
05:34
Hari ini aku terbangun lebih pagi. Entahlah, tidurku kurang nyenyak malam ini. Aku beranjak dan pergi ke kamar mandi.
Terdengar suara ketikan keyboard dari arah ruang depan. Ternyata Yuli, aku pun mengurungkan niatku dan pergi menghampirinya.
“Kamu sudah bangun?” tanyaku. Dia nampak terlihat sedikit kaget dan menjawab.
“Iya sudah, dari jam empat tadi kok.”
Aku penasaran dengan apa yang dia kerjakan. Aku pun mendekat ke arah depan layar. Dan ternyata dia sedang membuka situs-situs tentang nama perusahaan yang kami temukan kemarin.
“Kita akan menyelidiki perusahaan itu?” tanyaku.
“Menurutmu bagaimana?” tanya dia balik.
“Mungkin kita harus meminta pertimbangan kepada mereka semua,” jawabku. “Hmm... jikalau memang kita akan menyelidikinya, dimana tempat perusahaan itu?” Aku menatapnya sambil menaikkan alis.
“Sejauh yang aku ketahui. Tempat yang paling dekat dengan kita saat ini hanya ada satu,” jawabnya.
“Dimana?”
“Tenggarong, di Pulau Kumala.”
............
“Pulau Kumala? Serius?” Aku masih setengah tak percaya. Kupelototi peta dunia di layar komputer yang terfokus pada satu titik koordinat.
“Kamu terkejut? Pertama aku juga, sempat tidak percaya. Tapi jika dipikir-pikir lagi, pemerintah bisa saja melakukan apapun demi kelancaran rencana mereka,” kata Yuli.
“Jadi, jika kita ingin menyelidikinya kita harus ke Pulau Kumala. Dan sekarang kita ada di Berau. Bisa saja kita kesana dengan mobil. Tapi, bagaimana dengan akses internet kita?” tanyaku sambil mempertimbangkan.
“Kebetulan kamu mengambil laptopkan? Kita bisa gunakan itu, untuk antena dan penangkap sinyalnya aku akan coba pasang di salah satu mobil kita,” jawabnya.
“Kalau begitu, tinggal persetujuan dari mereka saja.” Aku beranjak dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
09:12
Hari sudah menjelang siang, kami sekarang berkumpul di ruang depan.
“Dimana Ferel?” tanya Destian.
“Tadi, aku lihat dia baru saja masuk kamar mandi.” Lia baru saja datang dari arah dapur.
“Hmm... rutinitaskah.”
“Ya sudah, ada yang ingin aku bicarakan.” Aku membuka kata. “Dari hasil sebuah nama yang kami peroleh kemarin. Kami mendapatkan beberapa titik koordinat. Dan ternyata, pusat perusahaan ini ada di tiga negara, Rusia, Amerika, dan Jerman.” Tiba-tiba Ferel datang dan langsung duduk di samping Destian. Aku pun melanjutkan.
“Dan ternyata perusahaan tersebut memiliki banyak cabang. Cabang yang paling dekat dengan kita adalah di Tenggarong, Pulau Kumala.”
Mendengar hal tersebut, lantas mereka memasang wajah keheranan dan bertanya-tanya.
“Pemerintah bisa melakukan apa saja demi kepentingan mereka,” sahut Yuli.
“Jadi, aku ingin pendapat dari kalian semua. Apakah kita akan menyelidiki dan menyelesaikan masalah ini? Atau kita berdiam disini dan entah sampai kapan kita akan bertahan?” Aku menatap mereka semua yang tampak bimbang.
“Sebenarnya, apakah kita harus menyelesaikan masalah yang besar ini? Dimana para pemerintah dan aparatnya?” tanya Lia semakin bimbang.
“Pemerintah saja menyembunyikan ini. Bagaimana mereka mau membeberkan masalah ini pada kita.” Yuli menjawab.
“Bagaimana dengan kalian berdua?” Aku menatap pada Destian dan Ferel.
“Hidup kami penuh dengan kebosanan. Jadi, jika itu menarik maka kami akan ikut.” “Ya, kau benar.” Mereka berdua menyeringai.
“Baiklah, aku akan ikut dengan kalian saja.” Lia memutuskan pilihannya.
__ADS_1
Setelah itu aku dan Yuli membuat proyek baru, memasang antena jaringan pada Humvee. Kami memindahkan semua perangkat dan program jaringan yang ada di komputer ke laptop.
“Vin! Jangan lupa pindahkan semua datanya,” perintah Yuli.
“Baiklah.”
Cukup lama kami mempersiapkan semuanya. Dan tak terasa hari sudah mulai petang. Sekarang, jam menunjukkan pukul lima sore. Dan akhirnya, semua perangkat telah terpasang dan berfungsi dengan normal.
“Sudah selesai?” Destian baru saja keluar dari kamar ketika kami berdua masuk.
“Iya, kita akan berangkat besok pagi. Katakan pada mereka supaya bangun pagi.” Aku tak berbelok ke kamar, melainkan langsung menuju kamar mandi.
Perjalanan besok akan memakan waktu yang cukup lama, jika kami berangkat pagi kemungkinan kami akan sampai pada sore hari.
“Siapkan barang-barang kalian, jadi besok kita tinggal berangkat.” Aku baru saja masuk kamar. Kemudian mengemasi beberapa barang ke dalam tas.
“Vin, menurutmu apa yang akan kita temukan disana nanti?” tiba-tiba Ferel bertanya.
“Memangnya aku tau?” tanyaku balik.
“Yah, setidaknya kau bisa menebak.”
“Entahlah aku tak yakin, laboratorium tersembunyi mungkin. Bagaimana denganmu Des?” aku berbalik tanya pada Destian.
“Aku? Mungkin sama dengan pendapatmu,” jawabnya.
“Apa kalian yakin ini akan berjalan dengan lancar?” Ferel bertanya dengan wajah penuh kebimbangan. “Tidak biasanya kau seperti ini. Jalani saja,” tegas Destian.
“Setidaknya kita melakukan hal yang menarik sebelum kita berakhir, iyakan?”
“Yap itu benar,” jawabnya.
**Halo readers! Thanks atas semua dukungan kalian selama ini.. Jangan lupa like, komen, dan vote yah..
__ADS_1
See you next chapter** :)