PARA PEMEGANG KENDALI

PARA PEMEGANG KENDALI
30 [Tamat]


__ADS_3

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Tahukah kau, sekeras apapun kau berusaha menguasai, sekeras apapun kau berusaha mengendalikan. Tidak ada yang bisa melawan takdir. Karena Tuhan begitu tahu apa yang di butuhkan oleh mahluknya —Artae.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Sepuluh tahun berlalu.


Rumah itu masih sama hangatnya. Pria dengan rahang tegas dan tatapan tajam itu berjalan menuju tempat di mana seseorang yang ia rindukan tengah memasak untuknya.


"Sedang memasak apa?" Pria itu memeluk istrinya dari belakang.


Yerin yang menyanggul rambutnya sambil memasak. Membuat wanita itu terlihat mempesona. Leher jenjang menjadi tempat di mana seseorang selalu bertengger.


"Kenapa cepat sekali kau pulang. Aku baru saja selesai mencuci dan baru memasak. Adik mu datang menemani Una bermain."


Taehyung mengecup bahu Yerin lembut lalu menatap istrinya teduh.


"Jungkook datang?" Yerin hanya mengangguk.


"Biarkan dia bermain sama Una, aku tahu dia masih belum bisa melepasnya." Ucap Taehyung dengan helaan nafas beratnya.


Setahun setelah kepergian Eunha dari hidup mereka, Yerin melahirkan seorang putri cantik. Mirip sekali dengan sahabatnya yang telah tiada itu. Gigi kelinci yang sangat mirip Eunha, membuat Yerin memberikan nama itu untuk putrinya.


Kim Eunha. Putri pertama Taehyung dan juga Yerin. Yang membuat adik kesayangan Taehyung perlahan sadar dari dunia gelap itu.


Taehyung terus memikirkan Jungkook yang gila akan kepergian Eunha. Meski keluarganya mengurusnya, ia tak terlihat seperti Jungkook yang sama. Jungkook yang punya kepercayaan diri yang tinggi. Jungkook yang lucu. Jungkook yang selalu menjaga miliknya.


Setelah setahun Jungkook tenggelam dalam dunia gelapnya yang hanya memikirkan Eunha. Kim Taehyung bersama istri dan putrinya datang mengunjungi Jungkook. Orang tua Jungkook berharap sekali putranya bisa kembali seperti sedia kala.


"Hey Jeon Jungkook!" Panggil Taehyung saat memasuki kamar Jungkook yang sudah di rapikan oleh pembantunya.


Jungkook yang berdiri di dekat jendela, menoleh. Tatapannya masih sama kosong. Ia mendengar tapi tidak melihat keberadaan hyungnya. Hanya gelap dan wajah Eunha yang selalu terlihat di matanya.


"Lihat putriku. Dia sangat lucu dan manis. Aku memberinya nama Kim Eunha. Lihatlah? Bukankah senyum itu sangat mirip?"


Perlahan Jungkook berjalan mendekati Taehyung yang sedang menggendong putrinya. Sedangkan Yerin, ia selalu menangis melihat kondisi Jungkook yang seperti ini.


"Kim Eunha?" Taehyung tersenyum bahagia saat Jungkook menyebut nama putrinya.


"Dia... Sangat imut... Dan lucu.. Hyung..." Lirihnya.


Perlahan wajah itu tersenyum melihat Eunha kecil tertawa saat Jungkook menyentuh pipinya lembut.


"Bolehkah, aku menggendongnya?"


Taehyung memberikan putrinya pada adik kesayangannya itu. Jungkook menimang bayi kecil itu dengan lembut. Air matanya turun saat menatap putri kecil hyungnya.


"Kau sama manisnya dengan dia." Ucap Jungkook sambil tersenyum saat bayi itu menggenggam jari telunjuk Jungkook dengan jari-jari mungil Eunha kecil.


"Jika dia masih di sampingku, aku juga ingin memiliki putri seimut dirimu..." Ucap Jungkook lagi.


Yerin dan Taehyung yang mendengar itu benar-benar tersentuh. Yerin bahkan terus menangis di pelukan Taehyung. Kisah tragis yang di alami Jungkook dan Eunha benar-benar di luar dugaannya.


"Kau bisa menemui putriku setiap hari Jungkook. Tapi berjanjilah untuk kuat menjalani kehidupan mu ke depannya. Jadilah Jeon Jungkook yang aku kenal." Ucapan Taehyung membuat Jungkook menatap Taehyung.


Jungkook memberikan Eunha kepada Yerin. Lalu pria itu memeluk hyungnya dan menangis. Yerin pergi keluar kamar Jungkook. Membiarkan mereka berdua membagi duka yang tersimpan. Hari itu Jungkook menceritakan semua derita itu. Rasa tidak sanggup dan putus asa saat melihat tubuh kaku Eunha di rumah sakit dengan gelang yang ia buat sendiri sebagai Kado anniversary mereka. Jungkook sangat rapuh tanpa Eunha.


Setelah hari di mana Jungkook di pertemukan pada putri Taehyung. Jungkook perlahan memulih. Ia sudah keluar dari kamarnya. Menjadi pendiam dan selalu menggenggam gelang itu.


"Lama tidak bertemu. Sayang ku...." Senyuman di wajah dan cairan bening yang keluar di sudut matanya.


Taehyung dan Jimin membawa Jungkook ke tempat peristirahatan terakhir Eunha. Pengantin wanita nya.


Yerin dan Yuju juga memberikan buku diary milik Eunha kepada Jungkook. Membuat pria itu tak bisa kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.


13 Juli 20xx


Kau memang pria yang menyebalkan. Bahkan di antara semua pria, hanya dirimu yang membuatku tak bisa tenang jika tak melihat mu. Aku sungguh merindukan mu. Hari ini aku akan bertekad kerumah mu.


Kau tahu, betapa bahagianya aku menyadari esok adalah hari pernikahan kita. Aku sudah menunggu lama untuk mengikat mu di sisi ku. Bahkan jika kau tidak menjadi milikku. Aku akan tetap mencintai mu dalam hatiku. Dimana pun aku berada. Di mana pun dunia ku, bahkan jika aku terlahir kembali. Aku tetap mencintaimu, Jeon Jungkook.


Sampai jumpa di hari minggu. Aku mencintaimu. Tapi biarkan aku menemui untuk saat ini.


Diary terakhir yang Eunha tulis. Jungkook kembali menangis. Memeluk diary itu seakan memeluk gadisnya yang sangat ia rindukan.


"Maafkan aku tidak menemui di waktu yang lama. Maafkan aku, istriku." Jimin merangkul Jungkook. Ia tahu kalau adik kecilnya ini sangat mencintai Eunha seperti yang ia rasakan pada Seulgi. Namun takdir terlalu tidak adil padanya.


Jungkook tersenyum, menahan sesaknya rasa rindu itu. Merindukan seseorang yang tak bisa ia lihat lagi.


Pria itu pergi ke tempat di mana ia sering menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya dulu. Jungkook juga kembali ke apartemen nya. Menatap setiap kenangan indah yang mereka buat di sana. Jungkook terus mengenang Eunha setelah beberapa lama ia mengurung diri.


Sampai sekarang. Ia masih belum melepaskan gadis yang ia cintai itu. Sepuluh tahun memang waktu yang lama. Namun cinta itu tak sedikit pun pudar dari hati dan jantungnya. Jungkook masih mengharapkannya.

__ADS_1


"Ayo kita makan." Ajak Taehyung saat Jungkook kembali termenung di belakang rumah Taehyung.


"Ayo paman, Una ingin makan bersama paman." Jungkook tersenyum mengangguk.


Eunha kecil itu cukup membuat rasa rindunya itu sedikit terlepas. Gigi kelinci milik Eunha, pipi bakpao ciri khas Yerin dan tubuh tinggi Taehyung bersatu menjadi Kim Eunha yang sangat manis.


Jungkook tersenyum dan menggapai tangan mungil yang terjulur itu. Gadis berumur sembilan tahun itu bergelantungan manja di tangan milik paman tampannya.


"Biarkan saja dia tetap di hatimu. Jadikan dia motivasimu. Buat dia bangga kalau kau bahagia meski hanya dengan kenangan kalian." Ucap Taehyung yang menepuk bahu Jungkook.


Pemuda itu hanya tersenyum. Ia kembali menghela nafasnya. Melupakan memang sulit, ia hanya terus mengenang sambil melangkah ke depan tanpa menengok ke belakang.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


"Jinan! Awas nak!" Gerutunya wanita cantik dengan Selayar merah yang ia kenakan. Menatap gemas pada remaja yang berumur 13 tahun itu.


"Mami! Aku hanya ingin mengejar mami." Lontaran polos itu membuat amarah wanita itu menghilang menjadi senyum.


"Jinan merindukan Mami?" Remaja pria itu mengangguk dan memeluk Irene dengan erat.


"Mana papa? Apa dia tidak menjemput mu?" Jinan menggeleng lagi.


"Ya sudah. Jinan pulang sama Mami aja, yuk." Ajak Irene sambil tersenyum.


"Mi jalan-jalan dulu ke mall mi. Jinan udah lama gak jalan-jalan sama Mami." Irene mengangguk menuruti permintaan puteranya itu.


"Lets go" Sahut Irene.


.


.


.


.


"PAPAAAAAAAAAA!"


Jinan berlari saat melihat wajah familiar yang ternyata ayah kandungnya sendiri. Irene menatap tajam Jimin dengan wanita di sampingnya yang tengah mengandung.


"Apa kau akan menelantarkan anak ku. Setelah mempunyai calon bayi lagi? Huh?!?" Geram Irene seraya menatap sahabatnya yang tengah tertawa pelan itu.


Wanita yang tengah mengandung itu adalah Seulgi. Seseorang yang paling di cintai Jimin dan sangat di sayangi Irene.


Remaja pria itu tampak sebal saat Jimin terus mengacak rambutnya atau berusaha menggendongnya.


"Papa hentikan! Aku bukan anak kecil lagi!" Kesal Jinan.


"Lalu sekarang kau sudah besar. Jadi tidak memerlukan papa dan mama lagi, huh?!?"


Seulgi membelai lembut lengan kekar Jimin membuat pria itu tersenyum. Seulgi selalu membela putra mereka saat perdebatan ayah dan anak berlangsung.


"Bahkan tinggi ku hampir mencapai papa! Jadi jangan menganggapku anak kecil lagi! Ayok mami! Biarkan mama dan papa berdua saja." Jinan menarik Irene menjauh dari Jimin dan Seulgi.


Orang dewasa itu tengah tertawa melihat sikap putranya Jimin itu yang terlihat menggemaskan.


Di sisi lain, keluarga Taehyung tengah berlibur ke kampung halaman Yerin. Jungkook juga ikut dengan mereka. Berharap Jungkook akan menghilangkan stressnya di sini.


"Paman!!! Ayo kita berkeliling kebun teh! Aku ingin menari-nari di angin..." Ajakan penuh keceriaan dari Kim Eunha membuat Jungkook tersenyum dan mengangguk.


"Kookie! Kalau kau lelah, kau istirahat saja biar hyung yang pergi dengan Una." Ucap Taehyung saat melihat Jungkook mengangguk ucapan putrinya.


"Tidak hyung. Aku saja. Aku titip koper ku."


"Baiklah. Jika sudah mulai gelap kembalilah. Kita akan makan malam." Jungkook hanya mengangguk menandakan iya paham apa yang diucapkan Taehyung.


Sedangkan pria bernama Kim Taehyung itu kembali ke kamarnya. Kamar dia dan Yerin yang di sediakan oleh Hoseok dan SinB. Kakak Yerin juga sudah menikah dengan SinB. Mereka sekarang tinggal di kediaman keluarga SinB. Sedangkan rumah di kampung menjadi kosong. Meski Hoseok menyewa orang untuk membersihkan dan menjaga rumahnya.


"Ehem!!!" Yerin menoleh. Mendapati suaminya menatap dirinya lekat. Dengan kancing kemeja Taehyung yang terbuka dua dan rambut khas orang lelah. Yerin meneguk ludah susah payah.


Suaminya terlalu seksi untuk di jabarkan. Meski pria itu sudah ia miliki tapi tetap saja rasa gugup saat pria itu memandangnya terasa sama.


"Apa kau menginginkan ku? Hmm..." Yerin tersentak. Saat ia tersadar dari lamunannya, Taehyung sudah berada di hadapannya tanpa jarak. Mereka sangat menempel dengan suara berat yang keluar tepat di telinganya.


"Oppa! A-apa yang kau lakukan!" Yerin berusaha melepaskan diri dari Taehyung. Pria itu sudah mulai menciumi lehernya dan membuat tanda di sana. Taehyung juga menjilat telinga Yerin membuat wajah gadis itu memerah menahan gairah. Kalau saja Taehyung tak memeluknya, mungkin Yerin sudah jatuh ke lantai.


"Kita baru sampai!" Ucap Yerin memperingati.


"Aku sangat ingin sekali saat ini..." Pria itu memelas dengan tangannya yang sudah masuk ke balik baju Yerin. Meremas lembut dua gundukan yang menggemaskan itu.


"Aaahhh~~~baiklah... Tutup pintunya dulu Kim Taehyung!" Desah tertahan Yerin yang sudah berada di atas ranjang.


Taehyung segera berlari untuk menutup pintu kamar mereka dan melepas kemejanya. Menatap singa betina itu yang tengah terangsang karena ulahnya.

__ADS_1


"Aku sangat menyukai mu yang seperti ini." Jelas Taehyung dengan mata yang sudah berkabut gairah.


Mereka melakukannya di hari pertama mereka baru sampai di kampung halaman Yerin.


Sedangkan Eunha kecil dan Jungkook kini tengah bermain di kebun teh yang sangat luas itu. Eunha berlari mengejar kupu-kupu sedangkan Jungkook? Oh ia kembali melamun.


"Apa kau benar-benar menyukai ku?"


Kata-kata dulu yang pernah kekasihnya ucapkan saat Jungkook meminta Jung Eunha menjadi kekasihnya. Jungkook tersenyum dan menggenggam gelang ungu itu.


"Aku masih belum bisa melepaskan mu, sayang ku." Gumam Jungkook seraya memejamkan mata.


Namun tiba-tiba


"Aaaarggghhttt. Pamaaaaaan huaaaa!!!!"


Jungkook mengedarkan pandangannya mencari putri kecil Taehyung yang berteriak memanggilnya.


Jungkook mendapati Una yang terduduk menangis dengan lutut berdarah yang di temani gadis cantik dengan rambut panjang.


"Ada apa? Kenapa kamu bisa jatuh Una?" Jungkook segera memeriksa tubuh Una yang lain. Memastikan kalau hanya lutut gadis kecil itu yang terluka.


"Maafkan aku tuan, aku hanya tidak sengaja menabraknya. Aku tidak melihat kalau gadis ini sedang bermain di depan ku." Jelas gadis itu yang sempat membuat Jungkook kesal.


DEG


Wajah Jungkook memucat. Matanya terbuka lebar menatap sosok di hadapannya. Tangis Una berhenti melihat pamannya berkeringat dingin.


"Paman? Paman! Paman!" Teriakan Una semakin lama semakin menghilang.


Jungkook pingsan.


Hari sudah malam. Taehyung menatap pekarangan rumahnya dengan cemas. Sahabat dan putrinya belum juga kembali dari kebun teh. Yerin yang juga sudah selesai memasak sejak tadi juga ikut menatap Taehyung. Hingga seseorang datang ke rumahnya.


"Permisi! Yerin..." Yerin menatap seorang pria yang ia kenali sebagai anak dari kepala desa di kampungnya. Taehyung menatap pria itu tidak suka.


"Apa Kim Eunha adalah putrimu?" Yerin mengangguk cepat saat nama putrinya di panggil.


"Dia bersama seorang pria yang pingsan sedang berada di rumah Eunbi."


"Apa!"


Mendengar itu. Taehyung dan Yerin segera pergi mengikuti pria itu. Terlihat sekali kalau Taehyung sangat khawatir pada Jungkook. Ia terus menggenggam tangan istrinya dengan cukup kuat.


"Mereka akan baik-baik saja." Ucap Yerin meringankan sedikit rasa khawatir suaminya.


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Setelah beberapa lama. Jungkook membuka matanya, ia sedikit memijat keningnya sendiri. Merasa sedikit pusing dan tubuh yang basah karena keringat.


"Tuan, anda sudah sadar?"


Jungkook menatap lekat gadis itu. Ia mengucek matanya berkali lalu menatap jelas gadis bersurai panjang di hadapannya.


"Aku sudah mendengar kisah mu dari Yerin, tapi aku bukan Eunha. Aku Eunbi. Sepupu dari Eunha. Aku Jung Eunbi." Jelas gadis manis itu seraya tersenyum pada Jungkook.


"Hya Jeon Jungkook!!! Kau sudah berjanji padaku untuk hidup lebih baik! Kenapa kau masih seperti ini!!!" Suara bariton milik Taehyung membuat Jungkook kembali pada kesadarannya. Sepasang suami istri itu tengah berjalan ke arahnya. Menatapnya dengan sorot khawatir.


"Maaf hyung. Aku hanya..."


"Sudahlah! Kita kembali ke villa." Titah Taehyung yang memakan tubuh Jungkook untuk berdiri.


Sedangkan Yerin menemui Eunbi untuk berterima kasih dan mencari Una kecilnya. Setelah itu mereka kembali ke Villa dengan perasaan tenang. Berbeda dengan Jungkook yang fikiran nya merasa bersalah.


"Maafkan aku, sayangku. Aku masih belum melupakanmu"


Hidup itu tak seperti semudah yang kau pikirkan. Seberusaha apapun dirimu untuk menjaga dan mengatakan kepada seluruh dunia itu milikmu atau berusaha mengendalikannya, Jika Tuhan berkehendak lain. Maka takdir akan menuliskan cerita lain untuk mu.


Terima kasih buat readers yang sudah menunggu PARA PEMEGANG KENDALI CUKUP LAMA. Terima kasih juga yang masih stay di sini.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2