
Pagi ini, kami meninggalkan tempat istirahat untuk menuju Pulau Kumala. Jam menunjukkan sekitar pukul tujuh pagi. Kami berangkat menggunakan Humvee karena akan melewati medan air. Mesin aku nyalakan, kami pun berangkat.
“Des. Kau bawa shotgun-nya bukan?” tanyaku.
“Iya, aku membawanya.”
“Ok baguslah. Kita butuh senjata jarak dekat, karena kemungkinan kita akan berperang di dalam ruangan.” Aku menoleh ke arah belakang menatap Yuli.
Spontan dia bereaksi “Apa?”.
“Tidak ada. Lupakan.” Aku memalingkan pandangan lagi ke depan.
“Hei! Kenapa?” Dia terus bersikeras untuk tau.
“Tidak ada. Sebentar lagi kita akan berjalan di atas air.”
“Hmph!” Dia cemberut mengembangkan pipinya.
Kami memulai penyelidikan pada pagi hari itu. Jika diperhatikan, pulau ini hanyalah sebuah tempat wisata. Tidak ada yang aneh dengan pulau ini.
“Bagaimana kita menyelidikinya jika kita tak tau apa-apa disini?” tanya Ferel kebingungan.
“Hmm... untuk sementara ini kita cari ruang operator utama. Bisa jadi disana ada perangkat yang berisi data-data.” Yuli menatapku tajam.
Yah, dia ingin aku mencari operator tersebut.
“Baiklah, kita akan mencarinya. Karena perangkat kita terhubung dengan Humvee, maka kita akan mencarinya bersama-sama menggunakan Humvee."
Kami pun menyusuri gedung utama di dekat sumber listrik pulau tersebut. Letaknya di tepi pulau. Dan ternyata, gedungnya terkunci.
“Berikan shotgun-mu.” Aku mengambilnya dari Destian dan melangkah mendekati jendela. Dan aku memecahkan kaca jendelanya dengan memukulnya.
Aku mendahului mereka dan masuk terlebih dahulu. “Ayo masuk.”
Di dalam, sangatlah gelap. “Apa listriknya masih bisa berfungsi?” tanya seseorang dari mereka di tengah kegelapan.
“Aku akan mencari terminal listriknya.” Kunyalakan senter di HP dan mulai menyusuri ruangan. Tak berapa lama kemudian, aku pun menemukannya. Dan beruntung, listriknya masih berfungsi.
Keadaan yang semula sangat gelap pun menjadi terang.
“Aku menemukan sebuah komputer.” Teriak Yuli dari bilik sebelah. Aku pun bergegas untuk kesana.
“Kemungkinan ini adalah komputer operator utama.” Dia masih berusaha menghubungkan beberapa kabel untuk menyalakannya. “Vin. Ambilkan laptop dan nyalakan koneksi jaringannya. Aku akan masuk ke dalam program operator utama dengan virus.”
__ADS_1
Aku pun bergegas keluar untuk melakukan semua perintahnya. Dan ketika aku masuk, komputer telah berhasil dinyalakan. Namun, komputer tersebut memiliki sandi. Yah, kurasa itu bukan perkara sulit baginya.
“Kami akan menjaga di luar.” Destian memukul pundakku dan keluar bersama Ferel.
Di samping itu, Yuli terus berusaha membobol keamanan perangkat tersebut. Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar ruangan.
“Ada apa itu?” semua terlihat kaget dan panik.
“Aku akan melihat keadaan di luar. Kamu fokus saja pada pekerjaanmu. Lia! tembakkan pistol yang aku berikan jika terjadi sesuatu.”
Aku langsung bergegas menuju keluar menghampiri Destian dan Ferel.
“Des! Ada apa?” teriakku tepat setelah melompat dari jendela.
“Zombi-zombi berdatangan!” mereka berdua terus menembaki mayat hidup yang berdatangan. Tapi anehnya, meskipun kepalanya telah ditembus beberapa perulu mereka tidak tumbang. Pergerakan mereka juga menjadi sangat cepat dari biasanya. Bahkan, mereka memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi.
“Mayat hidup disini telah berevolusi. Kita tak akan bisa mengalahkannya hanya dengan menembaki kepalanya.” Aku berlari dari arah belakang sambil mengeluarkan pedang. Dan mengayunkannya ke leher salah satu mayat hidup.
Dan ternyata dugaanku benar. “Kalian! Sasar lehernya. Dia akan mati jika otaknya benar-benar terpisah dari tubunya.”
“Jadi, kita harus memenggal mereka bukan.” Mereka terus melontarkan peluru.
“Ferel! Panggil mereka berdua! Kita pergi dari pulau ini sekarang juga!” Ferel pun bergegas masuk kemudian mengabari mereka.
Tak lama kemudian mereka bertiga pun keluar dari dalam ruangan tersebut. Aku dan Destian berusaha melindungi mereka terlebih dahulu.
“Cepat lari dan masuk ke Humvee!” teriakku.
.
“Vin! Cepat!” Destian berlari menuju Humvee.
Setelah mayat hidup mulai berkurang, aku pun berlari menyusul mereka dan masuk ke dalam Humvee. Kami pun memutuskan untuk mundur terlebih dahulu saat ini.
09:24
Saat ini, kami sedang berada di gedung. Kami mundur karena kehabisan amunisi. Dan tak tau lagi harus mencari amunisi dimana.
“Amunisi kalian masih tersisa tidak?” tanyaku pada Destian dan Ferel.
__ADS_1
“Tinggal F2000 yang masih memiliki amunisi. Senjaat M4 yang aku pakai telah habis,” jawab Ferel. “Bagaimana denganmu?” dia menatap Destian.
“Sisa amunisi AK-47. Karena senjata itu jarang aku pakai.”
“Jadi, tinggal M4 yang aku pakai, AK-47, F2000, dan sebuah shotgun. Dua pistol masih ada bersama mereka berdua juga. Aku masih bisa menggunakan pedang ini.”
“Apa kita perlu mencari persenjataan lagi?” tanya Ferel
“Memangnya kita mau cari dimana?” Destian balik bertanya.
“Yah, siapa yang tau. Mungkin di kota ini ada senjata seperti ini.” Dia menaikkan alisnya.
“Ferel mungkin benar. Tak ada salahnya jika kita mencari dulu,” jawabku menyetujui pendapatnya. Aku pun beranjak dan menuju ke lantai dua.
“Bagaimana informasi yang kamu dapatkan?” tanyaku pada Yuli yang dari tadi berada di depan layar.
“Hmm... tidak banyak yang bisa kita ketahui. Kita butuh informasi lebih banyak lagi.”
“Tidak sama sekali?” tanyaku heran.
“Ada sebagian informasi yang berkaitan. Namun, hanya struktur seluruh pulau dan bangunan-bangunan yang ada di sana saja,” jelasnya.
“Tidak ada yang mencurigakan? Seperti tempat penelitian atau apa?”
“Tidak ada,” jawabnya singkat.
Tiba-tiba Lia mendekat dari arah sofa. “Aku menemukan ini di meja ruangan operator pusat tadi.” Dia menyodorkan sebuah flashdisk. Yuli pun menerimanya.
“Aku tak tau apa isinya. Mungkin ada data-data yang kita perlukan.”
“Baiklah, kita akan cek ada apa di dalamnya.” Yuli menyambungkannya ke laptop.
Begitu dibuka, data yang tertera sangatlah banyak. “Gila! Apa-apaan semua ini?” tanyaku kaget.
“Datanya sangat banyak. Butuh waktu lama untuk menjelajahi semua data ini,” keluh Yuli. Aku pun berpikir sejenak.
“Hmm... kenapa kamu tidak menggunakan program auto found saja?”
“Oh iya. Program yang pernah kita buat saat mencari materi di laptop guru.” Dia langsung sigap kembali fokus ke laptop.
“Hah? Mencari? Maksudmu, mencuri?”
“Ah. Ya. Itu yang sebenarnya.”
Tiba-tiba dia terhenti dan menatapku. “Apa kata kuncinya?” tanyanya. Aku berpikir sejenak kemudian menjawab “nama perusahaan itu bagaimana?”
“Hmm... aku akan mencobanya.” Dia mulai menginput nama Plague Inc.
**Halo readers! Thanks buat semua dukungan kalian... jangan lupa like, komen, dan vote yah.
See you next slide** :)
__ADS_1