Pandemik

Pandemik
P-DAY + 9 : New Power


__ADS_3

09:04


 


Aku baru saja terbangun dari tidurku. Aku menoleh memutar pandangan, hanya aku dan Destian yang masih tertidur. Entah dimana mereka berdua. Sepertinya sudah bangun lebih dulu.


 


“Des! Des!” Aku memukul-mukul lengannya.


“Hmm?” Dia hanya bergumam setengah tertidur.


“Bangun! Sudah siang!” Aku kembali menggoyang-goyangkan tubuhnya yang masih terbaring di atas karpet.


“Sabar kenapa,” keluhnya. Dia pun akhirnya terbangun, terduduk. Dengan mata yang masih sayu setengah terpejam.


Aku pun meninggalkannya dan bergegas turun ke lantai satu. Dan ternyata, Lia dan Yuli ada di lantai satu.


“Kalian sedang apa?” tanyaku.


“Tidak ada. Hanya mencari sesuatu,” jawab Yuli. Dia masih sibuk mencari sesuatu dengan Lia. Aku pun kembali ke lantai dua.


“Hei! Bangun otak kelelawar!” Aku mengambil sebuah bantal dan memukulkannya ke Destian yang masih terbaring, lagi.


“Iya-iya, aku bangun.” Kali ini dia benar-benar berdiri dari tempat dia terbaring, dan meninggalkanku menuju kamar mandi.


 


Aku mengambil ponsel dan merebahkan diri di sofa, hanya untuk menghilangkan bosan.


 


“Vin! Laptop dimana?” tanya Yuli yang tiba-tiba datang.


“Tidak tau. Aku tak pakai.” Mataku kembali fokus ke layar ponsel.


“Seriusan... dimana?” tanyanya masih ngeyel.


“Aku tidak tau... Yuli Fitria!”


“Carikan,” ucapnya sedikit manja. Aku sedikit kesal sebenarnya, tapi pada akhirnya aku tetap mencarikan laptop itu untukya.


Aku ingat terakhir kami gunakan laptop itu untuk memonitor Humvee. Dan ternyata benar saja. Setelah aku cek di dalam Humvee, ternyata laptop itu tergeletak begitu saja di bangku depan. Aku pun mengambilnya dan kembali masuk.


“Ini. Kau meninggalkannya di dalam Humvee.” Aku menodongkan laptop itu kepadanya.


“Hehe... terima kasih.” Kemudian dia langsung menuju sofa dan membuka laptop tersebut.


Aku berniat untuk kembali ke sofa dan melanjutkan gim yang tadi aku mainkan. Tapi, aku teringat suatu hal. Kotak yang diberikan profesor bernama Alphian kepada kami.


“Yuli? Kamu tau dimana kotak kemarin?” tanyaku. Aku lupa meletakkannya dimana.


“Kotak?” Dia berpikir sejenak. “Oh, yang itu. Kalau tidak salah di lantai bawah. Di atas meja.”


Aku pun bergegas turun dan menemukan kotak tersebut. Kemudian kubawa ke lantai atas dan meletakkannya di atas meja.


“Itu kotak yang kemarin kan?” tanya Destian dengan rambut masih basah. Sepertinya dia baru saja mandi.


“Iya. Aku penasaran apa yang akan terjadi jika kita gunakan serum ini.” Aku mulai membuka satu persatu penutupnya.


“Coba aku lihat.” Dia mengambil satu serum dari dalam kotak. Serumnya diletakkan di dalam tabung suntik yang masih terkunci, dengan jarum yang masih terpisah. Saat aku hitung, terdapat 10 tabung serum di dalam kotak tersebut.


“Oh, ada buku.” Aku mengambil sebuah buku yang aku temukan di dalam kotak.


“Buku apa itu?” tanya Destian.


“Entah.” Aku mulai membuka buku itu dan membacanya.


Buku itu semacam buku panduan penggunaan serum-serum yang ada di dalam kotak. Dalam buku tertulis, dosis satu tabung serum hanya untuk satu orang. Cara menggunakannya adalah dengan menyuntikkan serum tersebut ke pembuluh darah.


Efeknya berbeda-beda setiap orang. Serum tersebut akan meningkatkan sebuah potensi yang lebih menonjol pada seseorang. Aku tak begitu mengerti sebenarnya. Dan masih banyak lagi yang dijelaskan buku ini tentang serum itu secara rinci.

__ADS_1


“Coba aku lihat buku itu.” Lia mengambil buku itu dari tanganku.


“Jadi? Bagaimana?” tanyaku menatap Destian.


“Hmm... aku sedikit ragu, tapi penasaran juga.” Dia mulai tersenyum.


“Ayo coba!” Aku pun mengambil satu tabung suntik serum.


“Kamu yakin? Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?” tanya Yuli masih ragu.


“Aku menyarankanmu untuk mencobanya pada sesuatu,” ucap Lia.


“Maksudmu?” tanyaku tak paham.


“Coba saja suntikkan serum itu ke hewan. Kita lihat dulu perubahannya.” Dia mengambil sebuah serum dan memasang jarumnya.


“Kau ingin mencobanya pada hewan apa?”


“Cicak.” Dia pergi ke dapur kemudian kembali lagi dengan membawa seekor cicak di genggamannya. Entah dari mana dia mendapatkan binatang itu.


 


Dia menyuntikkan sedikit serum tersebut ke tubuh cicak tersebut, tepat di belakang lehernya. Dan tak berapa lama kemudian, cicak tersebut terlihat membesar. Kemudian tiba-tiba melesat entah kemana. Padahal saat dibawa, cicak tersebut sudah setengah tak sadarkan diri.


 


“Waw! Kau lihat itu?” kejut Destian.


“Ya, aku melihatnya dengan jelas.” Aku masih berdiri tegak tanpa sepatah kata.


“Hmm... ternyata pada hewan juga bekerja. Aku rasa seperti itulah efeknya. Selanjutnya terserah kalian ingin menggunakannya atau tidak.” Lia menatap Destian dan aku.


“Bagaimana?” aku dan Destian masih saling bertanya-tanya.


“Kalian sudah baca semua panduannya?” tanya Lia.


“Belum.” Destian menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Darimana kamu tau semua itu?” tanya Destian.


“Makanya dibaca!” Dia menodongkan buku itu ke Destian.


Aku masih sedikit ragu menggunakan serum itu. Aku menatap Yuli, nampak dia menganggukkan kepalanya. Aku rasa itu tanda bahwa dia setuju. Aku mengambil lagi sebuah serum, karena yang aku pegang tadi telah digunakan kepada cicak.


“Des. Kalau terjadi sesuatu. Lindungi mereka berdua,” pintaku ke Destian. Aku memasang jarum suntik ke tabung serum tersebut.


“Nadamu... kaya orang mau mati saja,” sahutnya sedikit mengejek.


Tanpa ada ragu lagi, aku pun perlahan menancapkan jarum itu ke pembuluh darah lenganku. Kemudian aku suntikkan semua serumnya hingga habis. Seketika yang aku rasakan sangatlah aneh.


 


Jantungku mulai berdetak sangat kencang. Rasanya panas sekali di dalam tubuhku. Seperti ada sesuatu yang terbakar di dalam perutku. Kepalaku terasa sangat berat. Aku pun terduduk karena tak kuat. Mereka bertiga mulai mendekatiku.


 


Entah apa yang mereka teriakkan. Suara mereka semua menggema di telingaku. Aku mengeratkan kedua tanganku di antara kepala sambil terus bergetar. Rasanya, ada sesuatu yang akan keluar dari tubuh. Jantungku berdetak lebih cepat, terus berdetak lebih cepat, dan lebih cepat. Hingga akhirnya... jantungku berhenti berdetak.


...Hening...


.........


“Kelvin! Kelvin!”


“Hah... hah... hah... hah!” Aku akhirnya membuka mata dengan nafas yang terengah-engah. Aku meraba dadaku.


Jantungku berdetak, dengan normal.


“Vin! Kelvin!” teriak Yuli. Aku masih dalam keadaan duduk dan dia di depanku.


“Ke-kenapa?” tanyaku sangat kebingungan.

__ADS_1


Wajah mereka bertiga terlihat sangat panik. Dan aku baru sadar, kalau aku telah menggunakan serum tersebut.


“Aku kira kau kenapa. Tadi kau seperti orang sekarat Vin,” ucap Destian.


“I-iya. Aku juga merasakannya sih,” sahutku.


“Untunglah kamu tidak apa-apa. Apa yang tadi itu efeknya?” Yuli menatap Lia.


“Kurasa begitu. Dan sekarang, apa kau merasakan perbedaan?” Lia balik menanyaiku.


Aku pun berdiri. “Entahlah, aku belum yakin.”


Aku memperhatikan tangan kananku. Kemudian membuat otot-ototnya berkontraksi. Sama seperti yang dilakukan Alphian kemarin. Dan hasilnya, tanganku nampak lebih besar. Urat-urat yang ada di lenganku membesar dan menghitam. Begitu juga dengan otot-ototnya.


“Ternyata benar berhasil ya.” Aku mendekati sebuah meja besi yang ada di ruangan itu. Dan aku mencoba untuk memukulnya. Saat aku pukul dari atas, setelah itu mejanya menjadi hancur. Besinya bengkok ke dalam.


“Seriusan? Kuat banget,” ungkap Destian yang masih kurang percaya.


“Yah, aku juga belum sepenuhnya percaya. Tapi, ini seriusan bukan mimpi kan?” Aku melemaskan otot lengan, dan lenganku kembali normal.


Aku melihat Yuli dan Lia hanya terdiam terpaku setelah melihat apa yang terjadi.


“Kau tidak coba?” tanyaku ke Destian.


“Mmm... mungkin aku juga akan coba.” Dia mengambil sebuah serum dan menyuntikkannya ke pembuluh darah di lengannya. Hasilnya sama saja, dia bahkan sempat tak sadarkan diri untuk beberapa saat. Tapi setelah itu dia bangun, dan bisa menggunakan kekuatannya. Dengan begitu, kami berdua telah memakai serum tersebut.


“Lia? Sel yang hanya bisa dimanipulasi tidak bisa semuanya kan?” tanyaku.


“Iya, kau hanya bisa memfokuskan pada salah satu bagian tubuh. Itupun, tak bisa lama-lama,” jawabnya.


“Berapa lama aku bisa memanipulasinya?” Aku menanyainya lebih detail.


“Sekitar 30 menit.”


“Kalau begitu, aku akan tetap menggunakan pedang. Bagaimana denganmu?” Aku menatap ke arah Destian yang dari tadi sibuk mengembang kempiskan lengan kirinya.


“Oh, aku tidak terlalu ahli pakai pedang.” Dia berhenti memainkan lengannya. “Aku rasa lebih efektif jika aku menggunakan kedua tangan saja.” Dia melanjutkan memainkan lengannya.


“Ho, terserah dirimu.”


“Kalian berdua tidak mau coba?” tanya Destian ke Lia dan Yuli.


“Tidak!” Mereka berdua serentak menjawab.


Yah, wajar saja mereka menolak. Melihat Destian yang memainkan lengannya saja mereka sudah terlihat jijik dengan lengannya. Namanya juga perempuan. Aku bisa tau dari ekspresi mereka melihat Destian memainkan lengannya. “Des, aku punya saran.”


“Apa itu?” tanya dia penasaran.


“Bagaimana kalau kita uji coba?” ajakku.


“Boleh juga. Dimana kita akan uji coba?” tanya dia lagi.


“Oh iya, kita tidak punya lapangan seperti di manshion.” Aku baru ingat, tentu saja mencoba kekuatan ini butuh tempat yang luas. “Kita ke pulau bagaimana? Sekaligus bertemu dengan Alphian, aku ingin memastikan banyak hal kepada pencipta serum ini,” usulku.


“Bisa, kan?” Destian menatap ke arah Lia.


“Iya sudah, kapan kita ke sana?” tanya dia.


“Besok saja. Entah kenapa badanku kaku semua rasanya.” Aku melangkah ke arah sofa dan merebahkan diriku.


“Iya juga yah, aku juga merasa begitu.”


Destian menyusulku dan merebahkan dirinya di sofa sebelah.


“Mungkin itu efek lain dari serum tadi. Istirahat saja, lagi pula sudah jam segini,” sahut Yuli.


“Iya.” Perlahan, aku pun terlelap.


......


**Halo readers! Thanks buat semua dukungan kalian yah.. Bentar lagi Pandemik tamat nih..

__ADS_1


See you next chapter** :)


__ADS_2