
“Senjata biologis? Mungkin ini ada kaitannya dengan peristiwa pandemik.” Spontan Yuli menyimpulkan.
“Ya, tapi kita tidak tau bagaimana bisa pandemik ini terjadi dan apa hubungannya dengan perusahaan ini,” jelasku. “Apa kamu bisa mencari letak perusahaan ini?” tanyaku.
“Hmm... sejauh ini aku sudah mencoba mencarinya, tapi tetap saja tidak ada hasilnya. Tapi, aku sempat melihat beberapa angka dan titik.” Dia menunjukkan yang dia maksud kepadaku.
“Titik koordinat. Ya, ini adalah titik koordinat.” Spontan aku langsung mengetahuinya. “Coba bukakan peta dunia!” suruhku.
Setelah peta dunia terbuka, aku menginput semua titik koordinat yang ada. Jumlahnya sangatlah banyak. Setelah selesai di pindai, terdapat banyak tempat yang menjadi titik koordinat tersebut.
“Kenapa tempatnya begitu banyak?” tanya Yuli.
“Kemungkinan itu adalah cabang perusahaan. Disini ada tiga titik yang menjadi pusat perusahaan itu.” Aku menunjukkan semua titik pada Yuli di layar komputer.
“Rusia, Amerika, dan Jerman? Bukankah selama ini mereka selalu bersaing dalam segala aspek?” tanyanya keheranan.
“Aku tak tau. Mungkin selama ini persaingan diantara mereka hanyalah konspirasi untuk menyembunyikan persekutuan yang mereka bangun,” jawabku masih ragu.
“Haah, aku semakin pusing dengan semua ini.” Dia menyandarkan diri di sofa sambil menghela nafas.
“Ini seperti keajaiban saja. Tak pernah terbayangkan aku akan mengalami hari-hari seperti ini. Menguak misteri tentang permasalahan dunia bahkan menyelidikinya.” Aku pun ikut menyandarkan diri ke sofa.
“Kamu pikir, kamu saja yang berpikiran seperti itu? Jika orang lain ada di posisi kita, mungkin mereka akan menyerah dan terima saja apa yang terjadi, pasrah. Tapi, kenapa kita tidak?” Dia menatap ke arahku.
“Entahlah, aku tak tau pasti. Mungkin, kenyataan ini telah mengubah pola pikir kita semua,” jawabku.
“Oh iya, ngomong-ngomong mereka belum datang juga. Padahal sudah jam setengah satu,” keluh Yuli.
“Sebentar lagi juga datang. Tunggu saja.” Aku merebahkan diri di sofa. “Aku ingin tidur.”
“Hei! Kamu belum makan lagi bukan? Cepat makan dulu! Setelah itu tidur.” Dia menarik-narik tanganku.
“Iya iya... aku akan makan dulu.” Kami berdua pun berjalan menuju dapur.
Setelah selasai makan, aku pun kembali duduk di sofa. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang datang.
__ADS_1
“Itu mereka sudah datang.” Yuli langsung keluar menghampiri mereka. Aku pun menyusulnya dari belakang.
“Kenapa kalian lama sekali?” tanyaku.
“Tadi ada hambatan sedikit, kami harus melawan beberapa zombi,” jawab Ferel. Dia kemudian masuk dengan membawa sebauh kardus.
“Ada yang perlu kita bicarakan nanti.” Tiba-tiba dia berbicara dengan nada serius. Aku hanya diam dan mengiyakan.
“Barang yang aku suruh carikan sudah ada?” tanya Yuli pada Lia.
“Iya ada,” jawabnya.
Setelah itu, kami pun membersihkan semua barang dan merapikannya. Terlihat Destian dan Ferel sedang mengisi ulang persenjataannya. Aku pun menghampiri mereka berdua.
“Amunisi kita masih ada?” tanyaku.
“Ada, lumayan.” Ferel mengencangkan kunci pada pelatuk.
“Kalian tadi sempat melawan beberapa mayat hidup ya? Memangnya kalian pergi kemana?” tanyaku ke Ferel.
“Iya, ada beberapa zombi yang menyerang tadi. Kami mencari makanan dan pakaian di dekat lampu merah, setelah tepian,” terangnya.
“Kau mandilah duluan setelah Destian. Aku ingin beristirahat sebentar.” Aku membaringkan diri di sofa. Ferel hanya bergumam mengiyakan sambil terus menghitung peluru.
....
Hari sudah semakin gelap. Aku baru saja selesai mandi. Aku mengambil HP dan melihat jam, ternyata sudah jam enam sore.
“Kelvin! Kalau sudah ke ruang depan ya!” teriak Destian tiba-tiba.
“Iya!” Aku pun bergegas ganti baju kemudian langsung pergi ke ruang depan.
__ADS_1
Terlihat mereka semua telah berkumpul di ruang depan, walaupun Yuli tetap ada di depan layar komputernya. Aku pun duduk di sofa dan membuka kata.
“Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan?” Mataku menatap Destian.
“Saat kami melawan beberap zombi tadi. Terlihat perbedaan antara zombi yang kita lawan sejak pertama kali dengan yang ini,” terangnya.
“Maksudnya berbeda?” tanyaku penasaran.
“Saat kita melawannya dulu, mereka tidak terlalu agresif dan terkesan lemah. Tapi yang kami lawan tadi, mereka lebih agresif dan lebih tangguh. Biasanya satu peluru mengenai tubuh mereka saja, mereka akan tumbang walaupun tidak mati. Tapi, tadi zombi-zombi itu tetap berdiri. Bahkan pergerakan mereka menjadi semakin cepat dari biasanya,” jelasnya panjang lebar.
“Jadi, mereka seperti meng-upgrade diri begitu?” tanya Yuli yang tiba-tiba terhenti menatap layar komputernya.
“Iya. Mungkin saja,” tebak Ferel.
“Tapi apa mungkin virus yang ada pada zombi itu berevolusi?” Lia membuka kata yang dari tadi hanya diam.
“Maksudnya berevolusi?” tanya Ferel tak paham.
“Maksudnya, virus-virus yang ada pada zombi itu semakin hari semakin kuat sehingga dapat merubah kondisi pada inangnya,” jelas Lia.
“Yang jelas kita harus lebih berhati-hati jika melawannya,” sambung Lia.
“Oh iya, ada yang ingin aku sampaikan juga pada kalian. Kalian tau teka-teki kemarin bukan?” tanyaku menatap mereka bertiga.
“Iya tau. Apa kalian berhasil memecahkannya?” tanya Lia penasaran.
“Kami berhasil memecahkannya, namun bisa dibilang belum sepenuhnya,” jawab Yuli.
“Jadi, apa yang kalian ketahui?” Lia mendatangi Yuli yang ada di depan layar komputer.
“Dari teka-teki tersebut, kami mendapatkan sebuah nama. Dan setelah kami telusuri di Deep Web ternyata nama tersebut adalah sebuah nama perusahaan yang mengembangkan senjata biologis dan sedang dirahasiakan oleh pemerintah,” jelasnya.
“Apa nama perusahaan itu?” tanya Destian penasaran.
“Plague Inc.”
Cukup lama aku dan Yuli menjelaskan tentang apa yang kami ketahui. Setelah berbincang bahkan berdebat mengenai permasalahan tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahinya dan istirahat, karena hari sudah larut malam.
__ADS_1
**Halo readers! Thanks buat apresiasi kalian semua..
See you next chapter** :)