Pandemik

Pandemik
P-DAY + 1 : New Weapons


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku. Hari sudah pagi. Ferel dan Destian masih terbaring di tempat tidur. Aku keluar kamar. Terdengar suara sedikit berisik dari arah dapur. Aku pun berjalan menuju dapur.


“Kalian sudah bangun?” tanyaku kepada Lia dan Yuli.


“Iya. Kira-kira kita sarapan ini saja dulu ya.” Yuli menyodorkan beberapa roti yang kelihatannya dari supermarket kemarin.


“Mereka berdua dimana? Ferel? Destian juga?” tanya Lia.


“Hmm. Mereka berdua masih di dalam kamar. Belum bangun. Padahal sudah jam segini.” Aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 8 pagi.


“Yah, wajar saja. Mereka pasti kelelahan karena kejadian-kejadian kemarin,” sambung Yuli.


Seketika suasana menjadi hening. Ketenangan yang mulai terasa karena sedikit melupakan apa yang telah terjadi, kini telah sirna. Tapi, hal itu membuatku sadar bahwa aku tak boleh melupakan apa yang telah terjadi. Aku hanya bisa menerima dan menghadapinya.


“Huaaahhh... kalian sudah bangun semua ternyata?” tanya Destian sambil menguap.


“Iya sudah. Baru saja,” jawabku.


 


Kami pun berkumpul di ruang depan, sarapan memakan roti. Setidaknya, roti ini bisa memenuhi kebutuhan serat tubuh manusia.


 


“Hari ini apa yang akan kita lakukan?” tanya Destian memecah keheningan.


“Amunisi kita kelihatannya kurang, apakah kita harus mencari lagi?” sambung Ferel.


“Sepertinya begitu. Kita akan keluar dan mencari pensenjataan. Seperti yang aku katakan tadi malam.” Aku mengunyah potongan terakhir rotiku.


“Tapi, dimana kita bisa mendapatkan amunisi senjata-senjata itu? Memangnya di sekitar sini ada tempat seperti itu?” tanya Ferel.

__ADS_1


“Kau benar. Akan sulit mencari amunisi Assault Rifle di daerah ini. Kita cari saja dulu. Jika memang benar-benar tidak ada, kita akan menggunakan senjata seadanya. Setidaknya, kita bisa menggunakan senapan angin. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali,” jawabku.


“Ya sudah. Jadi, siapa yang akan keluar hari ini?” tanya Destian.


“Bagaimana jika kalian berdua saja? Aku akan menjaga manshion. Tubuhku rasanya berat sekali.” Ferel merebahkan tubuhnya di punggung sofa.


“Baiklah, aku dan Destian akan keluar siang nanti. Kau jaga mereka berdua dan manshion ini.” Aku beranjak dari sofa menuju kamar.


 


Untuk saat ini kami harus memperkuat pertahanan terlebih dahulu. Yang terpenting, buat keadaan menjadi lebih menenangkan. Setelah permasalahan keseharian teratasi. Kami dapat melanjutkan penelitian tentang pandemi ini.


 


......


 


 


“Des? Persiapan sudah selesai?” tanyaku kepada Destian.


“Sudah. Tasmu dimana?” tanyanya balik.


“Oh iya, hampir saja lupa. Aku akan ambil dulu. Hehe,” jawabku sambil cengar-cengir.


“Dasar! Dalam situasi seperti ini, kau masih saja seceroboh itu.” Dia mengisi ulang amunisi senjatanya.


“Oke, semua sudah siap. Kurasa tak ada yang ketinggalan lagi. Ayo kita berangkat. Ferel! Kuserahkan yang disini padamu ya!” kataku sambil berjalan keluar bersama Destian.


“Des, tunggu!” teriak Lia.

__ADS_1


“Ada apa? Apa kamu ingin sesuatu?” tanya Destian tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Tidak ada. Aku hanya ingin dirimu kembali dengan selamat. Hati-hati!” jawab Lia.


“Wah, wah. Sepertinya ada seorang istri yang mengucapkan selamat jalan pada suaminya,” kataku sambil tertawa kecil.


“Diamlah! Bu-Bukan begitu maksudnya! Hmph!” Lia mengembangkan pipinya.


“Dasar tidak mau jujur. Tenang saja, aku tak akan membiarkan kekasihmu menjadi mayat hidup.” Aku melangkah menuju mobil sambil tertawa.


“Kau ini! Sudah diamlah. Jangan membuatnya semakin malu. Apa kau tak melihat wajahnya mulai memerah?” tanya Destian.


“Maka dari itu. Lagi pula, memang kenyataannya seperti itu bukan? Wajahmu sendiri juga ikut memerah bukan?” tanyaku balik.


“Tentu saja tidak. Bodoh!” jawabnya kelihatan sedikit kesal.


Kami berdua pun pergi meninggalkan manshion untuk mencari persenjataan.


Jam menunjukkan pukul 1 siang. Kami berdua masih menyusuri jalanan. Kami tak tau apakah masih ada manusia disini. Yang jelas, kami hanya melihat beberapa mayat hidup yang berkeliaran di luar.


“Kelvin! Sepertinya tempat itu.” Dia menunjuk ke suatu bangunan dengan logo senapan di depannya.


“Ya, itu tempatnya. Beruntung tak ada mayat hidup di sekitar sini.” Aku menengok ke segala penjuru mengintai jikalau ada mayat hidup.


“Kelihatannya begitu. Tapi kita tidak tau bagaimana kondisi di dalam bukan? Yang jelas, jika kita harus bertarung. Gunakan pedang dan bayonet saja dulu. Kita tak diuntungkan jika meluncurkan tembakan dan malah memanggil mereka,” kata Destian.


“Aku tau itu.” Aku keluar dari mobil disusul dengan Destian di belakangku.


**Halo readers! Jangan lupa vote, like, dan komen yah... Untuk para Author nanti di feedback kok.. Terima kasih...


See you next slide** :)

__ADS_1


__ADS_2