Pandemik

Pandemik
P-DAY + 6 : The Journey Is Started


__ADS_3

05:43


 


Pagi ini kami sudah siap untuk meninggalkan manshion. Aku dan Destian mengusung semua barang ke dalam mobil. Yuli dan Lia mempersiapkan beberapa pakaian. Sedangkan Ferel mengambil semua senjata yang masih berada di dalam.


 


“Sudah semuanya?” tanyaku pada Destian.


“Sudah.”


“Baiklah, aku akan menyetir Humvee. Destian akan menyetir mobil satunya. Kalian pilih saja ingin ikut dimana.” Aku mulai mengambil senjata yang aku perlukan.


“Aku akan ikut Kelvin, karena semua perangkat ada disana,” kata Yuli.


“Aku ikut Destian saja.” Ferel membawa sisa senjatanya ke dalam mobil Pazero.


“Kamu Lia?” tanya Yuli.


“Hmm... aku ikut Kelvin saja bersamamu.”


“Des, gunakan ini untuk berkomunikasi.” Aku melempar sebuah radio kepadanya.


“Dari mana kau mendapatkan radio ini?” tanya dia heran.


“Hasil jarahan.”


.........


 


Kami pun memulai perjalanan tepat pukul enam pagi. Sepertinya pagi ini matahari tak akan timbul, nampak dari tebalnya kabut dan langit yang berwarna keabuan. Di dalam perjalanan, semuanya nampak suram. Seperti, kota mati.


Aku memimpin dan mobil Destian ada di belakang. Terkadang setiap beberapa menit kami berkomunikasi lewat radio untuk menanyakan keadaan. Yuli ada di kursi depan di sampingku, sedang fokus dengan layar laptopnya. Sedangkan Lia berada di belakang, sesekali dia mengintai lewat lubang tengah atas Humvee.


Saat ini, kami masih berada di jalan yang kanan kirinya penuh pepohonan. Masih sekitar satu jam sejak kami berangkat dari manshion.


 


“Vin, jaringannya hilang,” keluh Yuli.


“Jelaslah, kita sekarang berada di sekitar hutan,” jawabku.


“Aku kira kita sedang berada di ketinggian. Jika di ketinggian ada kemungkinan jaringan tetap ada.”


“Tidak, kita ada di lembah.” Aku terus fokus menyetir karena jalanan yang penuh lika-liku.


 


Sejak tadi, kami tak melihat satu pun mayat hidup. Wajar saja, tidak mungkin mereka dapat menempuh hingga ke hutan. Tiba-tiba radio digenggamanku bergetar.


 


“Bagaimana keadaan di depan? Over.” Suara Destian dari radio.


“Aman. Ikuti saja kami, jika kami berhenti kalian juga berhenti. Over.”


“Ok.”


 


Kami menggunakan radio supaya menghindari tiadanya sinyal. Karena jika menggunakan jaringan telepon, kemungkinan jaringan akan mudah terganggu. Jadi kami menggunakan jaringan satu jalur lewat radio.


 


“Kamu sedang apa?” tanyaku ke Yuli yang sejak tadi fokus dengan laptopnya.


“Tidak ada, aku hanya bosan. Jadi aku bermain gim.” Dia tak mengalihkan pandangan.


“Memangnya mata kamu tidak sakit? Menatap layar di dalam mobil yang bergerak?” tanyaku lagi.


“Tidak.” Dia hanya menjawab singkat.


Aku menoleh ke belakang sepintas untuk melihat Lia. Dari tadi dia sama sekali tak bersuara, ternyata dia tertidur.


11:23


“Kamu tidak lelah, Vin?” Yuli menutup laptop dan menyudahi permainannya.


“Tidak juga. Sudah mainnya?” tanyaku balik.


“Sudahin. Aku bosan, koneksinya lambat,” keluhnya.


Aku mengambil radio dan mulai menyalakan sinyal. “Destian, bagaimana keadaan kalian? Over.”

__ADS_1


“Keadaan baik. Over.”


Aku melihat jam, hari sudah mulai siang. “Kalian butuh istirahat tidak? Sudah siang hari. Over.”


“Lanjutkan perjalanan.”


Setelah itu sinyal dimatikan. Akhirnya, kami memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan sehingga bisa sampai di kota sebelum malam hari.


“Lia, tolong ambilkan minum di kursi belakang,” suruhku.


“Ini.” Dia menyodorkan sebotol air minum yang masih tersegal tutupnya.


“Bukain, aku masih fokus menyetir.” Aku menoleh ke arah Yuli.


“Buka sendiri.” Dia menatapku sekilas lalu mengalihkan pandangan.


“Aku sedang menyetir ini loh. Butuh fokus.”


“Iya iya. Aku bukain.” Dia mengambil sebotol air minum dari genggamanku.


 


Semenjak pagi tadi. Matahari tak terlihat dengan jelas, hanya samar-samar tertutup awan. Padahal sudah tengah hari. Aku terus fokus menyetir, mungkin kami baru setengah perjalanan. Masih memerlukan enam jam lagi.


 


.........


15:34


 


Hari sudah mulai sore, saat ini kami masih berada di jalanan atas bukit. Sekelilingnya hanyalah pohon-pohon yang tumbuh besar.


 


Sebentar lagi kami sampai di daerah perkotaan. Namun, semenjak kami memasuki area bukit, suasana menjadi semakin aneh.


 


Saat kami sampai di daerah perkotaan, kami pun memutuskan untuk berhenti di suatu tempat.


 


“Kita akan istirahat?” tanya Destian yang baru saja keluar dari dalam mobil.


“Aku tak melihat mereka di sekitar sini,” kata Ferel.


“Mungkin karena ini di pinggir kota, jadi tidak banyak dari mereka yang kemari,” sahut Lia.


“Des? Dari tadi aku penasaran, apakah kau merasakan hal yang sama saat kita menyusuri bukit tadi?” aku berbalik dan menatap Destain sambil terus mengunyah roti.


“Jadi, kau juga merasakannya ya?” duga-nya.


“Kalian merasakan apa?” tanya Lia penasaran.


“Suasana aneh sejak kita memasuki bukit yang kita lewati.”


“Ya, aku juga merasakan ada yang aneh,” kata Yuli. Ferel hanya mengangguk.


“Benarkah? Sepertinya aku tak merasakan apa-apa.” Lia mencoba mengingat kembali.


“Bukannya dirimu tertidur?” tebakku.


“Oh iya! Aku tertidur. Hehe,” dia hanya meringis dan menggaruk kepala.


“Jadi, apa yang akan kita lakukan saat ini?” tanya Destian.


Mendengar pertanyaannya aku jadi sedikit kebingungan dan mulai berpikir. “Entahlah, tapi aku benar-benar penasaran dengan bukit tadi.”


“Kau mau menyelidikinya?” tanya Ferel.


“Hmm. Tapi aku rasa itu hanya buang-buang waktu saja.” Aku mencoba mempertimbangkan segala kemungkinannya.


“Ya sudah, kita lanjut saja. Di Tenggarong kita harus siap dengan segala kemungkinannya. Kita juga harus mencari tempat yang aman di sana.”


 


Aku pun mengurungkan niatku untuk mencari tau tentang bukit tersebut. Dan kami akhirnya melanjutkan sisa perjalanan menuju Kota Tenggarong.


Selama perjalanan, kami melewati bangunan-bangunan yang tak berpenghuni. Terkadang kami melihat beberap mayat hidup yang berkeliaran. Dan yang mengherankan lagi. Para mayat hidup tersebut terlihat sedikit berbeda.


Seperti yang kami duga sebelumnya, mayat hidup mulai berevolusi. Mereka mulai memiliki pertahanan dan kekebalan tubuh yang lebih baik. Bahkan pergerakan mereka mulai menjadi lebih cepat. Pada awal peristiwa pandemik ini dimulai, mereka hanya mampu berjalan dengan kecepatan 1 km/jam. Tapi sekarang, mereka bisa berjalan layaknya manusia normal. Hanya saja, mereka belum mampu untuk berlari seperti manusia pada umumnya.


 

__ADS_1


“Vin! Coba lihat itu!” Yuli mengangetkanku dengan perkataannya yang tiba-tiba. Kulihat dia menunjuk ke arah samping. Aku pun melambatkan mobil dan menoleh.


 


Aku dibuat terkejut ketika melihat apa yang dia tunjuk. Sebuah pohon besar yang batangnya merekah berisi cairan merah kegelapan. Dan saat aku amati betul-betul, cairan tersebut mirip dengan darah.


 


Aku pun memberhentikan mobil. Aku keluar dan disusul dengan mereka.


“Ada apa tiba-tiba berhenti?” tanya Destian yang menghampiriku.


“Lihatlah itu!” Yuli menunjuk ke arah pohon tadi.


“Apa itu? Pohonnya seperti berdarah.” Destian terkejut begitu melihat pohon tersebut.


Mereka berdua maju perlahan mendekati pohon. Namun tiba-tiba segerombolan mayat hidup datang dari balik pohon tersebut.


“Des! Tembak!” teriak Ferel. Dia menembakkan beberapa peluru ke arah pohon. Destian sudah mulai mengangkat senjatanya.


“Hentikan! Hemat amunisi kalian. Cepat masuk ke dalam mobil, kita tinggalkan tempat ini.” Aku berlari ke arah Humvee bersama Yuli dan Lia. Mereka berdua menyusul dari belakang.


“Yuli! Tarik penguncinya dan lemparkan pada mereka.” Aku memberikan sebuah granat padanya. Humvee mulai berjalan dan Yuli melemparkan granat tersebut dari atas lubang pengintai.


Seketika saat kami meniggalkan tempat tersebut bersamaan dengan meledaknya granat. Terlihat dari kejauhan asap yang disebabkan ledakan tadi.


“Saat ini kita harus mencari tempat aman. Over.” Destian menghubungiku dari radio.


“Baiklah, sebentar lagi kita sampai di Tenggarong.”


 


Kami pun melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi. Di depan sudah mulai terlihat jembatan yang menghubungkan kota. Kini langit sudah mulai gelap. Pulau Kumala mulai terlihat dari atas jembatan.


Kami memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan besok pagi. Saat ini kami harus mencari tempat aman terlebih dahulu.


 


19:22


 


Semenjak tadi, kami telah sampai di Kota Tenggarong, namun kami juga belum menemukan satu pun mayat hidup. Mungkin saat ini kami sedang beruntung. Untuk saat ini kami istirahat di sebuah gedung dua tingkat. Kelihatannya gedung ini bekas kantor bank.


Untung saja kunci pintunya tertinggal, jadi kami bisa menguncinya. Dua mobil kami parkirkan di luar tepat di sebelah kanan depan pintu. Di dalam gedung lantai pertama terlihat seperti telah terjadi kepanikan. Kursi dan beberapa berkas berhamburan dimana-mana, ada beberapa ruang yang tak terpakai. Tapi lantai duanya kelihatan bersih, dengan beberapa sofa dan televisi serta meja yang penuh dengan berkas.


 


“Kita bersihkan dulu ruangan ini. Tumpuk saja berkas-berkas itu di pojokan.” Aku mulai menggeser beberapa meja dan kursi.


“Barang-barang kita disimpan dimana?” tanya Lia.


“Kalian letakkan saja di ruang atas, lantai dua,” jawab Destian.


“Kita nanti tidur dimana Vin?” Ferel menggeser kursi terakhir.


“Terserah kalian ingin tidur dimana. Yang penting berbagi dengan mereka berdua.” Aku mencoba untuk naik ke lantai dua.


 


Di lantai dua ruangannya lebih luas, bahkan di sini ada kamar mandi. Ada dua sofa panjang, satu meja dan kursi, serta ada karpet yang lumayan luas. Aku rasa ini adalah tempat manager bank tinggal.


 


“Pintu sudah kalian kunci?” tanyaku pada Destian dan Ferel yang baru saja naik.


“Sudah.”


“Bahkan kami meletakkan beberapa meja di balik pintu. Karena pintunya kaca,” jawab mereka.


“Oh begitu, baguslah.”


“Tempat ini nyaman ya.” Ferel tiba-tiba duduk di sofa.


“Kita akan tidur disini. Lia dan Yuli tidur di sofa, kita bertiga di karpet.”


“Baiklah, aku akan ambil barangku di bawah.” Ferel beranjak turun.


 


Aku dan Destian menyusun tempat untuk tidur, begitu juga dengan Yuli dan Lia. Begitu Ferel selesai membereskan barangnya. Kami memutuskan untuk istirahat malam itu.


 


**Halo readers! Thanks atas semua dukungannya selama ini yah.. Jangan lupa like, komen, dan vote...

__ADS_1


See you next chapter** :)


__ADS_2