
Pandanganku gelap. Aku tak bisa melihat apa-apa di sini.
“Dimana aku? Dan kenapa aku di sini? Ingatanku kabur, rasanya aku sedang bertemu dengan sesuatu yang penting. Dan... aku tak ingat lagi.” Aku terus mencari tau, ingatanku semakin tak jelas. Semuanya bercampur dalam memori.
.........
Aku terbangun, dan perlahan membuka mata. Mataku tertuju pada sesuatu yang tak asing bagiku. Rasanya aku pernah melihatnya.
“Ini, dimana?” tanyaku ketika aku berusaha untuk duduk. Kepalaku sangat pusing, seperti berputar-putar. Sensasi ini, sepertinya aku pernah merasakannya. Sensai empuk ketika aku bergerak.
Aku memutar pandangan. Dan ternyata aku ada di gedung, tempat kami tinggal. Tepat terbaring di atas sofa. Tiba-tiba Destian dan Lia datang entah dari arah mana.
“Kau sudah bangun?” tanya Destian berlari menghampiriku.
“Apa yang terjadi? Dimana Yuli?” Aku tak menjawabnya dan berusaha tuk berdiri.
“Dia ada di sana.” Destian menunjuk tempat Yuli terbaring dengan tangan kanannya. Aku melihatnya terbaring tak berdaya. Spontan, aku langsung menghampirinya.
“Ada apa dengannya? Apa yang terjadi?” tanyaku panik.
“Hey, tenanglah.” Destian memegang bahuku dengan tangan kanannya. Aku menatapnya, dan mengalihkan pandangan ke tangan kirinya yang penuh dengan perban.
Dan seketika aku mengingatnya. Kami bertarung dengan Yuel dan dan kami terluka parah. Namun, ingatanku hanya sampai saat Yuli melindungiku. Setelah itu, aku tak ingat lagi. Aku tak peduli, aku langsung menanyakan keadaan Yuli. “Jadi, dia baik-baik saja kan?”
Mereka berdua hanya diam. Dan tak lama kemudian Lia menjawab dengan nada yang putus asa.
“Dia... kehilangan banyak darah. Aku sudah berusaha menghentikan pendarahannya, tapi dia tetap tak sadarkan diri hingga sekarang.”
Aku melihat ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul empat lewat, dan di luar masih gelap. Ini berarti sudah hampir pagi. Artinya, dia sudah tak sadarkan diri selama 12 jam lebih.
__ADS_1
Aku memegang tangannya erat-erat, masih kurasakan denyut urat nadinya yang semakin melemah. “Apa tak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya?” tanyaku.
“Tidak mungkin. Kita tak mempunyai semua akses yang diperlukan. Jika saja, dia bisa mendapat perawatan di rumah sakit. Dia pasti selamat,” jawab Lia sambil terus meneteskan air mata.
.........
Aku sempat putus asa, karena dia begini juga karena diriku. Namun, aku teringat satu hal. “Tunggu dulu. Ada satu cara yang bisa kita lakukan.” Aku bergegas menuju meja dan mengobrak-abrik semua yang ada di sana.
“Apa itu?” tanya Destian. Dan akhirnya, aku menemukan apa yang kucari.
“Itu? Serum zellcontroller?” Lia terkejut. “Apa kau yakin? Kondisi tubuhnya saja seperti itu, dia tidak mungkin bisa menerima serum itu. Terlalu beresiko.” Dia berusaha untuk mencegahku.
“Aku tau ini egois. Tapi, aku ingin berjuang untuknya sekali lagi.” Aku bergegas mengambil satu serum dari dalam kardus.
Aku sedikit ragu. Namun, setelah dipikir lagi tak ada waktu untuk ragu.
Perlahan aku menyuntikkan serum itu di tangan Yuli yang terbaring. Aku sangat berharap tubuhnya mampu menerimanya.
Pelan namun pasti, serum di tabung suntik tak tersisa. Aku memegang erat tangannya, dan ternyata... semuanya bekerja sesuai harapan. Denyut urat nadinya terasa lebih normal dari yang tadi aku rasakan.
Aku menatap ke arah Destian dan Yuli sambil tersenyum, dan mereka juga ikut merasakan kebahagiaan itu. Lia sampai menangis di pelukan Destian.
“Aku rasa semua akan baik-baik saja.” Aku mengusap rambut Yuli dan terus menggenggam tangannya. Entah kenapa, aku tak mau melepaskannya untuk saat ini.
“Vin? Apa kau sudah mengingat semuanya?” tanya Destian. Dia dan Lia kemudian duduk di sampingku.
__ADS_1
“Aku hanya ingat saat Yuli terkena serangan. Setelah itu, aku tak bisa mengingatnya.” Aku menoleh ke arah tangan kiri Destian. “Des, tangan kirimu tak bisa pulih?” tanyaku.
“Ini. Aku sudah mencobanya beberapa kali, tapi tetap tidak bisa kembali normal,” jawabnya.
“Maaf... karena aku kau jadi begini.” Aku membungkukkan diri di hadapannya. Aku sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya.
“Tidak. Jangan menyalahkan dirimu terus. Ini bukan salahmu.” Dia menepuk pundakku.
“Tapi, aku sangat bersyukur aku masih baik-baik saja. Jika bukan karena aku seorang zellcontroller, aku pasti sudah mati saat itu juga. Oh! Aku akan menceritakan kejadian setelah itu.”
“Setelah semuanya tak berdaya. Kau ingin dibunuh oleh Yuel. Dia mendekatimu kemudian menusukmu tepat di jantung. Tapi, tiba-tiba tanganku mengentikan tusukannya.
Dia bahkan tak mampu menembus genggaman tanganmu. Kemudian dia mundur. Dan kau mulai berdiri, seketika tubuhmu berubah drastis. Kau membesar, dan semua tubuhmu menghitam. Mirip seperti Yuel...”
“Menghitam? Maksudmu?” tanyaku memotong ceritanya.
“Hmm... seperti mayat hidup. Dengan tekstur kulit yang sedikit menjijikkan,” jawabnya.
“Hah?” aku masih tak paham dengan apa yang dia maksud. Aku tau dia adalah pencerita yang buruk. Tapi ya sudahlah, aku dengarkan saja ceritanya. Kemudian dia melanjutkan ceritanya.
“Terus, kau mengalahkan Yuel dengan serangan bertubi-tubi. Aku tak ingat pasti bagaimana kau mengelahkannya. Yang jelas, kau sangat cepat. Kemampuan regenerasimu juga luar biasa. Saat itu Yuel tak berkutik.”
“Jadi, kita berhasil mengalahkannya?” tanyaku.
“Belum, dia masih bisa kabur dengan sisa kekuatannya.”
“Cih!” Aku sedikit kecewa karena tak berhasil mengalahkannya. “Setelah itu, bagaimana kita sampai di sini?” tanyaku lagi.
“Di saat terakhir, kau kembali tak sadarkan diri. Kemudian kami berdua membawamu dan Yuli pulang,” jawabnya.
“Kau menggunakan Humvee? Ternyata di saat genting berguna juga otakmu ya.” Aku tertawa kecil melihat mukanya yang datar.
“Ayolah. Jangan mengejekku!”
__ADS_1
......