
08:34 AM
“Kalian berdua buat apa?” tanyaku pada Yuli dan Lia yang sedang sibuk di dapur.
“Kami buat omelet untuk sarapan,” jawab Lia.
“Ngomong-ngomong mereka berdua dimana? Sebentar lagi kamu berangkat kan?” Yuli meletakkan satu omelet matang dalam sebuah piring.
“Mereka berdua ada di ruang depan. Aku dan Ferel yang akan pergi hari ini. Kalian butuh sesuatu tidak?” tanyaku.
“Hmm... bahan-bahannya masih lengkap, cukup banyak. Carikan saja gas untuk kompor jika ada. Karena yang satu ini sepertinya tinggal sedikit.” Lia menengok ke arah sebuah tabung gas.
“Baiklah. Kami akan carikan nanti.” Aku membawa perlengkapan ke ruang depan.
“Ferel! Ayo berangkat. Aku akan menyetir Humvee. Kita tinggal lewat jalan sebelah barat lalu menyeberangi sungai bukan?” tanyaku.”
“Iya. Buka saja penutup atasnya,” jawabnya.
Humvee memiliki kemudi yang letaknya berlawanan dengan mobil pada umumnya, yaitu di kiri. Jadi, bagi orang yang tak biasa mengendarainya akan cukup sulit. Humvee memiliki sebuah pintu bulat di bagian atas untuk mengintai. Biasa juga digunakan untuk menembaki musuh saat sedang berjalan.
Kami berdua pun berangkat menuju tempat tujuan. Aku menyetir sedangkan Ferel mengintai dengan HK416 di tangannya. Kami terus menyusuri jalanan, menyeberangi sungai, dan akhirnya sampai di tempat tujuan.
“Coba kita lihat apakah pintu itu terkunci.” Ferel turun duluan dan melangkah mendekati pintu kaca. “Sudah kuduga. Pintunya terkunci,” gerutunya sedikit kesal.
“Menyingkirlah, aku akan tembak dinding kacanya.” Aku membuka pengaman M4A1 yang aku bawa dan mulai membidik. Satu persatu peluru menembus dinding kaca tersebut. Dan akhirya, dinding kaca tersebu berlubang.
“Awasi sekitar sebelum kita masuk!” perintah Ferel. Kami berjalan mengendap dalam posisi siaga. Mulai melangkah perlahan melewati serpihan-serpihan kaca yang tersebar.
“Disini ada sebuah perangkat komputer. Kelihatannya komputer ini cukup tangguh, spesifikasinya tinggi sekali,” kata Ferel.
“Bawa saja. Masukkan kedalam kotak paketnya. Jangan sampai ada bagian-bagian yang tertinggal.” Aku terus menyusuri penjuru ruangan. Sebuah komputer sudah, sekarang tinggal mencari adapter dan antenanya.
“Aku akan masukkan semuanya ke dalam Humvee. Kau cari saja yang lainnya. Karena hanya kau yang tau.” Dia mengangkat sebuah kotak besar.
Sejauh ini aku hanya menemukan berbagai macam laptop yang terjejer rapi dalam lemari kaca. Hingga pada akhirnya aku melihat sebuah laptop yang menarik perhatianku, dan aku membawanya.
Setelah sekitar 15 menit. Aku menemukan sebuah adapter beserta antena dengan beberapa perlengkapan yang akan diperlukan. Semuanya aku masukkan dalam sebuah kotak besar. Lalu aku membawanya ke dalam Humvee.
“Apa kau sudah menemukan semuanya?” tanya Ferel yang sedang duduk di atas Humvee.
“Sudah. Sekarang kita cari tabung gas. Mereka bilang tabung gasnya sudah hampir habis,” jawabku.
“Tak perlu. Aku sudah mencarinya. Aku membawa tiga tabung.” Dia mulai masuk ke dalam mobil.
“Dari mana kau mendapatkannya?” tanyaku sedikti heran.
“Itu di depan sana. Ada supermarket 24 jam.” Dia menunjuk ke seberang jalan.
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu. Kita pulang sekarang!” Aku mulai menyalakan mesin.
.........
Jarum jam tangan menunjukkan pukul 10 lebih. Kami baru saja sampai di manshion. Aku dan Ferel menurunkan semua barang jarahan yang kami dapat.
“Semua sudah lengkap? Yuli?” tanyaku.
“Ya. Kurasa ini semua cukup. Aku akan mencoba membuatnya. Bantu aku Vin!” jawabnya dengan tatapan tajam ke arahku.
“Iya iya. Aku akan bantu.” Aku mengambil sebuah kotak dan mulai melangkah masuk.
“Apa yang ada di kotak itu?” tanya Yuli menghentikan langkahku.
“Laptop. Aku menginginkan laptop ini, jadi aku mengambilnya,” jawabku.
“Wow. Bukankah ini ROG? Aku sangat ingin memiliki laptop ini sejak dulu.” Tiba-tiba Destian datang menyambut laptop yang kubawa.
“Lihatkan? Kurasa laptop itu akan berguna.” Aku tertawa kecil.
“Ya sudahlah. Terserah kalian.” Yuli kembali membedah seisi kardus besar.
Yuli mengeluarkan seisi kardus dan mulai memisahkannya perbagian-bagian. Aku mengikutinya dari belakang, lalu mulai membantunya.
“Iya, listriknya masih berfungsi.” Aku mulai mengambil beberapa perangkat dan mulai merangkainya. Setelah itu, kami mulai menyalakan komputer tersebut.
“Bagaimana dengan perangkat yang lainnya?” tanyaku.
“Tunggu, aku akan memasangnya. Buka program Command Prompt. Kemudian masukkan kode program yang ada di adapter itu.” Dia terus mengotak-atik sebuah antena. “Pasang antena ini di tempat yang tinggi, kabelnya cukup panjang.” Dia mulai mengambil alih susunan program yang ada di komputer. Kemudian aku pun merampas antenanya dan mulai menempatkannya di posisi yang tinggi.
Setelah setengah jam mengotak-atik semua perangkat, akhirnya proses pun selesai. Dan jaringan dapat kami akses di komputer. Yuli pun mulai membuka semua pusat informasi dalam internet tentang apa yang terjadi di dunia ini.
“Tidak banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari internet,” kata Yuli ketika semua telah berkumpul di depan layar.
“Jadi, bagaimana ini?” tanya Destian.
“Dalam internet normal atau Surface Web, info yang ada tidak banyak dan kurang akurat. Kemungkinan semua itu disembunyikan sehingga kita tak dapat mengaksesnya. Tapi kita tetap bisa jika menuju tingkatan internet yang lebih dalam,” terang Yuli.
“Maksudmu, Deep Web?” tanyaku.
“Ya, ada kemungkinan juga data yang paling akurat tersembunyi di dalam tingkatan Dark Web, tingkatan internet yang paling dalam. Hanya beberapa persen saja dari populasi dunia ini yang dapat mengaksesnya,” jawabnya.
“Memangnya kau bisa mengakses hingga tingkat itu?” sela Ferel dengan pertanyaan.
__ADS_1
“Deep Web mungkin aku masih bisa mengaksesnya. Tapi jika Dark Web, sepertinya tidak bisa. Aku akan coba dulu.” Yuli kembali terfokus pada layarnya, entah apa yang diperbuatnya.
Setelah sekitar setengah jam, Yuli mulai menyerah. “Huh! Aku sudah tak sanggup lagi,” keluhnya menghela nafas. Sejak setengah jam tadi hanya aku dan dia yang ada di depan layar. “Yasudah istirahat saja dulu. Sudah sore, kamu belum makan bukan?” tanyaku.
“Baiklah, aku akan makan.” Dia beranjak dari tempatnya menuju dapur.
Aku pun pergi ke kamar. Mereka berdua ada di dalam ternyata, Destian dan Ferel.
“Kalian sedang apa?” tanyaku menyadarkan mereka yang terfokus pada layar laptop.
“Tidak ada, kami hanya ingin tau tentang laptop ini.” Mereka kembali terfokus.
“Kalian sudah menyambungkannya ke jaringan?” tanyaku lagi. Sekarang aku berada di dekat mereka menatap layar, penasaran dengan apa yang mereka perbuat.
“Sudah,” jawab salah satu diantara mereka. Terlihat mereka sedang membuka sebuah situs dan beberapa fitur yang ada di laptop spek tinggi tersebut.
“Kelvin! Kesini sebentar!” teriak Yuli tiba-tiba memecah keheningan dari arah luar.
“Ada apa?” Aku berjalan ke arahnya yang sedang terfokus kembali pada layar komputer.
“Lihatlah, aku menemukan artikel ini,” jawabnya.
“Ini kan? Cicada 3O1? Apa dirimu berhasil membuka tingkat Deep Web?” Aku keheranan.
Kemudian dia hanya mengangguk seolah mengiyakan. Mendengar suara kami yang sedikit keras, Destian pun keluar.
“Apa itu Cicada?” tanya Destian yang baru saja datang.
“Cicada 3O1. Tidak ada yang tau pasti itu apa. Banyak yang mengatakan bahwa itu adalah sebuah organisasi internasional yang merekrut orang-orang dengan kemampuan tinggi dalam memecahkan masalah, contohnya hacker. Biasanya mereka memposting artikel-artikel yang berisi teka-teki yang sangat sulit. Dan jika ada orang pertama yang memecahkannya, maka mereka akan merekrut orang tersebut menjadi anggota,” terangku.
“Memangnya apa yang mereka posting saat ini?” Destian mulai mengarahkan pandangan ke layar komputer. “Apa maksud sebuah kalimat itu?” tanyanya penasaran.
“Entahlah, selalu begini. Mereka hanya memberikan sebuah kalimat sebagai petunjuk pertama,” jawabku.
Dalam artikel tersebut terdapat satu halaman yang tertera sebuah kalimat berbahasa inggris dan beberapa aksen yang sama sekali tidak jelas, serta tertanda Cicada 3O1.
“Coba terjemahkan kalimat itu!” suruhku. Setelah Yuli menerjemahkannya, artinya adalah ‘Putar roda kehidupan dan temukan intinya! Semuanya hilang’.
“Apa mungkin petunjuknya ada pada kata yang ditebali? Kata ‘turn’, ‘core’, dan ‘everything’ diberi penebalan. Apa artinya?” tanya Yuli.
“Arti masing-masing dari ketiga kata itu adalah putaran, inti, dan semuanya.” Aku berpikir keras terhadap teka-teki ini.
“Sepertinya ketiga kata tersebut tak terlepas dari dua kode yang ada di bawah itu. Entah kode apa itu,” sela Destian.
Cukup lama kami mencoba untuk memecahkan teka-teki tersebut, namun hasilnya tetap saja belum pasti. Hari sudah mulai larut, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkannya besok.
__ADS_1
**Halo readers! Thanks yang udah apresiasi.. Jangan lupa vote, like, dan komen yah..
See you next chapter** :)