
Jujur saja, aku hanya mencoba untuk tak gaduh. Sebenarnya dalam hatiku bercampur perasaan takut dan gelisah. Aku pun tak tau bagaimana keadaan keluargaku. Hanya ini yang dapat aku lakukan.
Kami bertiga pun memutuskan untuk mengamati para mayat hidup dari dalam kelas. Pintu kami kunci dan dan diberi penghalang lemari serta meja. Jendela kaca semuanya kami kunci. Ada sebagian tas-tas para murid yang masih tertinggal.
Kami mulai mengamati para mayat hidup tersebut, mulai dari pergerakan, interaksinya, dan lain-lain.
“Hey Rel! itu kakak kelas yang cantik itu kan? Kalau jadi zombi mukanya aneh.” Destian berbicara kepada Ferel sambil tertawa kecil.
“Ayolah, kalian ini. Masih saja mengatakan hal-hal yang konyol,” kataku kepada mereka.
Setelah kami mengamatinya selama satu jam. Akhirnya kami mendapatkan beberapa data. Mayat hidup tersebut hampir tidak memiliki indra lagi, semua indranya hampir mati. Sistem regulasinya juga sudah tak berfungsi. Pergerakan mereka lambat, sepertinya mereka hanya mampu berjalan dengan kecepatan kira-kira 1 km/jam.
Dan mereka hanya peka terhadap suara. Dengan kata lain kami dapat keluar asalkan tidak menimbulkan suara yang keras. Satu hal yang harus diingat, jangan sampai tergigit. Gigitan para mayat hidup akan membuat orang yang digigit menjadi mayat hidup seperti mereka. Sepertinya mereka memiliki virus mematikan.
Sekarang jam menunjukkan pukul sebelas, hari sudah menjelang siang. Kami masih berada di dalam kelas. Ada beberapa makanan dan minuman di dalam kelas. Tapi sepertinya hanya bertahan selama sehari saja.
“Hey! Apakah kita akan melawan mereka?” tanya Ferel menghilangkan keheningan.
“Entahlah. Sepertinya tak ada manusia lagi di sekolah ini. Hanya zombi yang memenuhi lapangan,” kata Destian.
__ADS_1
“Kita tidak memiliki senjata untuk melawan. Tongkat saja tak akan mempan. Saraf mereka mati, jadi meskipun kau tusuk jantungnya, dia tidak akan mati. Mereka hanya bisa mati ketika kau hancurkan kepalanya. Lebih tepatnya jika kau rusak otak mereka,” kataku.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah ruang guru. Terlihat beberapa orang menembaki kerumunan zombi. Aku hanya melihat dua orang, sepertinya mereka tak tau apa-apa tentang mayat hidup itu. Akhirnya kerumunun mayat hidup tadi mengepung dan menggigit mereka berdua. Hasilnya, mereka berdua pun menjadi mayat hidup.
“Siapa dua orang itu?” tanya Destian.
“Entahlah. Aku tak tau. Bahkan mereka memiliki senjata,” jawab Ferel.
“Sepertinya mereka tentara yang menjalankan misi. Entah apa yang terjadi pada timnya, sehingga mereka berdua tertinggal dan mati disini,” kataku.
“Hmm, aku punya ide. Bagaimana kalau kita mengambil senjata dari mereka berdua untuk melawan zombi? Kita akan berjalan kearah mereka secara diam-diam. Bunuh dua zombi itu, lalu ambil senjata mereka. Selama kita tak menimbulkan suara, kita akan aman.” Ferel menyampaikan idenya.
Kami pun mengumpulkan barang-barang yang sekiranya berguna kedalam tas kami masing-masing. Untuk sementara, aku menggunakan penggaris besi panjang untuk jaga-jaga. Sedangkan mereka berdua menggunakan tongkat pramuka. Kami pun perlahan-perlahan keluar dari kelas dan berjalan secara diam-diam.
Dua orang yang menjadi mayat hidup tadi ada depan ruang guru. Kami menjatuhkannya satu persatu. Aku pukul keras kepalanya, lalu mereka berdua menangkapnya agar saat terjatuh tak menimbulkan suara yang keras. Setelah keduanya mati, kami menyeretnya perlahan kedalam ruangan dan menguncinya.
Di dalam ruangan, kami ambil semua persenjataan yang dibawa dua orang tadi. Saat kami menggeledah, kami menemukan dua senjata M4A1, satu pistol tipe desert, beberapa amunisi, peredam suara pada masing-masing senjata, dan dua bayonet. Karena kami bertiga merupakan maniak gim. Jadi, kami paham sedikit tentang persenjataan ini.
“Bukankah ini seperti Resident Evil. Sepertinya asik.” Ferel mencoba membolak-balik sebuah senjata yang diambilnya.
__ADS_1
“Jangan lupa kalau ini dunia nyata. Bukan sebuah gim atau pun film,” sahut Destian.
“Oke. Kalian berdua gunakan senjata M4A1 ini. Ambil amunisinya dan simpan di tempat yang mudah untuk dijangkau. Pasang bayonet untuk pertarungan jarak dekat jika diperlukan. Jangan lupa pasang peredam suaranya untuk mengurangi kebisingan. Kalian pasti tau cara pakainya, tidak mungkin penggila gim FPS seperti kalian tidak mengerti cara menggunakan Assault Rifle. Aku akan menggunakan pistol ini dan sebuah pedang yang ada di atas lemari itu. Dan satu hal yang sangat penting. Jangan sampai tergigit!” kataku kepada mereka berdua.
“Kau seperti komandan saja Vin. Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong dari mana kau tau ada pedang disitu?” tanya Ferel.
“Aku tau. Pedang itu milik ekskul bela diri soalnya.” Aku meraih pedang tersebut.
“Oh iya. Kau kan ketua ekskul bela diri,” kata Destian.
“Baiklah, semua sudah siap. Pertama kita akan pergi ke ruang UKS yang ada disebelah. Kita akan mengambil beberapa obat dan peralatan medis yang dibutuhkan. Setelah itu, kita ke kantor TU mengambil kunci mobil. Lalu keluar dari sekolahan ini menggunakan mobil. Des, kau bisa menyetir bukan? Aku serahkan padamu kuncinya. Dan satu lagi, hindari pertempuran dengan mayat hidup sebisa mungkin. Jika memang harus, gunakan mode burst supaya lebih hemat peluru!” jelasku kepada mereka.
“Baiklah. Ayo kita mulai gim ini!” kata Destian.
Entahlah, sepertinya kami tak memiliki kesadaran yang normal lagi. Setidaknya kami bisa bertahan hingga sekarang. Beginilah cara bertarung dan bertahan hidup kami.
___
**Hy readers! Terima kasih banyak sudah mampir dan membaca ya... Jangan lupa vote, like, dan komen.
Author[s] masih baru di sini. Jadi saran kalian bakal berguna banget..
Salam dari Author[s].. See you next slide** :)
__ADS_1