
Saat itu juga, senyum dan tawa kami kembali lagi. Meskipun Yuli belum juga sadar, aku yakin dia bisa melewatinya. Entah berapa kali kami harus merasakan penderitaan. Tapi kami tetap bisa melaluinya. Yah, walaupun tetap ada pengorbanan yang dilakukan. Kami hanya bertahan dengan cara kami.
Tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, kami hanya harus berusaha dan mengikutinya. Karena kami tau, kami bisa melaluinya.
Pagi itu kami tidur lagi karena hari masih gelap. Aku tidur di dekat Yuli terbaring. Dengan kepala yang bersandar di sofa, dan aku terus menggenggam tangannya.
Rasanya, aku tak ingin melepaskan genggaman ini. Sekali lagi, aku ingin melihat senyumannya. Aku merindukanmu untuk pertama kalinya, Yuli.
.........
08:31
“Vin! Kelvin!” terasa seseorang membangunkanku. Dia terus memukul-mukul pipiku. Aku pun terbangun, dan ternyata itu adalah Yuli. “Yuli? Kamu sudah sadar?” tanyaku terkejut.
“Sssttt.... mereka masih tidur. Jangan ribut!” Dia menempelkannya jari telunjuknya di depan mulutku.
“Oh, oke baiklah.”
“Aku kira semua akan berakhir. Aku tau kamu sudah berusaha, terima kasih.” Dia menempelkan dirinya padaku, sambil meneteskan air mata.
“Sudahlah, aku tak banyak membantu. Merekalah yang menyelamatkan kita berdua. Berterima kasihlah pada mereka nanti.” Aku mengusap-usap dahinya.
“Ya, baiklah. Tapi aku tetap ingin berterima kasih padamu.” Dia menatapku dengan senyuman manisnya.
“Mmm... ada satu hal yang mungkin harus kamu ketahui,” kataku.
“Apa itu?”
“Sebenarnya, aku menyuntikkan serum itu agar kamu bisa selamat. Maafkan aku karena seenaknya sendiri.” Aku menundukkan kepalaku. Dia hanya diam sejenak.
“Vin, kamu tau. Aku sangat bahagia.” Dia mengangkat kepalaku dan tersenyum kepadaku. Kali ini benar-benar senyuman yang sangat manis.
__ADS_1
“Apa kamu tidak marah? Sekarang tubuhmu sudah tak normal lagi. Kenapa kamu malah bahagia?” tanyaku heran.
“Aku bahagia... karena kita sama.” Dia kembali menempelkan kepalanya di badanku. Dan perlahan dia mulai menutup mata lagi.
“Kamu masih ngantuk ya?” tanyaku.
“Tidak. Tapi, biarkan aku bersandar padamu untuk beberapa saat.”
10:21
Setelah semuanya bangun, kami menjalani hari seperti biasa. Selesai sarapan, kami berkumpul di ruang lantai dua dan membicarakan semuanya.
“Yuli? Kamu sudah baikan?” tanya Lia.
“Aku penasaran, kamu kan sudah menjadi zellcotroller. Apa kamu juga bisa manipulasi sel seperti kami?” tanyaku penasaran.
“Hmm... sepertinya tidak. Aku sudah mencobanya tapi tidak berhasil. Tubuhku hanya mampu regenerasi,” jawabnya.
“Setidaknya itu lebih bagus kan,” sahut Destian.
“Sudah kuduga. Semuanya tergantung pemakai serum itu. Walaupun kamu tidak bisa memanipulasi sel. Tapi pasti kemampuan otakmu bertambah.” Aku menatap yakin padanya.
“Selain itu Vin. Aku masih penasaran dengan yang terjadi padamu,” ungkap Destian.
“Memangnya aku semengerikan itu ya? Bagaimana itu bisa terjadi?” tanyaku agak ragu.
“Kemungkinan karena kau mengalami tekanan tinggi di pikiranmu. Itu membuat otakmu menjadi lebih agresif dan bisa menciptakan sesuatu yang lebih dari zellcontroller,” ungkap Lia.
__ADS_1
“Begitu ya, apa aku bisa menggunakan kekuatan itu lagi?”
“Itu semua tergantung dirimu. Jika kau mampu maka kau bisa.” Kemudian dia meninggalkan ruangan dan berjalan menuju dapur. Pada akhirnya, aku harus berjuang lagi untuk memunculkan. Mungkin bisa di bilang, yang kemarin seperti keadaan saat hilang kendali.
“Vin. Ini hanya perkiraanku saja. Tapi, aku rasa Yuel akan kembali untuk balas dendam.” Tiba-tiba Destian menatapku dengan tatapan serius.
“Benarkah? Lalu, apa yang akan kita lakukan. Sebenarnya, dimana dia berada selama ini?” tanyaku.
“Aku tak tau dia berada dimana. Yang jelas, kita harus bertarung lagi jika dia datang,” jawabnya. Aku menatap ke arah tangan Destian. Jelas mustahil mengalahkannya dengan kondisi seperti ini.
“Menurutmu, apa dia akan datang kemari?” Aku memegang daguku.
“Aku rasa tidak. Dia pasti akan dirugikan jika datang begitu saja ke sini.”
.........
23:58
Malam itu, semuanya tidur dengan tenang. Namun, entah kenapa aku merasakan keberadaannya. Aku tak begitu menanggapi saat itu. Aku hanya berpikir, mungkin itu perasaaanku saja yang sedang buruk. Lantas, aku hanya melanjutkan tidurku. Tiba-tiba, suara jendela kaca pecah. Kami semua terbangun, aku dengan Destian menatap ke arah jendela. Ternyata dia datang, Yuel Daveenci.
Saat itu kami benar-benar panik dan berusaha menghentikannya. Tapi, tetap saja kami tak mampu. Aku dan Destian terpukul mundur setelah pertarungan sesaat, karena saat itu aku tak membawa katana.
Perlahan dia berjalan menuju Yuli dan Lia yang masih terduduk kaku. Mereka nampak ketakutan. Kemudian Yuel menghempaskan begitu saja tubuh Yuli yang berada di samping Lia, sehingga dia terlempar ke arah kami. Dan sekarang Yuli terkapar di depan kami dengan darah di perutnya.
Dan saat-saat terakhir, aku melihat Yuel dengan cepat membawa Lia. Tapi, kami tak bisa melakukan apa pun. Lagi...
**Halo readers! Thanks buat dukungannya selama ini yah..
__ADS_1
See you next chapter** :)