
Pagi pun telah tiba. Aku melihat mentari pagi ini untuk yang kedua kalinya, sejak pandemik dimulai. Baru saja dua hari, namun perubahannya sudah sebesar ini. Entah bagaimana kelanjutannya hidup kami. Kami juga tak akan pernah tau sampai kapan kami mampu bertahan. Melawan takdir yang tak kunjung berakhir.
Aku keluar kamar, ternyata belum ada seorang yang bangun. Aku keluar manshion menuju danau. Hanya mencari suasana untuk menenangkan diri.
“Sedang apa kamu disini?” tanya Yuli.
Tiba-tiba saja dia berdiri di sampingku.
“Tidak ada alasan, kurasa.” Aku lekas duduk di rerumputan yang hijau.
“Apa kamu tau? Aku tak percaya kalau aku ternyata masih bisa hidup hingga saat ini.” Dia menyusul duduk di sampingku.
“Percaya atau tidak percaya, beginilah kenyataannya. Tak ada yang bisa disangkal lagi. Orang yang menganggap hari ini adalah mimpi buruk, akan kalah di keesokan harinya,” kataku dengan nada rendah.
“Ya, mungkin kamu benar. Aku jadi teringat apa yang dikatakan Ferel. Pilihan untuk membunuh atau dibunuh.” Yuli menundukkan kepalanya. “Menurutmu, masih adakah orang yang hidup di daerah ini?” dia bertanya kemudian mengangkat kembali kepalanya.
“Hmm, aku tak yakin. Tapi sepertinya tak semuanya menjadi mayat hidup. Mungkin beberapa dari mereka ada yang berlindung di dalam rumah, dan menunggu bantuan datang. Mereka berharap ada bantuan, tapi sebenarnya bantuan itu tak akan pernah datang,” jawabku.
“Kenapa tidak ada bantuan?” tanya dia lagi.
“Coba kamu pikir. Jika hampir seluruh populasi lenyap, siapa yang akan memberi bantuan? Bahkan kita tidak tau bagaimana kondisi pemerintahan saat ini. Yang jelas kita harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Aku akan kembali ke manshion.” Aku berdiri dan melangkah meninggalkan danau.
Beberapa saat kemudian. Aku telah berada di dalam manshion. Destian dan Ferel kelihatannya masih di dalam kamar. Lia sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan.
__ADS_1
“Kelvin? Apa kamu lihat Yuli?” tanya dia padaku yang baru saja masuk.
“Dia ada danau bersamaku tadi. Sebentar lagi juga kembali,” jawabku.
“Sinyal masih belum ada ya? Aku khawatir dengan keluargaku.” Dia duduk di sofa sambil memakan roti.
“Ya. Sinyal dan listrik saat ini mati total. Kita tak bisa berbuat apa-apa. Berdoa saja semoga mereka aman saat ini.” Aku mengambil sebungkus roti dari dalam kardus.
“Kelvin!” tiba-tiba Yuli memanggilku dari luar manshion. “Kenapa zombi-zombi itu bisa ada disini?” dia masuk dan terlihat sangat panik.
“Dimana?” tanyaku kebingungan. Saat aku keluar manshion, ternyata ada beberapa mayat hidup yang berkeliaran di luar pagar.
Aku tak tau alasan mereka bisa sampai kemari. Yang jelas, kami harus menghabisi mereka sebelum membahayakan.
“Des! Rel! Kalian berdua cepatlah bangun! Ada yang harus kita bereskan.” Aku bergegas mengambil senjata.
“Ada apa? Apa yang harus dibereskan?” tanya Destian dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya.
“Ada mayat hidup yang mendekat. Kita harus menghabisi mereka.” Aku memasang bayonet pada M4A1.
“Tanya pada mereka setelah kita berhadapan dengan mereka nanti! Cepatlah!” kataku tegas.
“Mereka tidak bisa bicara. Bagaimana mereka bisa menjawabnya, bodoh!” kata Destian yang berlari mengambil senjata, disusul dengan Ferel.
Semua senjata dan perlengkapan sudah siap. Kami bertiga bergegas pergi keluar pagar untuk melawan para mayat hidup itu, untuk yang sekian kalinya.
“Hei tunggu dulu!” Destian tiba-tiba menarik tanganku dari belakang.
__ADS_1
“Ada apa lagi? Tak ada waktu lagi.” Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya.
“Kubilang tunggu! Buat apa kita mendekati dan bertarung dengan mereka diluar pagar? HK416 ini memiliki scope. Kenapa tidak kita tembaki saja dari atas bukit?” tegas Destian.
“Iya juga ya. Kau benar, kita seperti orang bodoh saja mendekati mereka. Lagi pula kelihatannya hanya ada lima sampai sepuluh mayat hidup. Ya sudahlah.” Aku kembali meletakkan senjata yang tadi aku ambil.
“Eh, tapi siapa yang bisa menggunakan senjata akurasi tinggi disini? Dari dulu aku bermain gim memegang AWM tidak pernah mengenai musuh,” tanya Destian.
“Separah itukah cara bermainmu? Berikan padaku! Kau gunakan M4A1 ini saja.” Ferel menukar M4A1 miliknya dengan HK416 yang dipegang Destian.
“Hei Vin! Apa dia benar-benar bisa?” tanya Destian padaku.
“Tenang saja. Ferel itu maniak sniper,” jawabku meyakinkan Destian. “Rel! Dapatkan headshoot yang banyak!” Aku mengikuti Ferel berjalan dari belakang.
Kami bertiga pun keluar manshion. Namun tidak keluar pagar. Saat ini jarak antara pagar dengan kami kira-kira 100 meter. Dalam jarak ini akan mudah membidik kepala mereka.
Ferel mengambil posisi jongkok. Aku dan Destian berada di belakangnya. HK416 tergenggam erat di kedua tangannya. Ia mulai melepas pengaman. Matanya lekas memasuki jangkauan scope. Dia mengubah posisi sebuah tombol hingga menjadi mode burst. Jari telunjuk kanannya tepat berada di depan pelatuk, seolah-olah siap untuk menariknya. Dia mulai mengarahkan pada mayat hidup dan bersiap menarik pelatuk.
Satu tembakan meluncur melubangi kepala mayat hidup yang kemudian tergeletak. Suara tembakannya tak terlalu nyaring karena diberi peredam. Dia terus menembaki mayat-mayat hidup itu satu persatu. Hingga akhirnya semua mayat hidup yang ada telah tergeletak tak berdaya.
“Menakutkan juga kemampuanmu Rel,” kata Destian.
“Beruntung senjata ini tidak terlalu berat. Tekanannya juga masih bisa kuatasi.” Dia membuka tempat peluru dan mengintip isinya.
“Sisa berapa pelurunya?” tanyaku.
“Mungkin sekitar 15 butir.” Dia memasangnya kembali dan mulai beranjak.
__ADS_1
**Halo readers! Terima kasih telah mengapresiasi.. Dukung terus Author[s] dengan vote, like, dan komen yah..
See you next slide** :)