Pandemik

Pandemik
P-DAY + 14 : The Last Battle


__ADS_3

07:12


“Kita harus menyelematkannya sekarang!” teriak Destian. Dia kemudian bergegas ingin keluar gedung.


“Tunggu dulu! Jangan gegabah! Kita harus merencanakan sesuatu!” Aku menarik pundaknya dan menghentikannya.


“Rencana apa lagi? Akhirnya juga kita akan kalah!” dia membantah dengan nada tinggi.


“Kalau begitu kau sama saja bunuh diri jika ke sana sekarang, bodoh! Setidaknya tenanglah sebentar! Aku tau perasaanmu, tapi cobalah untuk berpikir jernih sekarang!” bentakku. Dia menghentikan langkahnya dan terdiam.


“Kelvin benar. Setidaknya kita mempunyai rencana daripada ke sana tanpa persiapan,” timpa Yuli. Akhirnya dia tenang kembali. Dan kami pun mulai menyusun rencana.


“Aku minta dirimu untuk berada di garis belakang. Karena kau hanya punya satu tangan, pasti akan sulit untuk bertarung.” Aku menatap ke arah Destian.


“Baiklah, apa yang akan aku lakukan?” tanya dia.


“Kita masih punya amunisi HK416. Gunakan itu sebagai serangan jarak jauh. Kira-kira kau harus berada 100 meter di belakangku. Aku akan melindungimu dari depan,” terangku.


“Yuli. Kamu seharusnya bisa berlari dengan cepat sekarang. Saat kamu melihat Lia, berlarilah dan coba selamatkan dia.” Aku menoleh ke arahnya.


“Baiklah, aku sudah mencobanya kok tadi pagi.” Dai tersenyum pendek.


“Mencoba berlari? Seberapa cepat dirimu?” tanyaku.


“Sekitar seratus meter dalam satu detik,” jawabnya.


“What! Seriusan? Kamu bisa berlari dua kali lebih cepat dariku?” tanyaku benar-benar terkejut. Dia hanya tersenyum, kali ini senyumannya membuatku kesal. “Apa lagi yang kamu coba?” tanyaku penasaran.


“Oh! Aku mencoba sesuatu. Aku bisa menyembunyikan hawa keberadaanku sebagai zellcontroller,” jawabnya.


“Pantas saja Yuel tadi tak menghiraukanmu.” Aku menggaruk kepalaku. “Oke, semua sudah jelas kan. Kita akan mulai rencananya.” Tak kusangka Yuli akan berkembang secepat ini. Yah, baguslah. Ini sebuah kemajuan.


Pagi itu, kami mempersiapkan semuanya. Lalu berangkat menuju pulau. Aku tau dia ada di sana. Karena aku merasakan keberadaannya, dengan hawa membunuh yang yang sangat kuat.


.........


08:02


 


Tak sampai satu jam, kami telah sampai di pulau. Di tempat pertarungan kami kemarin. Dan dia, telah berada di sana. Aku melihat Lia terduduk di belakangnya, dengan tangan diikat kebelakang.


 


Yuli berada di balik Humvee, sedangkan Destian bersiap dengan HK416 di tangannya. Aku berada tepat di depan Destian, dan sekarang berhadapan dengan Yuel.


“Datang juga kalian rupanya. Kenapa teman besarmu itu tidak maju juga? Haha.” Lagi-lagi dia menyeringai padaku.


“Diamlah! Aku sudah muak melihatmu. Pergilah ke neraka dengan jalanku!” Aku berlari ke depan dengan dua katana. Terus berusaha menebasnya. Namun, dia terus saja menghindar.


“Cih!” Aku berhenti sejenak.

__ADS_1


“Ayolah! Dimana kekuatanmu yang kemarin,” katanya.


“Jangan buat aku untuk mengeluarkannya.” Aku berlari lagi dan melompat tepat di depannya. Aku memposisikan kakiku di atas dan jatuh seperti anak panah tepat di kepalanya.


“Des!” teriakku. Sebuah peluru melesat menuju kepala Yuel.


.........


“Hanya segini kekuatan kalian?” tanyanya.


Aku tak percaya dia bisa menangkis serangan peluru itu. Tidak, dia tidak menangkisnya. Dia hanya menghindarinya dan fokus menangkisku. Dia melakukan dua hal yang sulit sekaligus, kekuatannya meningkat dari pada kemarin.


 


Di saat yang sama Yuli berlari dengan sangat cepat ke arah Yuli dan berusaha meraihnya. Namun, semuanya terlambat. Sebuah lempengan yang di lempar Yuel telah mendarat terlebih dulu di dadanya. Saat itu, aku melihat Lia bermandikan darah. Dan Yuli hanya bisa diam memangkunya. Aku menoleh ke belakang. Destian sudah tak berdaya menerima kenyataannya.


 


Tak ada lagi yang bisa dilakukan... selain itu.


Aku menjatuhkan kedua katanaku. Terus berjalan perlahan mendekati Yuel yang gembira dengan kekejamannya.


“Apa yang kau lakukan ha? Sudah gila ya?” tanya Yuel. Dia maju ke arahku dan menusukku tepat di perut hingga tembus.


Cukup lama aku dalam keadaan seperti itu. Sekarang, aku berada tepat di depan Yuel. Tangannya menembus perutku.


“Apa kau sudah puas?” bisikku. Perlahan aku mendekatinya. Kemudian dengan cepat menggigit bahunya. Dia berteriak kesakitan sambil terus menusukkan tangannya ke perut, dada, dan semua bagian tubuhku. Aku merobek daging bahunya, kemudian menelannya.


“Aaargh! Apa yang kau lakukan? Padahal hanya bekas gigitan, kenapa rasanya sesakit ini.” Dia mundur beberapa langkah dariku dan memegang erat bahunya. Perlahan semua lukaku sembuh begitu saja dengan sangat cepat.


“A-apa? Memakanku? Bagaimana bisa? Jangan-jangan kau...” Dia menoleh ke arah bahunya. Dan bahunya tak mengalami regenerasi.


“Ya, kau benar. Aku adalah... zellcontroller tipe gluttony. Dagingmu sangat buruk ya. Rasanya benar-benar menjijikkan.” Aku meludahkan beberapa darah yang masih tersisa di mulutku. Kemudian aku mendekatinya dengan perlahan. Dia terus mundur. Wajahnya yang penuh dengan senyuman jahat memuakkan berubah menjadi wajah seorang pengecut.


“Ada apa? Bukannya kau mau membunuhku? Kenapa kau malah lari hah?”


“Tidak mungkin! Gluttony hanyalah sebuah bualan. Bagaimana bisa orang sepertimu menjadi gluttony!” Dia terus berteriak sambil terus mundur.


“Ini adalah takdirku. Dan takdirmu adalah... menjadi mangsaku.” Aku melesat ke arahnya.


Dalam sekejap mata aku telah berada di depannya. Aku mencekram kepalanya dan perlahan menekannya. Kini, kepalanya hancur tak tersisa. Dan dia... mati.


 


Perlahan, aku berjalan menuju tempat Lia terbaring. Sedikit demi sedikit tubuhku berubah menjadi normal. Ternyata Destian telah ada di sana. Dan mereka menatapku.


 


“Bagaimana keadaan Lia?” tanyaku begitu sampai.


“Aku baik-baik saja. Hehe.” Dia hanya tertawa kecil. Aku menoleh ke arah lukanya, dan ternyata semua lukanya hilang.

__ADS_1


“Lukamu hilang?” tanyaku terkejut.


“Maaf sudah merahasiakannya. Aku telah memakai serum itu, makanya lukaku bisa regenerasi.” Dia menunduk.


“Sudahlah. Kita berempat menjadi makhluk sejenis sekarang. Hahaha.” Destian tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang terjadi padanya, dia berubah drastis sejak tadi dia murung.


“Ayo kita kembali sekarang. Pertarungan sudah usai.” Aku mengulurkan tanganku ke Destian.


“Ayo! Aku lapar!” Dia menggapai dan ikut berdiri. Begitu juga dengan Yuli dan Lia.


 


Setelah semua rintangan yang telah kami hadapi. Dan inilah hasilnya, kami berhasil melewatinya satu persatu.


 


13:23


 


Siang itu, kami benar-benar lega telah berhasil melalui semuanya. Dan saat itu, kami kembali berkumpul di ruang lantai dua.


 


“Eh Vin! Apa yang kau maksud dengan gluttony tadi?” tanya Destian setelah menelan makanan terakhirnya.


“Hmm... itu adalah tipe zellcontroller,” jawabku.


“Bagaimana kau bisa mengetahui tipenya?” tanya dia lagi.


“Aku menemukan ini diselipkan di surat Profesor Alphian.” Kusodorkan sebuah kertas yang berisi tulisan tangan padanya. Seketika Lia berpindah tempat dan ikut membacanya.


“Zellcontroller rupanya juga punya tipe ya. Tapi kemungkinannya hanya satu persen. Beruntung sekali kau bisa mendapatkannya,” kata Destian. “Seperti apa cara kerjanya? Kau memakan bagian tubuh Yuel kan tadi?”


“Ya. Aku bisa mendapatkan kemampuan dari mangsa yang aku makan. Kurang lebih seperti itu cara kerjanya,” jawabku.


“Bukankah itu menjijikkan Vin?” Tiba-tiba Yuli penasaran.


“Sebenarnya iya. Sangat menjijikkan.” Wajahku berubah menjadi ekspresi jijik.


“Tapi, semuanya baik-baik saja karena dirimu. Makasih.” Yuli tersenyum padaku.


“Ini semua berkat kita semua. Hehe.” Aku tersenyum kecil.


“Bagaiman kelanjutan kita setelah ini?” tanya Destian.


“Entahlah. Kita hanya perlu hidup dengan cara kita kan,” jawabku.


 


Semuanya berjalan dengan lancar. Dan kami berhasil menyelamatkan dunia. Yah, walaupun kami hanya memiliki peranan dalam daerah kecil ini saja. Setidaknya kami sudah berusaha untuk menyelesaikannya.

__ADS_1


 


.........


__ADS_2