
Hingga akhirnya dia menoleh ke arahku dan mulai menangis. Aku sedikit terkejut dengan reaksinya. Dia menempelkan dirinya di dadaku, sambil terus menangis lirih.
“Sudahlah. Aku tau kamu takut. Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Aku berusaha menenangkannya sambil terus mengusap rambutnya.
“Kamu yakin?” tanyanya lirih sambil meneteskan air mata.
“Hmm, ya. Aku yakin. Kamu tak usah khawatir. Aku ada di sini bersamamu.”
Tak berapa lama kemudian dia menghentikan tangisannya, lalu mengusap-usap air mata yang ada di pipinya. Kemudian dia bertanya lagi. “Bagaimana denganmu?”
“Aku? Aku kan ada di sini bersamamu. Selama kamu ada aku juga akan tetap ada bersamamu,” jawabku sambil menurunkan tanganku.
“Mmm... apa kamu akan tetap menjadi seperti ini? Maksudku, menjadi zellcontroller?” tanya dia lagi.
“Entahlah, aku masih belum tau bisa kembali menjadi manusia normal atau tidak. Yang jelas, aku akan tetap menjadi Kelvin yang kamu kenal.” Aku mencubit hidungnya.
“Ihh! Sakiit.” Dia memukul perutku dengan kedua tangannya. Aku hanya tersenyum melihatnya kembali ceria lagi.
“Sudah ayo masuk, di sini dingin. Hidung kamu merah, nanti kena flu.” Aku menarik tangannya dan mulai berjalan masuk.
“Ini gara-gara kamu!” Dia nampak mengembangkan pipinya.
“Iya-iya, maaf.” Aku dan Yuli pun masuk ke ruangan dan menutup pintu teras. Karena angin malam semakin dingin saat ini.
Aku kembali duduk di sofa seperti biasa, dengan ponsel di genggamanku. Dan Yuli tiba-tiba duduk si di sebelah dengan laptop di pangkuannya.
__ADS_1
“Sedang apa?” Aku melirik ke monitor laptopnya.
“Main gim,” jawabnya dengan mata fokus ke laptop. Entah apa yang dia mainkan, tapi kelihatannya dia sangat menikmati. Destian dan Lia ada di sofa sebelah, dengan kegiatan yang sama. Entah apa yang mereka mainkan.
“Kalian tidak mengantuk?” tanyaku.
“Hmm? Memangnya ini jam berapa?” Destian mengalihkan pandangan dari ponselnya dan menatapku.
“Lihatlah sendiri di ponselmu,” jawabku. Dia kembali menatap ponselnya.
“Masih jam 11. Aku belum ngantuk.” Dia kembali fokus ke ponselnya. Sebenarnya aku juga belum begitu ngantuk, jadi aku melanjutkan membaca manga di ponselku.
Malam itu menjadi malam yang sangat tenang saat itu, hanya rintik hujan yang mengisi keheningan malam.
.........
23:54
Perlahan aku mengambil laptopnya supaya aku tak membangunkannya. Setelah itu aku matikan. Dan dia masih bersandar tidur di pundakku. Aku meletakkan laptop itu disamping kiriku dan aku masih tetap duduk di sini.
“Des!” panggilku dengan berbisik. Dia menatapku dan menyadarinya, dia hanya tersenyum melihat Yuli tertidur di pundakku.
“Kenapa?” tanyanya dengan suara pelan saat menghampiriku.
“Belum ngantuk?”
“Sudah sebenarnya, sedikit. Lia sudah tidur juga,” jawabnya. Aku melihat ke arah Lia yang terbaring di sofa. Dan benar saja, dia tertidur dengan ponsel di tangannya.
__ADS_1
Dengan perlahan aku beranjak dari sofa dan meletakkan kepalanya di sofa. Kemudian aku mengambil selimut dan menyelimutinya.
“Kau tidak menyelimutinya?” tanyaku ke Destian sambil menoleh ke arah Lia yang pulas tertidur.
“Ini mau aku ambilkan selimut.” Dia beranjak dari duduknya.
Saat ini, aku dan Destian masih duduk di atas karpet. Mereka berdua sudah tertidur duluan. Entah kenapa kami berdua tak bisa tidur.
“Vin. Aku masih kepikiran dari kemarin. Jika saja, semuanya telah selesai nanti. Pandemik akan lenyap dan teratasi kan? Tapi, bagaimana setelah itu? Populasi manusia juga pasti berkurang kan?” Dia terus melontarkan pertanyaannya.
“Aku juga tak tau pasti. Menurutku, mungkin dunia akan dibangun kembali. Yah, walaupun manusia hanya sekian persen dari jumlah sebelumnya. Mungkin peradaban bisa memulainya lagi,” jawabku.
“Terus, bagaimana dengan kita? Sebagai zellcontroller?” tanya dia lagi.
“Aku rasa kita akan tetap seperti ini. Tapi, ada kemungkinan juga perusahaan membuat serum baru untuk mengembalikan zellcontroller seperti manusia biasa,” jawabku.
“Kupikir itu sedikit mustahil. Memangnya mereka mau melakukan semua itu?” Kelihatannya dia masih meragukannnya. Yah, wajar saja.
“Iya juga ya. Tapi bukannya ini menguntungkan? Sebagai zellcontroller kita memiliki kemampuan yang lebih kan?” Aku menatapnya sambil mengerutkan alisku.
“Jika kau pikir lagi, apa mungkin mereka akan membiarkan kita?” ucapnya. Seketika aku tersadar. Aku tak pernah memikirkan kemungkinan itu.
“Hmm, ya. Mereka bisa saja membasmi semua zellcontroller untuk menghilangkan jejak mereka. Karena selama ini mereka terus menyembunyikan diri, aku rasa itu juga memungkinkan.”
“Sudahlah, aku harap kita bisa mengatasinya jika benar-benar terjadi nanti.” Dia menyudahi percakapan dan lekas tidur. Yah, aku harap juga begitu. Setidaknya, biarkan mereka berdua aman jika memang aku dan Destian harus berjuang.
**Halo readers! Thanks buat semua apresiasinya yah.. Jangan lupa like, komen, dan vote yah...
__ADS_1
See you next chapter** :)