Pandemik

Pandemik
New Weapons [III]


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, bom tersebut meledak. Debu dan serpihan-serpihan bangunan tersebar dimana-mana. Dan akhirnya ruangan tadi terbuka. Aku dan Destian mencoba mendekat dan melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.


“Wow! Sepertinya kita menemukan harta karun baru Des,” kataku.


“Serius benda ini bisa ada disini? Ini Humvee yang biasa digunakan tentara Amerika Serikat itu bukan?” tanya Destian dengan wajah yang masih tak percaya.


“Iya, kau betul sekali. Kendaraan ini juga bisa berjalan di atas air. Dia memiliki kemampuan amfibi. Aku yakin, pemilik toko ini pasti ada hubungannya dengan anggota militer. Tidak mungkin dia bisa menyembunyikan benda sebesar ini disini,” jawabku meyakinkannya.


“Tapi, bagaimana cara menggunakannya? Aku tak bisa menyetirnya, sistem operasinya sedikit berbeda dengan mobil pada umumnya bukan?” tanya Destian.


“Sebentar aku baca buku panduannya.” Aku mengambil sebuah buku berukuran A5 di atas meja dekat dengan kendaraan tersebut.


“Memangnya kau bisa memahaminya dengan sekali baca?” tanya Destian.


“Ok, selesai. Aku akan menyetir benda besar ini. Kau setir saja mobil kita itu,” kataku.


“Hah? Kau serius bisa mengendarai benda besar ini?” tanyanya heran.


“Iya. Sudahlah cepat bersiap di depan pintu! Aku akan menghabisi mayat hidup yang berkeliaran di depan toko itu.” Aku mulai masuk dan menyalakan mesinnya.


“Sebenarnya otakmu itu prosesor intel generasi ketujuh apa? Ya sudahlah, aku serahkan padamu si besar ini.” Dia berlari menuju pintu.


 


Aku pun mulai bergerak keluar lewat pintu belakang dengan Humvee ini. Jujur saja, sebenarnya aku tak tau sama sekali cara mengendarainya. Tapi aku pernah bermain gim simulasi mengenderai tank, kurasa tidak jauh beda. Dan ternyata semuanya berjalan dengan lancar. Rasanya ini sangat menyenangkan, seperti berada di dalam gim saja.


 


Aku berencana menumbangkan beberapa mayat hidup yang berada di dekat mobil supaya Destian dapat masuk kedalamnya. Karena suara ledakan bom tadi, sepertinya mereka terpancing karena itu. Aku pun melaju dan dan menabrak beberapa mayat hidup menggunakan Humvee. Saat itu, hampir saja aku menabrak sebuah bangunan yang ada di samping toko tersebut. Kemudian Destian masuk kedalam mobil yang kami bawa tadi. Dan akhirnya, kami pulang dengan membawa hasil yang sangat memuaskan.


 


Jam menunjukkan pukul tiga siang. Kami sampai di pintu gerbang manshion. Aku membuka gerbang kemudian kami masuk.

__ADS_1


 


“Dari mana kalian dapat ini? Ini Humvee kan?” tanya Ferel yang tiba-tiba berlari keluar di susul dengan Yuli dan Lia.


“Kebetulan kami menemukannya tadi. Ini ada beberapa senjata yang kami temukan.” Aku melemparkan empat senjata yang telah kami temukan tadi ke tanah.


“Gila! Inikan HK416, AK-47, F2000. Dan ini tipe Shotgun, M-4 S90! Dari mana kalian dapat ini?” tanya Ferel dengan mata berbinar-binar.


“Kau itu, sama saja dengan Kelvin ya. Kami mendapatkan semua ini di sebuah toko senjata yang cukup besar. Kau ingat toko senjata yang pernah kita lihat di tepian itu kan?” jawab Destian.


“Oh itu. Iya aku ingat. Tak kusangka mereka punya semua ini. Harga semua benda ini sangatlah tinggi.” Ferel membolak-balik sebuah senjata.


“Memangnya berapa total empat senjata dan satu kendaraan ini?” tanya Yuli tiba-tiba.


“Jika diuangkan dalam rupiah. Mungkin ratusan juta, atau lebih,” jawab Ferel.


“Semahal itukah?” tanya Lia.


“Ya. Apa lagi senjata-senjata ini sudah memiliki perlengkapan yang cukup lengkap,” jawab Destian.


“Iya. Aku juga lapar.” Destian mengikutiku dari belakang.


“Baiklah kami akan menyiapkan makanan.” Lia dan Yuli berlari mendahuluiku.


 


Hari ini sangat melelahkan. Setidaknya, kami bersyukur tak berhadapan langsung dengan para mayat hidup itu. Beruntung kami mendapatkan semua itu. Tapi, aku tak tau sampai kapan keberuntungan ini akan terus bertahan. Saat ini aku hanya bisa mengikuti alurnya saja. Malam ini kami mempersiapkan semua senjata yang kami temukan.


 


“Kelvin? Senjata yang kita punya sudah cukup banyak. Siapa yang akan menggunakannya?” tanya Destian.


“Kita punya dua M4A1, HK416, F2000, M-4 S90, AK-47, dua pistol, dan satu bilah pedang. Aku akan tetap menggunakan pedang. Kalian pilih saja ingin menggunakan senjata apa!” kataku sambil mengasah pedang.

__ADS_1


“Apa kau hanya akan menggunakan pedang? Bukannya pedang tidak akan bertahan lama? Beberapa tebasan yang menembus tulang akan membuat mata pedang keropos,” kata Ferel.


“Tidak jika kau menggunakan pedang dengan teknik yang tepat. Aku tidak akan menggunakan pedang saja. Aku akan membawa dua pistol ini.” Aku meletakkan pedang di atas meja dan mengambil dua pistol.


“Ya, itu cocok untukmu. Aku akan menggunakan F2000 ini. Amunisi ada lima slot, itu cukup banyak.” Ferel mengambil senjatanya.


“Baiklah aku akan gunakan HK416. Kau dan Ferel memiliki senjata jarak menengah. Aku akan gunakan yang jangkauannya sedikit lebih jauh.” Destian mengambil beberapa slot amunisi dari kotak.


“Hmm, sisanya ada empat. Apakah kalian berdua ingin menggunakannya?” tanyaku pada Yuli dan Lia.


“Hah? Aku tak bisa menggunakannya,” jawab Lia. “Iya, aku juga. Lagi pula kami tak mungkin sanggup menembakkan benda ini kepada mereka,” Yuli menyaut.


“Yah, kalian benar. Begini saja, kalian bawa saja dua pistol ini untuk berjaga-jaga. Aku sudah mengajari kalian cara pakainya bukan? Aku akan menggunakan M4A1 dan pedang ini.” Aku memberikan kedua pistol kepada mereka berdua dan mengambil M4A1.


“Kau akan menggunakannya dengan satu tangan?” tanya Ferel.


“Iya, senjata ini cukup ringan.” Aku mencoba membidiknya dengan tangan kiri. “Kalian berdua gunakan dua senjata. Kita harus siap untuk kemungkinan terburuknya.” Aku menatap Destian dan Ferel.


“Aku gunakan ini saja.” Ferel mengambil M4A1. “Aku yang ini ya.” Destian mengambil AK-47.


“Ok. Sisa Shotgun ini ya? Senjata ini memang sedikit sulit digunakan. Ngomong-ngomong berapa amunisi yang kita dapat untuk senjata ini?” tanyaku pada Destian.


“Kita mendapatkan 20 peluru untuk senjata itu,” jawabnya.


“Ya sudah. Simpan senjata dan pelurunya di tempat yang aman. Kita akan gunakan disaat keadaan tertekan,” kataku.


 


Dengan begini, persenjataan telah teratasi. Ferel menggunakan dua senjata jarak menengah dan jarak jauh, begitu juga dengan Destian. Aku rasa itu sudah cukup. Yuli dan Lia sudah memegang pistol masing-masing. Itu akan membuat mereka lebih aman. Malam ini kami memutuskan untuk menyudahinya dan beristirahat.


 


**Halo readers! Chapter kedua sudah selesai.. Singkat ya? Author[s] lagi kehabisan ide soalnya.. Hehe.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan komen yah... Terima kasih..


See you next slide**


__ADS_2