
09:43
“Vin! Vin! Bangun!” Aku mendengar suara yang sangat familiar di telingaku. Aku mulai membuka mata perlahan. Aku melihat Yuli tepat di depanku.
“Cepat bangun! Sudah siang, ayo sarapan.” Dia menggoyang-goyangkan badanku yang terbaring. Aku pun terduduk, kulihat Destian sudah tak ada di tempatnya tertidur.
“Sudah pagi ya?” tanyaku sambil mengucek mataku yang sayu.
“Bukan lagi pagi, ini sudah hampir jam sembilan. Ayo kita sarapan.” Dia memaksaku berdiri dengan menarik kedua tanganku.
“Iya-iya aku bangun. Sebentar aku mau ke kamar mandi.” Aku pun bergegas ke kamar mandi.
Setelah itu aku berjalan menuju dapur untuk sarapan. Dan ternyata di sana hanya ada orang yang membangunkanku tadi pagi, Yuli.
“Dimana Destian dan Lia?” tanyaku begitu duduk di salah satu kursi yang memutari meja makan.
“Keluar mencari persediaan makanan.” Dia mulai mengambil sesuap omelet yang ada di piringnya.
“Oh, kamu belum sarapan ya?” tanyaku. Karena dia bisa saja sarapan dengan Lia tadi padi. Aku pikir dia hanya makan untuk kedua kalinya. Ternyata dugaanku salah.
“Belum, aku menunggu kamu bangun,” jawabnya.
“Oh, begitu.” Aku mulai memakan omelet yang ada di piringku. “Oh iya, mereka mencari makanan dimana?” tanyaku lagi.
“Di supermarket. Tak jauh dari sini, tempatnya di dekat jembatan penyeberangan ke pulau.” Dia terus melahap omeletnya hingga tersisa setengah.
“Hmm... di situ ya.” Aku melanjutkan makanku.
10:23
__ADS_1
Akhirnya Destian dan Lia pun pulang. Tapi entah kenapa setelah memakirkan mobil dia langsung berlari menuju dalam gedung. Aku melihatnya dari teras atas.
“Vin! Kelvin!” teriaknya. Aku mendengarnya dan langsung turun ke lantai satu. Diikuti dengan Yuli di belakangku.
“Ada apa?” tanyaku heran. Dia dan Lia nampak panik. Tapi, kelihatannya Lia tak mengerti situasinya. Dia juga nampak bingung.
“Aku merasakan keberadaannya,” ungkapnya.
“Hah? Siapa yang kau maksud?”
“Yuel Daveenci.” Begitu mendengar jawabannya. Aku terkejut, kemudian aku bertanya lagi. “Dimana kau merasakan keberadaannya?”
“Aku tidak tau, yang jelas dari arah pulau,” jawabnya dengan nafas masih terengah-engah.
“Apa dia masih mencari anak itu?” kataku dalam hati. “Jadi, kita akan beraksi sekarang?” Aku menatap mereka bertiga. Mereka hanya mengangguk setuju. Dan akhirnya, saat itu kami memutuskan untuk menuju pulau lagi.
Aku tak tau dia akan berada dimana, sebesar apa kekuatannya. Bahkan, aku saja belum pernah melihatnya. Seganas apa sampel bernama Yuel ini, sampai-sampai profesor itu memintaku untuk tak meremehkannya.
Untuk saat ini kami hanya bisa berjuang sekuat tenaga. Demi mengembalikan dunia kami yang telah lama hilang.
12:16
Saat ini kami telah sampai di pulau. Dan kami tidak tau dimana dia berada. Yang jelas, aku dan Destian bisa merasakannya.
__ADS_1
“Dimana dia?” tanya Destian begitu turun dari Humvee. Yuli dan Lia masih di dalam, hanya aku dan Destian yang keluar. Destian membawa sebuah pedang besar di punggungnya, dan aku mengikatkan dua katana di pinggang.
“Aku rasa, aku tau tempatnya. Kau tunggu di sini jaga mereka, aku akan memancingnya keluar.” Aku berjalan menuju tangga bawah tanah. Terus turun hingga akhirnya sampai ruangan yang sangat gelap. Aku tak melihatnya ada di sini.
Tiba-tiba aku mendengar suara Destian di luar. Aku pun berlari menaiki anak tangga dan keluar dari ruangan bawah tanah. Ternyata dia telah berada di sana. Entah sejak kapan, yang jelas sekarang dia sedang berhadapan dengan Destian. Aku berlari ke samping Destian.
“Apakah dia?” tanyaku.
“Sepertinya begitu.” Dia kemudian mengambil satu langah ke depan. “Apa kau Yuel Daveenci?”
“Ya. Sepertinya kalian sudah tau ya, zellcontroller?” ucapnya sambil menyeringai lebar. Aku rasa dia sudah tau identitas kami yang sebenarnya. Aku dari tadi masih memperhatikannya. Dia memiliki rambur panjang hampir sebahu. Matanya sayu dan tajam. Seluruh tubuhnya menghitam seperet mayat hidup lainnya.
Namun, tiba-tiba dia melesat maju dan ingin menusuk Destian. Spontan aku langsung menoleh ke arah Destian. Serangannya tak dapat dihindari lagi.
Dan ternyata, Destian menangkis serangan Yuel dengan pedangnya. Akhirnya Yuel pun melompat mundur beberapa meter.
“Sepertinya kalian lumayan, tidak seperti mereka saat itu. Baiklah, aku akan serius.”
Yuel mengubah seluruh kaki dan tangannya menjadi senjata. Dengan empat organ itu dia membuat senjata pada masing-masing organ. Dan sekarang, seluruh tangan dan kakinya dipenuhi dengan tulang yang lancip seperti pedang.
“Des, aku akan fokus menyerang. Apa kau bisa bertahan?” Aku mulai merubah kakiku, dan sekarang aku bisa berlari dengan bebas.
“Baiklah, akan kuusahakan.” Dia mulai memperbesar kedua lengannya dengan pedang di genggamannnya.
__ADS_1
......