
Aku Kelvin Yoga Oktaviano, mereka memanggilku Kelvin. Umurku sekarang 16 tahun lebih, aku kelas XI IPA 2 di SMA Negeri 5 Berau, salah satu SMA yang ada di Kalimantan Timur. Jam menunjukkan pukul enam lewat, dan aku sedang siap-siap berangkat sekolah. Jarak rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh. Aku berangkat ke sekolah menggunakan motor. Biasanya aku berangkat dari rumah sekitar jam tujuh kurang. Namun, karena hari ini aku piket, jadi aku berangkat dari rumah jam setengah tujuh.
Sekarang aku sudah ada di kelas, istirahat sejenak sehabis piket. Tiba-tiba terdengar suara lonceng menandakan pelajaran akan dimulai. Saat pelajaran sedang dimulai, pada awalnya sekolah masih terlihat normal. Kami semua belajar dengan tenang. Aku keluar kelas untuk pergi ke ruang guru mengambil buku. Ruang guru terletak di samping koridor yang menjadi jalan masuk dari gerbang utama sekolah. Saat aku diruang guru, dari balik jendela aku melihat seseorang yang sedang berjalan memasuki gerbang, saat itu gerbang sedang tak ditutup. Orang tersebut terlihat aneh, cara dia berjalan seperti orang yang tak bertenaga. Kemudian aku lihat pak satpam mendekatinya sembari mengatakan sesuatu, terlihat dari kejauhan pergerakan mulutnya. Namun, hal yang mengerikan terjadi. Tiba-tiba orang yang nampak tak berdaya tadi menggigit leher pak satpam hingga terjatuh. Darah tercecer dimana-mana saat itu. Aku kaget dan langsung berlari ke koridor untuk melihat keadaannya. Saat aku perhatikan baik-baik, orang yang menggigit pak satpam tak terlihat seperti orang normal. Tubuhnya penuh darah dan menghitam, begitu juga wajahnya. Matanya sangat sayu, dan bola matanya tak memiliki titik hitam. Seperti mayat hidup. Tidak, mungkin dia memang mayat hidup.
Aku pernah melihat yang seperti ini di film-film. Tapi aku masih ragu, apakah ini benar-benar terjadi? Aku berlari meninggalkan koridor menuju kelas. Saat ini di kelas sedang tak ada guru. Aku terus berlari dan akhirnya memasuki kelas.
__ADS_1
“Dengar semuanya! Ada mayat hidup di sekolah ini. Pak satpam sudah jadi korban. Selanjutnya pasti akan banyak korban. Jadi, segeralah selamatkan diri kalian!” Aku berusaha menjelaskan. Namun, mereka masih ragu dan terus bertanya-tanya.
“Hah? Mayat hidup? Maksudmu zombi seperti di film-film itu? Memangnya ada?” tanya seseorang yang kelihatan tak percaya dengan apa yang kukatakan.
“Jika kalian tak percaya, lihat saja sendiri disana. Aku yakin, pasti sekarang di ruang guru sedang terjadi keributan. Jika kalian ingin hidup, kalian harus berusaha keluar dari sekolahan ini.” Aku menegaskan sambil berjalan mengambil sebuah tongkat pramuka dari belakang pintu.
__ADS_1
“Kalian tidak ikut berlari? Seperti mereka?” tanyaku kepada mereka berdua.
“Jika dipertimbangkan lagi. Mungkin lebih baik disini dan melakukan sesuatu yang lebih berguna,” jawab teman sekelasku yang bernama Destian Pratama. Dia merupakan orang paling santai di kelas, hampir tak pernah tertekan atau panik.
“Kalau aku sih, aku tidak terlalu suka berlari. Lagi pula kita bisa mengamati para mayat hidup itu dulu bukan. Setelah itu, kita akan dapat kelemahannya dan melawan. Seperti di film-film.” Namanya Ferel Bramasta, dia merupakan orang yang sangat menyukai film-film zombi. Bisa dibilang, dia maniak zombi.
“Santai sekali kalian jawabnya. Seolah-olah tidak ada yang terjadi,” kataku setelah mendengar penjelasan mereka.
“Kau sendiri kenapa bisa setenang itu? Padahal biasanya orang-orang akan histeris dan teriak-teriak seperti mereka yang ada diluar sana itu. Apalagi ketika melihat teman-temannya mati dan menjadi mayat hidup,” tanya Destian sedikit keheranan.
__ADS_1
“Entahlah. Mungkin kalian sudah tau, bagaimana sifatku. Aku tak terlalu suka bergaul, lagi pula teman yang kupunya juga sedikit. Bahkan mereka bilang, aku orang anti-sosial. Jadi, ketika melihat murid-murid lain mati dan berubah menjadi mayat hidup. Dan tidak ada yang bisa aku lakukan. Ya sudah. Anggap saja aku manusia yang tak bermanusiawi.” Aku mengumpulakn meja ke belakang pintu.