
Perlahan kami membuka pintu dan mencoba untuk masuk. Ternyata di dalam tak ada mayat hidup satu pun.
“Kelihatannya toko ini cukup besar,” kata Destian.
“Iya, aku baru tau. Cepat cari persenjataan yang berguna.” Aku mulai menggeledah seisi toko senjata itu.
“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Destian.
“Aku menemukan sebuah pistol disini, dan juga beberapa amunisinya,” jawabku.
“Kelvin! Coba kau kesini sebentar!” perintah Destian.
“Ada apa? Sebentar, aku akan kesana.” Aku berjalan menuju tempat Destian berada.
“Bukankah ini Assault Rifle? Bahkan ada tipe Shotgun disini.” Destian mengangkat sebuah senjata yang ia ambil dari sebuah peti besar.
“Sudah kuduga. Tidak mungkin toko senjata sebesar ini tidak memiliki barang-barang bagus seperti ini,” jawabku.
“Tapi, bukankah ini ilegal? Senjata-senjata ini mayoritas buatan luar negeri. Jika toko ini memiliki izin dari pemerintah. Dia tidak akan membuka untuk publik bukan?” tanya Destian keheranan.
“Tidak jika mereka membeli bagian-bagiannya satu persatu. Yang ilegal adalah merakitnya. Mereka tidak mungkin menjual ini begitu saja kepada masyarakat. Mereka tidak sebodoh itu. Senjata-senjata ini harganya mahal, hanya orang-orang kalangan tinggi yang dapat membelinya. Sudahlah, itu tak penting saat ini. Beruntung kita bisa menggunakan senjata-senjata ini dengan gratis bukan? Kelihatannya ini akan semakin menarik.” Aku terus mengotak-atik beberapa senjata yang kami temukan.
“Aku tidak terlalu mengerti. Tapi, kelihatannya senjata-senjata ini hebat. Jujur saja ini sedikit berat.” Destian mengambil salah satu senjata yang tergeletak di dalam peti besar itu.
__ADS_1
“Itu HK416, senjata mematikan dari Jerman yang merupakan gradasi dari M4 Amerika. Dan juga perlengkapannya sangat luar biasa. Yang kupegang ini senjata dari Belgia, F2000. Hampir sama seperti P90. Senjata ini bisa membuat 850 tembakan dalam satu menit,” jelasku.
“Oh yang itu. Aku pernah menggunakannya di gim. Amunisinya juga banyak disini. Sekitar lima slot.” Destian mengambil beberapa amunisi.
“Ini sempurna! Kita juga mendapatkan AK-47 disini. Ini adalah senjata yang cocok untu misi pembantaian.” Jelasku terkagum-kagum. Aku tak percaya akan memegang senjata-senjata hebat ini.
“Kau ini. Benar-benar penggila FPS ya. Kita juga mendapatkan satu Shotgun disini. Ini, coba kau lihat.” Destian mengulungkan sebuah senjata kepadaku.
“Oh. Itu Benelli M-4 Super 90 dari Italia. Tekanannya sangat kuat. Jika kau ingin menggunakannya, arahkan recoil pada dada musuh. Saat peluru dimuntahkan, recoil akan otomatis bergerak ke atas mengenai kepala musuh,” terangku.
“Iya. Aku tau itu. Jadi apakah kita akan kembali sekarang?” tanya Destian.
“Tunggu dulu. Jam masih menunjukkan pukul dua siang. Aku masih penasaran dan ingin menggeledah tempat ini. Bawa dua senjata itu!” Aku memasukkan dua senjata dan amunisinya ke dalam tas.
Kami menemukan aset yang sangat luar biasa disini. Tak kusangka, aku akan menemukan senjata-senjata itu di tempat ini. Sepertinya ada hal lain yang lebih menarik di tempat ini. Jadi, kami memutuskan untuk mencari sesuatu lagi di tempat ini.
“Vin! Ada sebuah ruangan disini. Tapi sepertinya diberi kunci keamanan otomatis. Jadi kita tak dapat membukanya,” kata Destian.
“Kau tau apa artinya?” tanyaku seolah-olah memberinya tebakan.
__ADS_1
“Apa?”
“Artinya, ada sesuatu di dalam sana yang luar biasa. Dengan kata lain, kita harus menghancurkan pintunya.” Aku mengambil sesuatu dari dalam tas.
“Tapi, bagaimana kau menghancurkannya? Kau tidak mungkin menembaki pintunya bukan?” tanya Destian keheranan.
“Aku tak sebodoh itu Des! Aku akan gunakan ini.” Aku menunjukkan sebuah bom di genggaman.
“Bukankah itu bom asli? Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Destian tambah keheranan.
“Tentu saja ini asli. Jika palsu aku tak akan menggunakannya, konyol! Tenang saja, area ledakannya tak memiliki radius yang jauh. Ini hampir sama seperti bom pintu.” Aku mulai menyetel bom dan meletakkannya di dekat pintu.
“Dan sekarang kita lari!” teriakku.
“Hei! Tunggu! Kau bilang radiusnya tidak jauh.” Destian berlari menyusulku.
“Memang benar. Tapi setidaknya kita harus berlindung jika ada serpihan yang terlempar,” kataku.
“Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Dasar!” seru Destian sedikit kesal.
**Halo readers! Jangan lupa buat vote, like, dan komen yah.. Terima kasih..
See you next slide** :)
__ADS_1