Pandemik

Pandemik
P-DAY + 11 : Worried And Afraid


__ADS_3

11:23


 


Hari ini lagi-lagi matahari tak menampakkan dirinya. Padahal hari sudah siang. Hanya awan yang terlihat menyebar di langit, seperti ingin turun hujan. Dari tadi pagi kami tak kemana-mana. Tak tau apa yang harus kami lakukan. Lagi pula, setelah semua mulai terungkap kami tak punya waktu untuk merenung lagi.


 


“Des? Kau tidak bosan?” tanyaku memecah keheningan di ruangan itu.


“Ya, sangat,” jawabnya singkat dengan nada malas.


“Yuli? Di dapur ada makanan tidak?” Aku beranjak dari sofa dan berjalan ke arah dapur.


“Sepertinya makanan tadi padi masih ada,” jawabnya dari dalam dapur. Tiba-tiba Destian menyusulku dari arah belakang.


“Kau lapar juga?” tanyaku. Dia hanya menyeringai lalu mendahuluiku.


“Kenapa akhir-akhir ini kalian banyak makan?” tanya Yuli.


“Entahlah, mungkin efek menjadi zellcontroller.” Aku mengambil satu roti dari atas meja. Setelah mengambil dua potong roti, Destian kembali ke ruangan.


“Vin. Kamu tidak kenapa-kenapa kan setelah memakai serum itu?” tanya Yuli saat Destian baru saja meninggalkan dapur. Aku melihatnya nampak khawatir. Dia mendekatiku dan berdiri di hadapanku.


“Tenanglah, aku tidak apa-apa.” Aku meletakkan tanganku di atas kepalanya. Dia hanya diam sambil menatap ke arahku.


“Terus... kalau kamu seorang zellcontroller, kamu bukan manusia lagi?” tanyanya lagi.


Aku sempat terdiam sejenak. Aku cukup tau jika dia khawatir, tapi entah kenapa sampai sekhawatir ini.


“Dengarlah. Walaupun tubuhku bukan tubuh manusia lagi, aku tetap Kelvin yang dulu. Aku tidak akan berubah menjadi mereka yang ada di luar sana. Sudahlah, jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja.”


“Janji? Kamu tidak akan berubah?” Dia berpegang erat di bajuku. Tangannya bergetar.


“Aku janji. Aku akan jadi Kelvin yang ada untukmu.”

__ADS_1


Tangannya berhenti bergetar. Wajahnya yang nampak khawatir sekarang berubah dengan senyuman manisnya. Aku rasa dia sudah baik-baik saja.


“Aku akan kembali ke ruang depan dulu,” kataku.


“Aku ikut.” Dia menarik bajuku dari belakang.


“Ya sudah ayo. Jangan tarik-tarik.” Kami berdua pun kembali ke ruang depan.


13:24


 


Semuanya sedang berkumpul di ruang lantai dua, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hujan mulai turun siang ini, tapi masih gerimis.


 


“Vin. Kau paham maksud profesor itu?” tanya Destian memecah keheningan.


“Hah? Yang mana?” Aku tak tau perkataan apa yang dia maksud.


“Hmm, aku kurang yakin. Tapi, saat malam sebelum kita pergi ke pulau aku memang merasakan sesuatu yang berbeda. Makanya aku tidak bisa tidur malam itu,” jawabku.


“Kira-kira seperti apa dia ya? Sampel yang bernama Yuel itu?” tanya dia.


“Entahlah, kita akan tau begitu menemuinya langsung. Aku harap kita bisa menyelesaikan semua ini.” Aku beranjak dari sofa untuk mengambil sebuah botol air minum di atas meja.


“Dari kemarin aku masih bingung. Profesor bilang kita harus membasmi pemicunya kan? Memangnya apa yang akan terjadi jika kita benar-benar membasmi pemicunya?” tiba-tiba Lia menimpal dengan sebuah pertanyaan.


“Aku tak tau pasti. Yang jelas, mayat hidup tak akan mungkin untuk kembali seperti semula,” jawabku.


“Jadi, apa yang akan terjadi pada mereka?” tanya Yuli. Nampaknya dia mulai tertarik dengan pembahasan.


“Mungkin, virus yang ada di mayat itu akan mati. Dan mereka juga akan menjadi mayat yang sesungguhnya.” Aku menghabiskan seteguk air terakhir dalam botol.


“Kira-kira apa yang akan terjadi pada kita ya? Apa mungkin kita akan bertemu dengan keluarga kita lagi?” Yuli nampak murung, dia menundukkan kepalanya. Aku sedikit mendengar suaranya menangis, namun sangat lirih. Karena aku berada paling dekat dengannya.

__ADS_1


Kami bertiga hanya terdiam. Walaupun sejenak kami bisa bertahan dalam dunia ini dengan cara kami sendiri. Tapi, terkadang rasa takut dan bimbang kembali lagi. Sampai sekarang pun kami masih tidak tau bagaimana keadaan keluarga kami. Rasanya, dunia ini sudah mati.


Aku pergi meninggalkan ruangan menuju dapur. Sebenarnya aku hanya ingin membuang botol bekas air minumku tadi.


Saat aku ingin kembali, tiba-tiba Lia datang.


“Vin, ini tentang Yuli,” katanya.


“Hah? Kenapa dia?”


“Akhir-akhir ini dia lebih rapuh. Kau tau maksudku kan? Terkadang saat malam kalian tertidur, aku mendengarnya menangis. Aku tak tau kenapa dia lebih murung dari biasanya,” terangnya.


“Kau benar. Dia juga jarang bicara akhir-akhir ini. Tadi juga sifatnya sedikit aneh,” ungkapku.


“Kuharap kau bisa mengatasinya.” Dia menepuk pundakku dan meninggalkan dapur. Aku tak tau kenapa Yuli begitu. Aku harap dia akan baik-baik saja kedepannya.


.........


22:34


Malam telah tiba. Karena tak ada matahari dari pagi. Malam ini cukup dingin dari biasanya. Dan entah kenapa aku belum bisa tidur. Mungkin mereka juga, karena dari tadi hanya sibuk dengan gim mereka masing-masing. Destian di sampingku dan Lia ada di sofa sebelah.


“Yuli dimana?” tanyaku begitu menyadari bahwa dia tidak ada.


“Tidak tau. Di dapur mungkin,” jawab Lia.


Aku beranjak dari sofa dan berjalan menuju dapur. Ternyata dia juga tak ada di sini. Aku kembali tanpa sepatah kata, dan menuju teras di lantai dua. Dan benar saja dugaanku. Dia ada di sana, sendirian.


Aku tak tau apa yang dia lakukan. Tapi aku tau bahwa dia sedih saat itu. Dia menyilakan kedua tangannya dan bersandar di atas pagar teras. Aku pun perlahan mendekatinya dari belakang.


“Kamu sedang apa?” tanyaku sedikit mengagetkannya.


“Tidak ada, Cuma cari udara segar.” Dia tak menoleh ke belakang. Aku bergerak dan berdiri di sampingnya. Dia mulai menunduk saat itu juga.


“Kamu kenapa?” tanyaku lagi dengan nada halus. Aku berusaha menatapnya, namun dia tetap memalingkan wajahnya. Dia hanya diam.

__ADS_1


......


__ADS_2