Pandemik

Pandemik
Pandemic Starts [IV]


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul empat sore. Kami baru saja sampai di sebuah supermarket besar. Lagi-lagi, tak ada seorang pun disini. Kami semua turun dari mobil dan memasuki supermarket tersebut.


“Ambil makanan, minuman, pakaian, serta barang-barang yang kalian butuhkan. Kita akan berada di dalam selama 15 menit. Setelah itu kita akan mencari tempat yang aman, karena hari sudah mulai gelap,” kataku kepada mereka.


Kami mengambil beberapa makanan dan minuman yang diperlukan, mengganti pakaian, dan juga mengumpulkan barang-barang yang mungkin akan berguna.


Setelah selesai, kami segera menuju keluar supermarket. Namun, diluar supermarket ternyata banyak mayat hidup yang berkumpul. Sepertinya mereka berkumpul karena mendengar suara bising dari mobil tadi. Tidak ada pilihan lain, kami harus bertarung dengan mereka sekali lagi.


“Kalian berdua tetaplah di belakang kami. Des, begitu ada kesempatan langsung masuk mobil. Aku dan Ferel akan memberi tembakan perlindugan dari belakang,” kataku kepada mereka.


“Mereka terus mendekati mobil! Setidaknya kita harus membunuh tujuh mayat hidup untuk bisa masuk dalam mobil. Kelvin, kau di depan dengan pedangmu. Aku akan melindungi belakangmu.” Ferel mulai maju menodongkan senjata.


 


Jam menunjukkan pukul empat lewat tujuh belas menit. Aku membuka perlahan pintu kaca supermarket dengan Ferel dan Destian di belakangku. Sedangkan Yuli dan Lia ada di belakang mereka berdua. Tiga mayat hidup berdiri tepat di depan pintu kaca supermarket.


 


Aku menebas kepala mayat hidup yang berada di tengah, dua lainnya yang ada di samping dihabisi oleh Ferel dan Destian. Masih ada setidaknya lima mayat hidup yang harus kami kalahkan.


“Des, bersiaplah untuk berlari! Aku dan Ferel akan menembaki lima mayat hidup itu,” perintahku pada Destian.


Sembari kami menembaki lima mayat hidup di depan mata. Destian berlari menuju pintu kanan depan mobil untuk menyalakannya.


“Yuli! Awas!” Aku melompat ke arah Yuli, menabraknya hingga kami berdua terjatuh.


Aku sodorkan pistol di genggamanku dan menarik pelatuknya hingga sebuah peluru termuntahkan menembus tengkorak mayat hidup yang berusaha mendekati Yuli. Mayat hidup tersebut pun terkapar termasuk juga kami berdua. Aku bangun dan menyadari bahwa lengan kiriku tergores bebatuan saat jatuh. Ferel masih berusaha menembaki beberapa mayat hidup.


Mobil sudah menyala, namun mayat hidup lain mulai berdatangan. Destian pun mengendalikan mobil sehingga mobil tersebut berputar seperti mobil drift dan menumbangkan beberapa mayat hidup yang berdatangan. Walaupun mereka tak mati, setidaknya mereka tak berdaya untuk beberapa saat. Pintu mobil terbuka, dan kami berempat memasuki mobil.


......


 


Mobil terus berjalan di atas aspal kasar yang sepi layaknya tak berpenghuni. Aku duduk di kursi tengah dengan Yuli, Destian menyetir, Ferel duduk di kursi depan, sedangkan Lia berada di kursi paling belakang.


 


“Hahaha.” Terdengar suara tawa tak terlalu keras dari mulut Ferel.

__ADS_1


“Apa ada yang lucu?” tanyaku.


“Coba kau pikir. Para zombi itu adalah mayat yang bergerak. Mayat adalah jasad, artinya mati tak bernyawa. Lalu, kita membunuhnya? Dengan kata lain, kita berusaha membunuh mayat? Itu membuatku tak habis pikir.” Ferel dan Destian tertawa kecil.


“Berikan tangan kirimu Vin. Aku akan mengobatinya.” Yuli mengambil obat-obatan dari dalam tas.


“Kurasa itu tak perlu. Ini hanyalah luka kecil,” jawabku.


“Luka itu kira-kira berdiameter 5 inchi, jangan mengelak. Kamu tadi sudah selamatkanku, setidaknya berikan aku kesempatan untuk membalasnya.” Dia menarik tangan kiriku yang terluka.


“Ya sudah, terserah dirimu.” Aku memperhatikan tangannya lihai memerban.


“Vin? Tujuan kita kemana? Aku tak tau dimana tempat aman untuk kita,” tanya Destian.


“Di pinggir kota atas bukit, ada sebuah manshion milik pamanku. Kita kesana.” Aku menoleh ke arah kaca depan menatap wajah Destian.


“Maksudmu manshion yang ada di atas bukit itu?” tanya Ferel yang dari tadi terpaku di kursi depan.


“Terus bagaimana kita memasuki manshion itu? Bukannya manshion itu memiliki pagar yang mengelilinginya?” tanya Lia.


“Iya manshion yang itu. Kebetulan aku membawa kuncinya karena keluarga sedang tak di rumah. Kurasa disana cukup aman untuk sementara waktu.” Aku memegang tangan kiriku yang telah selesai dibalut perban oleh Yuli.


 


Lima belas menit telah berlalu dalam perjalanan. Sekarang jam menunjukkan pukul lima sore. Kami baru saja sampai di depan gerbang pagar manshion. Karena tak banyak pemukiman disekitar bukit, maka tidak ada mayat hidup disini.


 


“Pagarnya cukup tinggi. Setidaknya jika para mayat hidup itu datang kesini, mereka tak akan bisa melewati pagar ini,” kata Ferel yang berada dibelakangku.


“Ya. Kita memikirkan apa yang selanjutnya akan kita lakukan di manshion. Hari sudah mulai gelap, kita harus beristirahat.” Aku berusaha merogoh sebuah kunci dari dalam tas punggung.


 


Setelah gerbang dibuka, kami pun masuk ke dalam dan menguncinya kembali. Untuk sementara waktu kami akan tinggal di manshion ini hingga keadaan membaik. Entahlah, aku pun tak tau kapan keadaan akan membaik. Aku pun masih ragu apakah keadaan akan membaik, atau bahkan lebih buruk lagi.


 


Jam menunjukkan pukul enam. Matahari sudah mulai tenggelam, sinarnya yang kemerahan menyambar awan kumulonimbus yang berkumpul. Kami beristirahat di dalam manshion ini. Setelah lelah menghadapi semua kejadian itu, akhirnya kami dapat melegakan hati walaupun untuk sesaat.

__ADS_1


“Vin. Barang-barang ini kuletakkan disini ya?” Destian meletakkan barang medis kedalam sebuah kotak kardus di pojokan.


“Iya. Kalian! Cepat berkumpul dulu di ruang depan. Ada yang ingin aku sampaikan,” perintahku kepada mereka semua.


Beberapa menit kemudian, kami semua berkumpul di ruang depan. Aku duduk sendiri di sebelah utara, Yuli dan Lia duduk di sofa panjang sebelah barat, sedangkan Ferel dan Destian duduk di sofa sebelah timur.


“Baiklah teman-teman. Kelihatannya untuk sementara ini kita akan aman berada disini. Barang-barang dan keperluan yang kita miliki sekarang setidaknya akan cukup dalam waktu satu minggu. Jadi, setiap satu minggu sekali diantara kita bertiga akan ada dua orang yang mencari sumber daya di luar. Sedangkan salah satu di antara kita bertiga akan tinggal dan melindungi manshion serta mereka berdua.” Aku menjelaskan sambil menoleh kepada Destian dan Ferel.


“Ya. Kalian berdua akan tetap tinggal disini. Jika ada sesuatu yang kalian inginkan, kami yang akan carikan ketika pergi keluar.” Ferel menjelaskan kepada Yuli dan Lia.


“Ok. Kami berdua akan mengurus manshion. Kita memiliki dua ruang kamar di manshion ini. Kami berdua akan menempati kamar yang di ujung. Kalian bertiga bisa menempati kamar yang di depan bukan?” Lia berkata disusul dengan Yuli mengiyakan.


“Iya. Kunci kamar ada pada pintu. Akses air bersih disini terjangkau. Dibelakang sebelah gudang ada sebuah danau yang cukup luas. Kita bisa menggunakan air yang tak terkontaminasi tersebut untuk keperluan sehari-hari,” kataku.


“Saat ini kondisi listrik normal. Tapi, bagaimana jika nanti kondisi lisrtrik bermasalah?” tanya Destian.


“Kebetulan di gudang ada sebuah genset. Kita bisa menggunakannya jika benar-benar terdesak. Oh iya, sisa berapa amunisi yang kalian miliki? Pistolku masih tersisa dua slot amunisi.” Aku menoleh menaikkan alisku ke arah Destian dan Ferel.


“Amunisiku sisa satu slot,” jawab Ferel. “Aku juga,” sambung Destian.


“Sepertinya kita akan mencari persenjataan lagi minggu ini. Kita akan mencari tempat lelang senjata di dekat sini.” Aku menyandarkan badan ke punggung kursi dan menghela nafas.


“Sudah gelap. Sebaiknya kita istirahat sekarang. Besok pagi kami berdua akan menyiapkan makanan. Aku ke kamar duluan.” Yuli dan Lia beranjak dari sofa dan melangkah.


“Eh tunggu! Kalian bawa ini. Hanya untuk berjaga-jaga. Jika ingin menggunakannya, Tarik kebelakang pengunci yang ini, lalu tarik pelatuknya.” Aku menyerahkan sebuah pistol dengan amunisi penuh kepada Yuli.


“Baiklah, terima kasih. Kalian juga cepat istirahat! Pasti sudah kelelahan kan?” Mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju kamar.


“Kita istirahat juga. Bawa senjata kalian ke dalam kamar untuk jaga-jaga. Jangan lupa kunci dulu pengamannya, supaya tidak berbahaya.” Aku pun meninggalkan ruang depan dan memasuki kamar.


 


Malam ini, kami mencoba menerima kenyataan yang amat pahit. Tak tau bagaimana keadaan keluarga kami masing-masing. Kami hanya bisa berharap dalam dinginnya angin malam. Mencoba percaya terhadap suatu hal yang sulit dipercaya. Hanya ini yang dapat kami lakukan. Kami tak memiliki banyak pilihan. Perlahan, pahitnya kenyataan sirna oleh mimpi dalam tidur yang lelap.


 


**Halo readers! Btw chapter pertama udah selesai nih.. Next bakal lebih seru kok. Oh iya jangan lupa dukung Author[s] dengan vote, like, dan komen yah.. Bakal di feedback kok.


See you next chapter** :)

__ADS_1


__ADS_2