Pandemik

Pandemik
He's Coming [II]


__ADS_3

Aku mencabut kedua katana, dan sekarang masing-masing berada di genggaman.


Bersiap untuk menebas musuh yang ada di depan. Dengan sekuat tenaga aku berlari sambil menghunuskan pedang di tangan kanan. Pedang di tangan kiri aku gunakan untuk menangkis serangan, karena aku memegangnya dengan bilah pedang posisi di belakang.


 


Begitu aku sampai tepat di sampingnya, aku mengarahkan pedangku tepat di lehernya kemudian berputar untuk menebasnya.


 


Namun, dengan cepat dia berpindah ke samping. Seketika Destian berlari dan menyerangnya dari arah depan. Dia menghantamkan pedang besarnya secara vertikal. Tapi Yuel masih bisa menangkisnya. Kemudian dia mundur beberapa langkah.


Aku dan Destian berlari lagi. Kali ini aku menyerangnya dari belakang dan Destian tetap dari depan. Dengan serangan yang sama, dia menghindarinya. Yuel melompat ke atas dengan kakinya sehingga dia melambung sangat tinggi. Aku dan Destian dalam posisi berhadapan. Saat aku melihat ke atas, seketika aku menyilangkan kedua pedangku untuk menangkis serangannya yang tiba-tiba.


Dia menyerang kami berdua sekaligus dengan kedua tangannya yang berbentuk pedang panjang. Untung saja aku bisa menangkisnya dan mundur ke belakang. Tapi, nampaknya Destian tidak sempat menangkis seluruh serangan Yuel dan terluka. Bahunya terlihat mengeluarkan banyak darah. Dan dia dalam posisi terlutut.


 


Di saat yang sama Yuel mengangkat tangan kanannya dan ingin menebas kepala Destian. Aku langsung berlari ke arahnya dengan sangat cepat dan melompatinya. Tepat ketika aku berada di atasnya, aku menyilangkan kedua katana dan menebas tangan kanannya. Dan akhirnya, nyawa Destian terselamatkan. Aku membawanya mundur.


 


“Kau tidak apa-apa?” tanyaku.


“Tidak apa-apa, sebentar lagi juga regenerasi.” Dia kembali berdiri dan memegang erat pedang besarnya. Dan perlahan luka di bahunya mulai tertutup. Aku kira pertarungannya akan sampai di sini saja, ternyata tidak.


 


Yuel yang kehilangan tangannya tetap berdiri dan mengambil tangan kanannya yang tergeletak di tanah. Kemudian dia menempelkannya lagi dengan bagian tangannya yang masih tersisa di tubuh. Hasilnya, tangan Yuel kembali menyatu seperti semula.


 

__ADS_1


Kemudian dia melesat ke arah kami dengan kedua tangan di depan. Sepertinya dia ingin menyerang kami dengan tusukan. Aku menghindar ke atas, namun Destian tetap berada di tempat dan tak bergerak. Entah apa yang dia rencanakan.


Saat aku kembali mendarat, aku melihat Destian menangkis tusukan Yuel dengan tangan kanannya. Dia menonjolkan tulang telapak tangannya sehingga ujung tulang yang berbentuk pedang milik Yuel bertemu dengan tulang telapak tangan Destian. Itu membuatnya bisa menangkis serangan tajam.


 


Seketika Yuel mengibaskan tangan pedangnya ke arahku yang baru saja mendarat. Aku sempat tak fokus saat menghindar dan terkena sedikit goresan di leher. Rasanya sedikit sakit, tapi tak lama kemudian leherku beregenerasi.


 


Entah kenapa dia menatapku dan menyeringai tajam. Dan di saat dia lengah Destian menebas kaki Yuel. Namun, serangan itu lagi-lagi bisa di hindari oleh Yuel. Baru kali ini kami melawan musuh sekuat ini. Pantas saja profesor itu memintaku untuk tidak meremehkannya.


“Hey... ada apa dengan kalian? Kenapa kalian ingin membunuhku?” tanya Yuel di tengah-tengah pertarungan.


“Makhluk sepertimulah yang menyebabkan pandemik,” jawabku.


“Bukankah itu bagus? Manusia-manusia itu menjadi mayat hidup.” Lagi-lagi dia menyeringai dengan tatapan tajam dan busuk. Aku tau orang ini sudah tak punya akal normal.


“Hah, kalian juga. Bukan manusia lagi kan? Kenapa kalian peduli?” tanyanya. Dia lagi-lagi menatapku dengan tatapan tajam.


“Makhluk sepertimu tidak akan pernah mengerti. Lagian kami berbeda dengan dirimu, bodoh!” Aku berlari dengan cepat ke arahnya.


“Apa kau bilang?” Dia menangkis semua serangan yang kutujukan padanya. Dengan sangat cepat. Aku tak menyangka dia bisa menyaingi kecepatanku.


Cukup lama kami saling beradu. Dia melacarkan serangan ke arahku, dan aku terlempar ke arah Humvee. Tubuhku terpental dan menabrak badan Humvee. Mendengar suara benturan Yuli pun keluar dari Humvee dan menghampiriku.


“Kelvin! Kamu terluka!” ungkapnya. Aku menatap ke arah perutku. Darah sudah mengalir hingga ke kaki ternyata. Sepertinya, aku tak kuat lagi.


“Hoho... ada manusia ternyata di sini. Dua cewek? Apa ini manusia yang berharga bagi kalian?” Dia berjalan mendekat ke arahku yang masih tak berdaya.


 

__ADS_1


Destian mengambil langkah dan berusaha menghentikannya. Namun, sepertinya kekuatan Yuel meningkat. Dan akhirnya, Destian pun ikut terkapar di ujung sana.


 


Dengan tangan kirinya yang telah terpisah. Lia berlari menuju Destian sambil meneteskan air mata.


Dan sekarang, Yuel berada tepat di hadapan kami berdua, aku dan Yuli. Dia mengangkat tangan kanannya. “Mungkin, ini akhir dariku,” pikirku dalam hati. Setelah itu aku mulai menutup mata. Dan seketika, aku mendengar suara tebasan. Suara benda tajam membelah daging, beserta dengan darahnya.


 


Aku membuka mataku kembali. Dan betapa terkejutnya diriku saat aku tau bahwa aku tak terkena tebasannya. Aku mendapati Yuli telah terkapar di depanku dengan darah di punggungnya. Aku panik, takut, benci, marah, semuanya. Semuanya bercampur aduk dalam otakku. Aku ingin menghampirinya namun tak tergerak. Terlihat air matanya berlinang menetes di tanah. Dengan senyuman lega yang ada di wajahnya saat itu.


Seketika, aku terpaku. Tak merasakan apa pun. Rasa luka yang merasuk ke dalam tubuhku kini lenyap, mati rasa. Wajahku kaku, tak mampu diriku untuk bersedih, apalagi menangis. Semuanya hilang...


 


Hilang dalam pandangan, rasa, yang pernah ada. Semuanya hilang.


Hilang tak tersisa...


Entah aku berada di mana sekarang ini. Tapi, semuanya telah berakhir. Semuanya gagal, dan menghilang.


Selamat tinggal... dunia.


(Hening)


...


**Halo readers! Bentar lagi ending nih.. Thanks yang selama ini udah dukung Author[s]..


See you next chapter** :)

__ADS_1


__ADS_2