Pandemik

Pandemik
Missing One [II]


__ADS_3

Program auto found adalah program yang dibuat untuk mencari data-data yang berkaitan dengan kata kunci yang dicari.


Program ini sangat berbeda dengan fitur search yang ada pada setiap komputer atau laptop. Program ini dapat mengelompokkan data berdasarkan kecocokan hanya dalam waktu beberapa detik, bahkan untuk jutaan data yang ada.


Sedangkan fitur search membutuhkan waktu hingga beberapa menit hanya untuk mencari beberapa data dalam ratusan data yang ada. Tak kusangka eksperimen bodoh kami berguna disaat seperti ini.


“Sudah ketemu?” tanyaku.


“Ada beberapa data yang cocok. Aku akan mengeceknya terlebih dahulu.”


Aku beranjak lalu duduk di sofa. “Kira-kira siapa yang meninggalkan benda berisi data rahasia itu disana. Ceroboh sekali dia.”


“Entahlah, aku tak peduli. Setidaknya dia menguntungkan kita,” saut Lia yang dari tadi menyiapkan makanan di dapur. Ruangan yang di atas memiliki sebuah toilet dan sebuah dapur kecil.


“Vin! Aku menemukan sesuatu,” ungkap Yuli.


Aku pun bergegas menghampirinya.


“Apa itu?”


“Ini beberapa tangkapan video dari kamera CCTV. Lihatlah, pada waktu yang sama saat pandemik terjadi, semuanya terlihat panik.”


Tanpa kusadari Lia pun mendekat. Yuli mulai memutar video tersebut satu persatu.


 


Terlihat beberapa video yang menampakkan orang-orang berpakaian jas putih berlarian. Setelah itu, ada beberapa mayat hidup yang tertangkap kamera. Dan jika dilihat dari lokasi tersebut, kamera CCTV itu ada di sebuah lorong. Hampir semua video berlatar di lorong-lorong.


Namun, ada satu video yang melihatkan jalan masuk ke arah lorong. Kamera CCTV tersebut mengarah ke sebuah turunan tangga menuju ke bawah. Kemungkinan itu adalah jalan menuju ruang bawah tanah.


 


“Dimana letak tangga masuk itu?” tanyaku.


“Aku tak tau pasti. Tapi, lihatlah.” Dia menghentikan videonya dan memperjelas pada latar turunan tangga tersebut. “Di belakangnya ada tower. Mungkin ini bisa menjadi petunjuk kita.”


Aku merenung sejenak. “Rasanya aku tak melihat tower itu saat disana tadi.”


“Aku melihatnya.” Tiba-tiba Ferel datang disusul dengan Destian di belakangnya.


“Mungkin tidak pasti, tapi rasanya aku melihat tower itu tadi.”


“Yah, satu-satunya cara hanyalah memeriksanya kembali ke pulau tersebut,” saut Destian.


“Tapi... bukankah kita kekurangan persenjataan?” tanya Lia. “Benarkah?” timpa Yuli.


“Iya. Jadi, mungkin saat ini kita harus mengumpulkan persenjataan lagi. Karena kita tidak tau ada apa di dalam sana,” jawabku.


“Dimana kita akan mencari persenjataan lagi?”


“Senjata rifle kurang efektif karena mayat hidup telah berevolusi. Kita butuh senjata seperti shotgun dan senjata jarak dekat. Karena kita harus benar-benar memotong kepala mayat hidup itu supaya mereka mati,” terangku.


“Aku akan mencoba mencari tempat-tempat persenjataan di kota ini.” Yuli mulai mengakses jaringan satelit melalui laptop.

__ADS_1


 


Setelah beberapa menit, kami menemukan sebuah tempat yang menjual perlengkapan-perlengkapan senjata. Letaknya tidak jauh dari posisi kami saat ini, berada di pinggir tepian. Jika dilihat dari situsnya, toko tersebut menjual beberapa senjata api impor dan beberapa senjata jarak dekat seperti pedang. Aku harap disana ada katana.


 


“Kapan kita akan kesana?” tanya Destian.


“Sekarang bagaimana?” saran Ferel.


Aku menengok ke arah jam. Ternyata masih jam sebelas menjelang siang. “Ayo.” Akhirnya kami bergegas menuju tempat tersebut.


......


 


Sesampainya di tempat yang kami tuju. Aku dan Destian berusaha membobol tempat tersebut. Begitu kami masuk ke dalam, ruangannya sangatlah besar. Beberapa senjata dipajang di ruang depan.


 


Kami tak menemukan senjata api yang sedang kami cari. Semua senjata api disini hanyalah senjata-senjata untuk berburu. Walaupun kami sudah menggeledah semua sudut, tetap saja kami tak menemukannya. Tapi, ada beberapa pedang bagus disini. Dalam ruangan kedua, banyak pedang dan belati yang langka. Aku rasa pemilik toko ini adalah kolektor. Aku mengambil dua bilah pedang yang panjang dan tipis. Yah, ini adalah katana. Pedang yang sangat aku inginkan. “Aku heran dia memiliki dua pedang ini.”


“Pedang apa itu?” tanya Ferel mendekatiku.


“Katana. Pedang ini ringan. Kecepatan akan menentukan kualitas pedang ini.” Aku memasukkan pedang tersebut kembali ke sarungnya. “Kalian tidak mengambil?” tanyaku.


“Hmm... aku tidak pandai menggunakan senjata semacam ini sebenarnya. Tapi aku akan mengambil pedang ini. Kurasa ini cukup menarik.” Destian mengambil sebuah pedang besar dan panjang. Yah itu cocok untuknya.


“Aku dan Lia juga mengambil belati. Hanya untuk jaga-jaga,” kata Yuli.


“Aku pakai senjata api yang tersisa saja,” jawabnya.


“Ya sudah, ayo kita kembali.” Aku bergegas berjalan menuju keluar. Namun, langkahku terhenti ketika melihat banyaknya mayat hidup yang berkerumun di sekitar Humvee.


“Darimana mereka datang?” tanyaku terkejut.


Mereka berempat masih berada di belakangku, sama-sama terhenti melihat para mayat hidup itu.


“Jumlah mereka sangat banyak. Ini buruk. Kita harus bagaimana?” mereka semua nampak panik. Yah, ini bukan pertama kalinya kami menghadapi situasi seperti ini.


“Dengar! Aku akan mengalihkan perhatian mereka untuk menjauh dari sana. Kalian masuk ke dalam Humvee kemudian jemput aku.” Aku bergegas berlari menuju pintu samping.


“Hey! Kelvin itu bahaya!” teriak Yuli. Aku menghentikan langkahku dan menoleh. “Jika tidak, kita semua akan dalam bahaya.”


Tiba-tiba Ferel maju ke arahku. “Aku akan ikut denganmu.”


“Tunggu dulu. Hanya kau yang bisa menggunakan Humvee Vin!” cegah Destian lagi. Yah, aku lupa dengan situasi ini, kami menggunakan Humvee disini.


“Biar aku dan Ferel saja, kalian bertiga ke arah Humvee saja,” saut Destian.


“Ya sudah kalau begitu. Ferel, gunakan ini.” Aku melemperkan pedang lamaku padanya.


Mereka berdua pun bergegas keluar dari pintu samping untuk memancing semua mayat hidup itu. Sedangkan aku, Yuli, dan Lia menunggu hingga aman kemudian masuk ke dalam Humvee.

__ADS_1


 


Mereka berdua berusaha membuat keributan, dan hasilnya kerumunan mayat hidup yang mengerumuni Humvee mulai berpindah mengejar mereka berdua. Kami bertiga pun langsung berlari menuju Humvee, menyalakan mesin, lalu mengejar Ferel dan Destian.


 


Mereka berdua berlari ke arah pertigaan pinggir tepian. Destian terlihat berusaha kembali dengan melompat ke atas tangga sebuah rumah. Dia meneriaki Ferel yang terus di kejar. Saat sampai di tempat Destian, para mayat hidup sudah memojokkan Ferel ke pinggir tepian. Dengan cepat aku menyetir ke tempat Ferel.


Namun, saat kami telah sampai di ujung tepian. Dia telah tiada, entah kemana. Hanya tersisa mayat hidup yang sebagian berjatuhan ke arah sungai.


“Kemana dia? Tadi aku melihatnya di situ?” tanya Destian.


Mereka sempat panik. Aku terus menyusuri pandangan ke arah sekitar. Tapi, Ferel tetap tidak ditemukan. Jarak dari atas tepian ke bawah permukaan air sangatlah tinggi, sekitar 40 meter. Aku ragu jika dia terjatuh ke dalam sungai dan masih sadarkan diri.


“Apa mungkin dia terjatuh?” tanyaku.


“Itu bisa saja. Cepat cari jalan ke sungai!” suruh Destain.


Aku langsung bergegas mencari tempat yang rendah untuk dapat memasuki sungai menggunakan Humvee. Tak jauh dari tebing tadi, kami turun ke arah sungai menggunakan Humvee dengan mode amfibi.


 


Saat kami sampai di tempat perkiraan Ferel terjatuh, kami tak menemukan apa-apa. Aku menatap ke atas, melihat ke arah ujung tepian dari bawah. Ternyata, pertigaan tersebut merupakan tanjakan, wajar jika jaraknya dengan air sungai sangatlah tinggi. Dari tadi kami terus mencari tapi tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan aku dan Destian sempat mencarinya hingga ke dalam sungai.


 


Berhubung sungainya sangat dalam, kami tak bisa mencapai hingga ke dasar. Dan pada akhirnya, kami kehilangan dia.


.........


 


Siang itu, kami pun pulang setelah mencarinya hingga satu jam. Suasana terasa sangat hening. Entah apa yang ada dipikiran mereka, mereka hanya terdiam sejak sampai di gedung. Aku keluar menuju teras lantai dua, hanya untuk mencari udara segar.


 


“Sedang apa?” Tiba-tiba terdengar suara Yuli dari belakangku.


“Tidak ada. Hanya bosan,” jawabku. Dia hanya diam tak menanggapi lagi dan melangkah mendekatiku.


“Setelah apa yang terjadi, kamu sangat kuat yah.” Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Yah, wajar saja. Pasti dia juga sedih setelah apa yang terjadi pada seseorang yang selama ini berjuang bersama.


Aku pun menyambung pembicaraan. “Aku tak sekuat yang kamu bayangkan.”


Terlihat air matanya mulai menetes. Aku mengusapnya dengan kedua tanganku. Spontan dia langsung jatuh dalam pelakukanku dan menangis tersedu-sedu.


“Sudahlah, doakan saja yang terbaik untuknya. Dia juga pasti tak mau kita bersedih terus seperti ini.” Aku mengelus-elus kepalanya. Dia hanya mengangguk.


 


Hari itu, kami tak kemana-mana lagi. Hanya berdiam di gedung yang kami tempati sekarang, berempat saja.


 

__ADS_1


**Halo readers! Thanks atas semua dukungannya.. Jangan lupa like, komen, dan vote yah..


See you next chapter** :)


__ADS_2