli. Dan akhirnya, kami pun berangkat hanya menggunakan Humvee.


09:13


 


Kami menyentuh daratan tepat di Pulau Kumala. Kami berempat tidak turun, hanya berhenti sejenak di antara air dan daratan.


 


“Des! Awasi sekitar. Untuk berjaga-jaga peganglah shotgun ini.” Aku memberikan sebuah senjata api yang masih tersisa kepadanya. Dia pun membuka penutup tengah dan mengeluarkan sebagian tubuhnya untuk mengintai.


“Ada empat di arah jarum jam 13, dua di arah jarum jam 10. Hanya itu yang bisa terpantau.”


“Ke arah mana kita?” tanyaku pada Yuli.


“Arah jarum jam 11 di sana ada tower, lalu di belakang tower akan ada pintu masuk ke ruang bawah tanah,” jawabnya.


“Kalau begitu, aku akan lurus di arah itu. Jika ada mayat hidup yang mendekat tembak menggunakan shotgun. Arahkan lehernya, recoilnya akan naik ke kepala saat peluru menyebar.” Aku mulai menjalankan Humvee.


 


 


“Ini kah tempatnya?” tanya Destian.


“Iya, ayo turun. Kita akan masuk ke dalam.” Aku turun dari Humvee dan menguncinya.


Kami mulai menuruni tangga tersebut. Yang ada hanya sebatas cahaya lampu yang tidak terlalu terang. Tangga ini cukup dalam.


Setelah sampai di dasar, terdapat ruangan yang sangat luas dipenuhi dengan meja-meja dan gelas-gelas laboratorium yang berserakan.


“Apa masih ada orang yang tinggal di sini menurutmu?” tanya Lia.


“Kurasa tidak,” Destain menjawab.


Masih ada satu pintu yang terlihat. Kami berusaha memasuki ruangan tersebut, namun terkunci.


“Bagaimana ini? Pintunya terkunci dan kita tidak tau dimana kuncinya?” tanya Lia.


“Mungkin bisa menggunakan ini.” Aku mengeluarkan sebuah granat. Tiba-tiba Destian mengambil granat itu dari tanganku dan berkata.


“Kau mau kita mati? Ledakannya bisa membuat runtuh bangunan ini.”

__ADS_1


“Oh... iya.”


“Biar aku saja yang buka.” Dia menodongkan shotgun yang dibawanya. Dan akhirnya pintu itu terbuka dengan tiga tembakan.


“Sisa berapa pelurunya?” tanyaku.


“Hmm... entah.” Dia merogoh kantong pelurunya dan menemukan sepuluh butir peluru. Dia menunjukkannya padaku.


“Ya sudah, ayo masuk.”


 


Saat kami memasuki ruangan tersebut, kami dikejutkan dengan puluhan tabung besar yang sebagian sudah pecah bahkan hancur. Tabung tersebut dibuat dari kaca yang tebal. Saat kami mendekatinya, ada sebagian tabung yang masih berisi. Dan isinya adalah...


 


Manusia.


“Apa-apaan ini? Ini... percobaan? Manusia dijadikan objek penelitian?” tanya Yuli keheranan.


“Tidak salah lagi. Kita harus mencari informasi lebih lanjut,” jawabku.


“Ada 20 tabung di ruangan ini. Dan aku juga menemukan buku laporan ini.” Destain memberikan sebuah buku yang nampak kusam kepadaku.


Aku membuka buku itu. Di dalam buku terdapat semua penjelasan tentang penelitian yang sedang dilakukan. Tertulis nama seorang profesor. Alphian Leonard.


“Nama siapa itu? Peneliti yang ada di sini?” tanya Destian.


“Iya. Tapi dimana dia?” tanyaku balik. “Begini saja, karena ruangan di sini cukup banyak. Kita bagi menjadi dua tim.”


“Ok. Aku akan bersama Lia. Kami akan menyelidiki penelitiannya. Kalian berdua coba cari profesor itu saja.” Destian menarik tangan Lia dan mulai menyusuri ruangan.


 


Aku dan Yuli memasuki ruangan baru lagi. Baunya sangat menyengat, mungkin karena kurangnya sirkulasi udara di sini. Di dalam ruangan, kami menemukan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja. Kami tak menemukan seorang pun di dalam ruangan ini. Tapi, di pojok ruangan terdapat satu mayat yang terduduk.


 


“Mayat siapa itu?” tanya Yuli. Aku pun mendekatinya dengan perlahan.


Dia memakai baju jas berwarna putih. Dan saat aku geledah, ternyata dia adalah profesor yang ada di buku tersebut. Dan yah, dia telah mati.


Akhirnya, kami pun membaca dokumen-dokumen dan buku yang kami temukan. Di dalam buku diterangkan manusia yang menjadi percobaan berjumlah 30 orang. Pada percobaan pertama, mereka mengalami kegagalan. Akibatnya, 10 orang yang menjadi kelinci percobaan meninggal.


Kemudian mereka melanjutkannya lagi. Kali ini percobaan tersebut hampir berhasil. Tingkat kecocokan sampel terhadap serum sekitar 78%. Namun, saat proses masih berjalan, satu sampel hilang kendali. Serum yang dibatalkan secara paksa menjadi virus yang mematikan dan menyebar keluar. Dan jadilah pandemik.


**Halo readers! Thanks yang udah ngedukung Author[s] selama ini yah... Jangan lupa buat like, komen, dan vote yah..

__ADS_1


See you next slide** :)


__ADS_2