Pandemik

Pandemik
Zellcontroller [II]


__ADS_3

“Serius? Kalian hanya bertarung selama 10 detik tapi sudah saling memojokkan!” ungkap Lia sedikit tak percaya.


“Heh? 10 detik? Sungguh?” tanya Destian menurunkan kedua tangannya.


“Iya, sekitar segitu. Aku sempat menghitungnya tadi,” jawab Yuli.


“Des, tanganmu luka.” Aku menunjuk ke arah tangan kirinya yang menangkis seranganku tadi.


“Benarkah? Kok tidak terlalu sakit.” Dia mengangkat tangan yang kumaksud dan mengamatinya. Karena dia terlihat sangat fokus. Aku juga ikut mengamati tangannya yang berdarah.


Namun, saat aku lihat. Darah yang tercecer keluar tiba-tiba terserap kembali ke dalam lukanya. Dan lama kelamaan lukanya tertutup, seperti tak pernah ada luka.


“Apa itu tadi? Regenerasi?” tanya Lia sambil berlari mendekat.


“Mungkin. Lukaku sembuh begitu saja.”


“Ternyata selain memanipulasi sel. Serum itu juga meningkatkan regenerasi sel. Penemuan yang sangat hebat,” ungkapku. Aku mencoba menggores lenganku dengan kuku yang masih memanjang. Memang benar lenganku mengeluarkan darah dan terasa sedikit sakit. Tapi, setelah 5 detik lenganku pulih kembali tanpa meninggalkan bekas apapun.


“Des? Kau hanya akan menggunakan kedua tanganmu untuk bertarung?” tanyaku.


“Aku rasa tidak, aku akan menggunakan apa pun itu. Tapi untuk sekarang aku akan mengandalkan kekuatan fisik saja,” begitu katanya. Sebenarnya dia memang cocok seperti itu. Dalam hal kecepatan mungkin dia kalah, tapi ketahanannya kuat. Dalam gim biasanya dia masuk kelas protector atau warrior.


“Bagaimana denganmu?” tanya dia balik.


“Hmm... aku rasa yang tadi kurang efektif.”


Aku memegang daguku sembari berpikir. “Oh! Aku akan gunakan katana saja.” Kemudian aku berlari keluar dan mengambil katana di dalam Humvee.


“Bukannya kau sudah bisa menebas dengan kukumu? Kenapa kau menggunakan katana lagi?” tanya Destian saat aku baru saja datang membawa katana di kedua tanganku.


“Tanganku tidak akan aku manipulasi. Aku akan menggunakan kaki.” Aku mulai memanipulasi sel kaki mulai dari lutut kebawah. Aku merubah tulang pergelangan kaki menjadi lebih panjang dan sedikit merapatkan kelima jari kakiku.


Tulang betis kuperkuat dan tulang kering aku panjangkan. Hasilnya, aku membentuk kaki panjang dan sedikit menjinjit.

__ADS_1


“Apa yang akan kau lakukan dengan kaki seperti itu?” Destian masih bertanya-tanya dengan apa yang aku buat.


“Lihatlah.” Aku mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari. Kemudian aku mencoba berlari mengelilingi sangkar.


Dan hasilnya, aku bisa menempuh jarak 100 m dengan waktu 2 detik.


“Bagaimana? Kalau aku mengandalkan kecepatan, aku bisa memanfaatkan pedangku.” Aku baru saja berhenti di tempatku berdiri semula.


“Gila! Bisa begitu yah.” Ungkap Destian terkejut.


“Bisalah. Gunakan otak anda,” jawabku sedikit mengejek.


Dengan begini, aku bisa memanfaatkan kemampuan berpedangku. Tubuhku tak sebesar dan sekuat tubuh Destian. Aku tak akan mampu jika hanya mengandalkan kekuatan. Setidaknya aku bisa menyerang dengan ketepatan dan kecepatan. Dalam gim biasanya aku masuk kelas assassin.


“Sekarang kita kemana?” tanya Lia.


Matahari semakin terik nampaknya. Mungkin kami akan kembali saja ke gedung.


“Kembali saja. Sudah siang.” Aku melihat ke arah matahari. Dia benar-benar berada tepat di atas.


12:34


 


Dengan beberapa menit perjalanan akhrirnya kami sampai di daratan seberang pulau. Namun, saat kami hendak menuju gedung yang kami tinggali. Terlihat beberapa mayat hidup yang ingin mencoba masuk.


 


Aku tak tau kenapa mayat hidup itu ingin masuk ke gedung. Tapi karena pintunya kami ganjal meja, mereka tak akan mudah untuk masuk. Dan kami juga tak menggunakan pintu depan.


“Des? Bersihkan tidak?” Aku menoleh menatap Destian yang duduk di kursi depan.


.

__ADS_1


“Ayolah!” Dia langsung membuka pintu dan keluar.


“Kalian berdua tunggu di sini saja ya,” kataku pada Yuli dan Lia. Kamudian aku meninggalkan mereka di dalam Humvee. Dan bergegas menyusul Destian yang sudah membesarkan lenganku. Dia berjalan dengan santainya seolah tak ada apa-apa.


“Santai sekali kau. Biasanya kau akan menjaga jarak dan mulai membidik,” kataku begitu sampai di sampingnya.


“Saat ini sudah berbeda. Kita sudah tak memerlukan senjata itu lagi. Karena kita adalah zellcontroller sekarang.” Dia kemudian berlari dan langsung menghantam kepala salah satu mayat hidup yang ada di sana.


Dan, kepalanya hancur tak tersisa begitu mendarat di tanah.


Aku langsung merubah kakiku dan melaju ke arah dua mayat hidup. Kemudian mengibaskan katana di kedua tanganku tepat mengenai leher kedua mayat hidup itu.


Kecepatan lariku menambah kecepatan tebasannya. Dan akhirnya, kedua kepala jatuh dari badan mayat hidup itu.


Aku melanjutkan ke arah samping. Bergeser sedikit, kemudian lompat di antara dua mayat hidup yang berdiri sambil menebas leher kedua mayat hidup itu. Kulihat Destian terus meremukkan kepala beberapa mayat hidup yang tersisa dengan kedua tangannya. Selain besar, tangannya juga bertambah panjang. Itu akan menghindarkannya dari gigitan mayat hidup itu.


“Sudah selesai?” tanyaku. Dia berjalan pelan menghampiriku.


“Sudah. Tadi itu sangat menyenangkan.” Dia menepuk pundakku.


“Hey! Setidaknnya rubah dulu tanganmu menjadi normal.” Aku mengelek mundur menghindari tangannya yang penuh dengan darah.


“Oh iya.” Dia merubah tangannya menjadi normal kemudian membersihkannya.


“Ayo kembali. Aku sudah lapar.” Kami berdua pun bergegas kembali ke Humvee. Kemudian bergerak menuju gedung.


 


Setelah sampai, aku dan Destian langsung makan. Entah kenapa setelah pertarungan tadi rasa laparku semakin menjadi-jadi. Mungkin ini efek menggunakan kekuatan tersebut. Lalu kami tak kemana-mana setelah itu.


 


Aku hanya tiduran di sofa sambil bermain gim di ponselku. Yuli sibuk dengan laptopnya yang duduk di sofa tepat di atas kepalaku terbaring. Destian tidur di karpet, sedangkan Lia entah kemana. Aku tak melihatnya, mungkin dia di dapur.

__ADS_1


**Halo readers! Thanks buat dukungannya selama ini... Jangan lupa like, komen, dan vote yah.. Author[s] bakal feedback kok


See you next chapter** :)


__ADS_2