PARA PEMEGANG KENDALI

PARA PEMEGANG KENDALI
13


__ADS_3

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Menyentuh gadis ku? Kalian salah besar! —KTH


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Upacara itu berakhir. Sistem di kampus ini sangat buruk. Siapa yang kaya maka di situ yang berkuasa. Kebetulan Chanyeol adalah anak dari salah satu dosen di kampus yang juga di hormati Mahasiswa yang lain. Hingga ia sedang berusaha menguasai seisi kampus karena statusnya sebagai ketua Senat dan anak dari Dosen.


"Sayang..." Lalisa memeluk pria tinggi itu dari belakang. Chanyeol tersenyum manis saat kekasihnya bermanja-manja dengannya.


"Kenapa sayang? Besok aku akan mulai sibuk karena pekerjaan Senat tahun lalu banyak yang tidak selesai." Jelas Chanyeol dengan lembut. Lalisa hanya mengangguk sedih.


"Gadis itu terus menggangguku. Aku hanya sebal dengan wajah sok lugunya itu!" Lisa mempoutkan bibir. Membuat Chanyeol gemas melihatnya.


"Siapa?"


"Jung Yerin." Chanyeol mengerutkan keningnya. Seakan teringat dengan sosok anak pendiam di sekolahnya dulu.


"Lakukan apa yang kau ingin lakukan. Aku akan melindungi mu." Ucap Chanyeol. Ia terlalu menyayangi Lalisa hingga tidak bisa melihat gadis itu sedih.


Mendengar ucapan itu Lalisa tersenyum manis. Tangannya menarik leher Chanyeol dan mengecup pipi pria itu. Lalisa tersenyum lalu pergi secepat mungkin. Chanyeol hanya menggeleng dan tersenyum sendiri dengan kelakuan gadisnya yang semakin lama semakin imut.


"Huh! Memang kelinci manis." Gumam Chanyeol sebelum kembali kepada kesadarannya.


.


.


.


.


Byuuuurrrrr


"Bodoh! Kenapa kau tidak pergi saja dari dunia ini selamanya!" Kesal Lalisa hanya karena melihat wajah Yerin.


PLAK


Lalisa meringis kesakitan saat Sowon menamparnya. Siapapun yang berani menganggu Yerin, maka banyak sahabat di belakangnya yang akan membelanya.


"Diam mulut busuk mu itu! Apa kau takut kalah dengan pesona Yerin? Hmmm.." Ucapan meremehkan dari Yuju membuat Lalisa menjadi sorotan orang-orang di kampus.


"Hya! Maksud kalian apa main keroyokan seperti ini!" Jennie yang baru datang menatap tajam Yerin.


Yerin hanya mendesah pelan menatap Jennie yang seperti sedang mengancamnya. Jennie memeluk Lalisa yang masih kesal.


"Dasar gadis sialan! Kau masih berani mengganggunya. Tubuh kotormu itu sudah tidak berhak menyentuh gadis yang masih bersih!" Ucapan Jennie membuat semua orang penasaran.


"Maksud mu apa berkata begitu?!?" Kesal SinB yang geram melihat Jennie.

__ADS_1


"Apa kau masih berharap kartu As lama mu masih berfungsi? Hmm?" Tanya Eunha yang menatap sinis Jennie.


"Kau hanya mempermalukan dirimu sendiri bodoh!" Kesal Yuju.


Yerin hanya terdiam karena ia sendiri bingung harus bagaimana. Eunha membawa Yerin pergi dari sana. Mengganti baju Yerin lebih baik dari pada membiarkan Yerin mendengar hal pait. Biar Yuju, Sowon dan SinB yang akan membalasnya.


"Kau kira aku takut? Jimin tidak ada di sini! Jadi ancaman kalian tidak berguna!" Jennie tersenyum sinis.


Tanpa mereka sadari. Tiga pria tampan itu sedang menonton mereka dari kejauhan. Taehyung juga sudah tersenyum saat melihat gadisnya yang di bawa pergi Eunha. Kini nama Jimin di sebut-sebut dalam pertengkaran para wanita.


"Sepertinya dendam lama belum bisa di sembuhkan." Ucap Jimin sambil terkekeh pelan.


"Lalu kau akan mengatakannya?" Saat suara Sowon kembali terdengar, Taehyung segera berdiri dari tempatnya bersama Jimin dan Jungkook untuk mendekat.


"Untuk apa kalian menutupi kedok dari gadis murahan. Bahkan mahkotanya saja tidak bisa ia jaga?" Ucapan Jennie membuat yang lain benar-benar shock dengan berita baru itu.


"Jung Yerin itu sudah tidak gadis lagi. Dia sudah melakukannya saat SMP. Aku melihatnya sendiri." Ucap Jennie yang mengumumkannya ke seantero kampus.


"Kau selalu saja memfitnah orang baik. Itu tidak bagus untuk mu kelinci kecil ku!"


Suara itu, panggilan itu. Tubuh Jennie menegang. Mendapati mereka lengkap berada di samping kantin sedang menatap lurusnya.


"Tarik ucapan mu lagi. Kalau kau yang seperti itu dan menyalahkan Yerin. Itu tidak baik Jennie Kim." Ucap Jimin yang menatap tajam Jennie.


Jennie terdiam. Lisa yang menatap kedatangan Taehyungpun memilih menarik Jennie untuk pergi dari sana.


"Diam!" Kesal Jimin.


Taehyung yang pergi dari sana membuat mereka juga pergi. Tontonan gratis telah usai. Semua orang di kantin ikut bubar tapi perkataan Jennie menjadi gosip yang menyebar luas.


"Sudah lama tidak berjumpa?"


Di sana tepat di parkiran kampus. Eunha berdiri di samping Yerin yang sedang menangis. Dua gadis itu terlihat ketakutan dan bingung. Sudah lama mereka tidak saling sapa, itu yang di rasakan Eunha. Sedangkan Yerin, dia tertangkap.


Yerin tertunduk saat Taehyung berjalan mendekatinya. Menatapnya sangat tajam. Yerin memang merasa kalau kali ini ia yang salah tapi apa boleh buat. Demi sekolah dan keluarga mereka. Yerin harus pergi.


"Apa keadaan mu lebih baik setelah pergi dari pengawasan ku?" Suara itu lagi. Yerin gugup dan bingung. Yerin memberanikan diri menatap pria itu.


"Maafkan aku." Taehyung tertawa pelan mendengar permintaan maaf Yerin.


"Baiklah. Apa sekarang kau akan ikut dengan ku?" Taehyung mengulurkan tangannya.


Yerin mengangguk dan menerima uluran tangan itu. Menatap Eunha untuk meminta izin. Hari ini ia harus membereskan semua masalah yang mengganjal di hatinya.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


"Kenapa?"


Setelah mereka berada di apartemen Taehyung. Lebih tepatnya setelah Yerin ganti baju, mereka duduk di ruang tamu Taehyung. Pria itu menatap lekat gadis yang membuat ia kesepian dua tahun terakhir ini.

__ADS_1


"Aku... Aku takut kita semakin dekat." Taehyung mengerutkan dahinya.


"Di villa waktu itu.."


"Aahh!! Yerin, apa kau kira aku sebodoh itu untuk melakukan hal bodoh lagi. Hanya perlu satu kali untuk mengikatmu di sisi ku. Tapi aku selalu kalah dengan pemikiran mu. Kau selalu bisa pergi kapanpun semau mu. Kau bisa meninggalkan ku terus meski aku memintamu untuk tetap tinggal." Taehyung menghela nafas beratnya.


"Bukan. Bukan seperti itu. Aku hanya—"


"Sekarang apa kau akan meninggalkan ku lagi?"


"Tidak! Aku akan tetap di sisimu."


Semua pertanyaan dan jawaban itu berlangsung dengan cepat. Seolah mencari kejujuran satu sama lain.


"Aku akan benar-benar mengurung mu di sisi ku." Ucap Taehyung memperingati.


Yerin tersenyum mengangguk. Air matanya sedikit menetes karena rindu. Taehyung melebarkan kedua tangannya, meminta Yerin untuk memeluknya. Yerin tersenyum menatap wajah datar Taehyung saat melakukan itu.


"Kau tidak merindukan ku?" Tanya Taehyung sebal karena Yerin tak kunjung datang.


"Aku sangat merindukan mu." Ucap Yerin sebelum berhambur peluk ke arah pria itu.


"Aku lebih merindukan mu! Dasar anjing nakal!" Geram Taehyung yang memeluk gadis itu sangat erat. Menghirup aroma yang ia rindukan. Sangat ia rindukan.


"Kau tahu, betapa gilanya aku karena merindukan mu." Ucap Taehyung seraya mengecup lembut bahu Yerin dan menghirup aroma di ceruk leher Yerin.


"Ku kira kau akan melupakan ku. Bukannya saat terakhir aku pergi. Kau sudah nyaman bersama kekasih mu itu, oppa?" Taehyung melonggarkan pelukannya dan menatap wajah bulat menggemaskan itu.


"Aku memutuskannya saat aku tahu kau pergi. Begitupun dengan Jungkook. Dia memutuskan Eunha. Aku tidak menyuruhnya begitu." Jelas Taehyung membuat Yerin bingung.


"Tapi kata Eunha, mereka memutuskan hubungan saat hari kelulusan karena mereka takut tidak bisa di kampus yang sama." Ucap Yerin.


"Tidak. Mereka berpisah karena mu. Jadi kepergian mu membuat dua pasangan putus." Yerin menatap Taehyung tak suka.


"Jadi kau merasa aku yang membuat hubungan mu dan Lisa berakhir??? Hmm.." Taehyung malah tertawa mendengar tuduhan Yerin.


Taehyung merebahkan tubuhnya di sofa dengan posisi yang masih memeluk Yerin dengan erat. Bahkan gadis itu sudah berada di atas Taehyung. Bercerita dengan sangat nyaman. Melepaskan rasa rindu satu sama lain.


.


.


.


.


.


Continue. . . . .

__ADS_1


__ADS_2