Pandemik

Pandemik
Calm Down [II]


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Masih belum terlalu siang sebenarnya. Kami berkumpul di ruang depan. Tak tau apa yang harus kami lakukan.


“Sinyal masih belum ada ya?” tanya Destian membuka percakapan.


“Lebih tepatnya. Tidak akan pernah ada mungkin,” jawab Ferel.


“Jika saja kita bisa membuat sinyal sendiri disini. Ataupun jaringan,” kataku berharap.


“Mmm, mungkin aku bisa membuatnya. Tapi kita membutuhkan beberapa perlengkapan,” saut Yuli.


“Oh iya kamu maniak komputer bukan? Aku baru ingat,” kataku mengingat.


“Bisa-bisanya kamu lupa! Padahal yang biasanya bantu buat program kamu.” Yuli menampakkan wajah cemberutnya.


“Ehem ehem, sepertinya terjadi pertengkaran karena sang suami yang tidak peka.” Destian yang berada di sampingku menyikut.


“Diamlah!” Aku menatapnya tajam.


“Tapi kau memang seperti itu. Orang bodoh yang harus diketok dulu supaya peka.” Dia tertawa terbahak-bahak dengan Ferel.


“Sudahlah! Aku akan jelaskan apa yang harus dibutuhkan. Kalian cari barangnya besok!” Yuli menyela ditengah tawa mereka berdua.


“Aku membutuhkan satu adapter Wi-Fi, satu perangkat komputer spesifikasi tinggi, antena, dan beberapa perlengkapan lainnya. Perlengkapan yang lain tanya saja pada Kelvin. Dia pasti tau,” jelasnya.


“Hah? Aku?” tanyaku sedikit kaget.


“Jangan-jangan kau masih tidak peka Vin?”


Destian kembali tertawa terbahak-bahak.


“Bukan begitu! Aku hanya bingung saja Yuli akan membuat apa.” Tanganku menjitak kepala Destian.


“Aku tak bisa membuat sinyal. Karena jika pusatnya sudah tidak berfungsi lagi, maka semuanya juga tak akan bisa. Tapi jika jaringan internet sepertinya masih bisa. Karena jangkauannya ada di seluruh dunia. Kita bisa menangkap gelombang terkuatnya menggunakan antena,” jelas Yuli.


“Oh begitukah? Baiklah aku tau perlengkapan apa yang harus dicari,” kataku yang baru saja paham.

__ADS_1


“Jadi besok kita akan keluar lagi?” tanya Ferel yang dari tadi hanya tertawa.


“Iya, kali ini kau dengan Kelvin yang keluar. Aku akan menjaga tempat ini,” jawab Destian.


“Baiklah, besok kita gunakan Humvee saja. Jika menggunakan Humvee kita tak perlu memutar melewati jembatan untuk sampai ke seberang.” Ferel beranjak dari sofa. Kemudian disusul dengan Destian dan Lia.


 


Jam menunjukkan pukul sebelas, sebentar lagi siang. Mereka berada di kamar masing-masing. Aku dan Yuli saja yang berada di ruang depan. Sebenarnya aku ingin keluar, namun cuaca sangat panas.


 


“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” tanya Yuli tiba-tiba.


“Tidak ada. Aku ingin istirahat saja.” Aku membaringkan badanku di sofa panjang. Yuli sekarang berada di dekat kepalaku.


“Kenapa tidak tidur di kamar saja? Nanti kamu bisa jatuh!” serunya.


“Tidak usah, disini saja. Aku hanya ingin istirahat sejenak,” jawabku sembari mulai menutup mata.


“Ya sudah. Sini kepala kamu.” Dia berusaha mengangkat kepalaku. Aku menurut saja, dan ternyata dia berniat untuk meletakkan kepalaku di pangkuannya. “Sudah, tidurlah.” Dia mengusap pelan keningku. Karena aku cukup lelah, mataku mulai tertutup hingga akhirnya aku tertidur.


 


Aku terbangun dari tidurku, masih dalam posisi dan kondisi yang sama. Mata sipitku melirik kearah jam dinding. Jam dinding menunjukkan tepat pukul 2 siang. Ternyata hari sudah berlalu siang.


 


“Sudah bangun?” tanya Yuli tiba-tiba.


“Apa aku tertidur?” Aku bangun dan duduk di sofa. “Dimana yang lainnya?” sambungku.


“Tidak tau. Aku juga baru saja bangun. Sepertinya aku juga tertidur,” jawabnya.


“Aku akan ke kamar sebentar.” Kuberanjak dari sofa dan berjalan menuju kamar. Ternyata mereka berdua, Ferel dan Destian masih terlelap. Aku pun kembali ke ruang depan.

__ADS_1


“Apa mereka masih tidur?” tanya Yuli.


“Ya, sepertinya mereka sangat kelelahan.” Aku mendarat di sofa tempat aku duduk sebelumnya.


“Ngomong-ngomong, bagaimana Ferel bisa memakai senjata itu? Kelihatannya dia sangat handal saat menggunakannya tadi,” tanya Yuli penasaran.


“Aku tak tau pasti. Yang aku tau, kami hanya penggila gim FPS. Mungkin di dalam gim kami handal. Tapi, aku masih tidak menyangka akan benar-benar menggunakannya di dunia nyata. Dan itu terjadi begitu saja,” jawabku.


“Banyak yang telah berubah hanya dalam satu hari. Dunia saat ini bukanlah dunia yang kita kenal dulu.” Dia menatap ke arah luar jendela.


“Mungkin kamu benar. Setidaknya kita harus bertahan disini. Di dunia lama yang telah berevolusi.”


.........


 


Hari sudah mulai sore. Matahari sudah memancarkan sinar merahnya pada awan. Jam menunjukkan pukul 6 lewat 16 menit. Aku baru saja selesai mandi. Baru saja memasuki kamar dengan handuk di punggung. Sesekali aku mengecek sinyal di HP. Namun, pada akhirnya sama saja. Tetap tak ada sinyal sama sekali.


 


“Besok kita cari barang-barang itu dimana?” tanya Ferel.


“Kelihatannya toko elektronik besar yang ada di tengah kota itu lengkap.” Aku meletakkan HP yang dari tadi ada di genggaman.


“Tapi, apa kita bisa masuk ke dalam sana?” tanya Ferel lagi.


“Entahlah, sepertinya bisa. Toko itu mempunyai dinding kaca. Jika semua pintu terkunci, kita bisa menembaki kacanya,” jawabku.


“Daripada kita membuang peluru. Kenapa tidak terobos saja menggunakan Humvee? Kendaraan itu pasti kuat.” Dia mulai beranjak dari atas kasur dan keluar kamar.


“Apa kau sudah gila? Jika kita masuk dengan benda sebesar itu. Kemungkinan kita akan merusak beberapa properti yang ada di sana. Dan peluang tertariknya mayat hidup itu akan lebih besar dibandingkan dengan menembaki kacanya dengan peredam.” Aku mengikutinya keluar kamar.


“Oh iya, betul juga kau.”


......

__ADS_1


**Halo readers! Salam sapa dari Author[s] ya! Terima kasih untuk apresiasinya...


See you next chapter** :)


__ADS_2