PARA PEMEGANG KENDALI

PARA PEMEGANG KENDALI
18


__ADS_3

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Kau harus mencintai ku —PJM


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Matanya terbuka lebar. Rasa tak percaya, menatap gadis itu berjalan ke arahnya. Memegang kue dengan lilin. Tersenyum lembut penuh rasa rindu. Tapi hatinya begitu marah saat melihat gadis itu berjalan ke arahnya dengan semua rasa rindu itu.


"Happy birthday Park Jimin." Ucapan suara lembut itu menyadarkan Jimin kalau gadis itu berpura-pura melupakannya.


"Aku sudah pernah bilang. Aku tidak suka dengan candaan bodoh mu! Lupakan ulang tahun ku! Kalian pesta saja sendiri!"


Taehyung terdiam. Ia tahu kalau sahabatnya sama dengannya. Tidak suka jika ada orang lain berpura-pura di saat ia benar-benar kalut. Pria itu merasa bersalah dan mengejar sahabatnya itu.


"Apa aku salah?" Seulgi bergumam. Tubuhnya mendadak lemas.


Dengan sigap Yerin mengambil alih kue itu dari tangan Seulgi sedangkan Eunha menahan tubuh Seulgi yang terduduk.


"Kita tunggu di sini. Hyung akan kembali. Kau jangan khawatir." Ucap Jungkook sekedar untuk menghibur.


Tiba-tiba dering telfon itu mengejutkan mereka. Jungkook menatap ponselnya, di sana tertera nama Taehyung yang membuat ia segera mengangkatnya.


"Jimin kecelakaan." Jungkook terdiam. Lidahnya beku. Taehyung yang menyadari itu segera mematikan ponselnya. Membiarkan Jungkook menyampaikan kabar itu pada tiga gadis ini.


"Noona..." Jungkook benar-benar harus mengatakannya. Menatap Seulgi yang terlihat lemah.


"Jimin hyung... Dia..." Yerin dan Eunha menatap Jungkook. Menunggu penyelesaian dari kata itu.


"Dia kecelakaan. Aku akan antar kalian ke sana."


Tes


Seulgi tak dapat lagi menahan air matanya. Rencananya gagal. Ia hanya tidak ingin menyusahkan Jimin lebih banyak lagi maka dari itu ia mengejar Beasiswa yang di beri tahu oleh Baekhyun. Seulgi juga ikut serta dalam klub sebagai model majalah kampus. Ia hanya tak ingin prianya malu karena kondisi Seulgi yang tidak setara dengan Jimin.


"Aku hanya ingin kita terlihat sejajar." Gumam Seulgi yang merasa bersalah.


Mereka segera pergi menyusul Taehyung. Cemas? Tentu saja. Taehyung yang berusaha mengejar Jimin harus melihat sahabatnya tertabrak mobil. Sahabatnya itu berjalan dengan tatapan kosong hingga tidak mendengar klakson mobil.


Taehyung benar-benar terguncang mengingat ia ikut bersekongkol untuk membuat Jimin terluka. Taehyung merasa buruk dengan dirinya sendiri. Untuk saja, mobil itu tidak terlalu cepat. Hingga Jimin hanya kehilangan kesadaran sebentar.


"Tae..."


Taehyung menatap sahabatnya yang sudah membuka matanya.


"Maafkan aku, Jimin." Suara berat itu membuat pasien yang tengah menatapnya, tersenyum.


"Apa aku membuat mu cemas? Hingga kau meminta maaf pada ku?" Ucapnya dengan senyum hingga matanya tertutup.


Taehyung selalu tahu kalau Jimin selalu bisa membuat dirinya terlihat ceria. Jimin memanglah Jimin. Dia keras seperti cangkang telur dan mudah retak kapan saja dengan hati selembut isinya. Taehyung tersenyum. Ia tahu kalau semakin ia berkata khawatir, Jimin akan merasa tidak enak.

__ADS_1


"Jangan bodoh lagi!" Itu perintah bukan permintaan dari Kim Taehyung yang merasa bersalah.


"Tolong tetap ingatkan aku." Ucap Jimin sendu.


"Kau bisa memaafkannya jika kau ingin. Itu tergantung hati mu. Jangan menyiksa batin mu terlalu lama." Jimin mengangguk.


Paham akan apa yang di katakan Taehyung. Hanya ia masih merasa sangat bodoh saat melihat Seulgi tersenyum. Bayangan kekasihnya dekat dengan Baekhyun saja sudah membuatnya marah. Hingga merasakan kepura-puraan Seulgi itu sengaja agar bisa terlepas dari nya.


Tok tok tok....


Setelah bunyi ketukan pintu. Sebuah kepala yang di kenali, melongok masuk menatap Taehyung dan Jimin yang juga menatap ke arahnya.


"Kau tidak apa-apa? PARK JIMIN!!!" Jungkook yang baru datang menatap Jimin histeris.


Jimin kembali terkekeh pelan. Di sana juga ada Eunha dan Yerin yang masuk ke kamarnya. Taehyung mengerutkan keningnya. Satu gadis lagi tak terlihat di pandangannya.


"Noona dia..."


"Suruh pulang saja. Mungkin ia sudah lelah untuk tetap berpura-pura." Ujar Jimin dengan sangat dingin. Jimin tahu kalau Seulgi tak kan berani masuk saat Jimin sedang marah.


Seulgi juga tidak berani mengejar Jimin, di saat pria itu pergi karena emosi. Karena setiap kali Jimin pergi, Seulgi selalu merasa kalau Jimin akan kembali karena butuh dengannya. Tanpa Seulgi sadari kalau Jimin terkadang ingin Seulgi menggapainya, menahannya dan membujuknya. Jimin juga lelaki yang hangat dan lembut yang juga butuh perhatian.


"Hya! Hyung apa kau—" Jungkook menghentikan Ucapannya saat Taehyung menatapnya tajam.


"Baiklah. Kau istirahat dulu, aku akan keluar sebentar." Pamit Jungkook.


Seulgi terus memikirkan Jimin. Hingga tengah malam tiba kakinya menuntunnya ke rumah sakit mencari pria kesayangannya itu.


"Jimin." Gumam Seulgi menatap pria yang tengah terpejam itu. Seulgi melangkah masuk dan mendekat ke arah Jimin.


Air matanya jatuh menetes. Ternyata ia serapuh ini jika Jimin tak memandangnya. Seulgi merasa bersalah atas rencananya. Ia terlalu menyakiti Park Jimin yang selalu berjuang untuknya.


"Maafkan aku Jimin. Aku... Aku hanya ingin kita sejalan dan setara. Kau selalu mengatakan untuk tidak mendengar kata orang. Bagaimana jika ibumu sendiri yang mengatakan aku tidak pernah pantas untukmu!" Seulgi mencurahkan semua beban di hatinya di saat mata Jimin tertutup rapat.


Seulgi kira Jimin masih tertidur. Gadis itu terus menangis dengan menggenggam tangan Jimin. Sesekali ia mengecup lembut kening Jimin dengan rasa sayangnya.


"Aku berencana untuk mengatakannya setelah acara ulang tahun mu yang kami buat. Tapi aku tidak menyangka jika kau semarah itu. Hmm..." Seulgi menelan ludahnya. Bersiap untuk kata-kata pahit untuk dirinya.


"Jika kau juga menjauh dari ku, maka benar kata ibu mu. Suatu saat ada saja yang membuat kita berpisah, entah itu karena orang lain atau karena dirimu sendiri. Sementara aku akan tetap melangkah ke depan. Dengan atau tidak dengan mu. Aku harus tetap berjalan. Agar ibu mu tahu kalau aku bisa berjuang untuk setara dengan mu." Setelah itu Seulgi menghela nafasnya dan menghapus air matanya. Setidaknya kegelisahan nya sudah terungkapkan. Terserah Jimin mendengar atau tidak. Seulgi hanya butuh mengatakannya di depan Jimin.


"Aku pamit pergi. Ke hati yang lain." Seulgi tersenyum miris. Ia sangat penakut untuk membangunkan Jimin. Agar pria itu tau kalau kebahagiaan yang Jimin berikan pada Seulgi, terselip sebuah luka dari ibu Jimin untuk Seulgi.


HAP


"Aku sudah terlanjur kesal Seulgi. Jangan membuat ku menjadi marah." Seulgi membeku.


Tangan itu sedang menahan tangannya. Seulgi menatap Jimin yang mencoba untuk duduk dengan tangan yang menahan tangannya.


"Kau sudah bangun?" Seulgi terlihat gugup dan bingung. Ia takut jika Jimin melampiaskan kemarahannya pada Seulgi.

__ADS_1


"Kau pamit? Ke lain hati?"


"Bukan begitu. Maksudku—"


"Dan tentang ibuku! Kenapa kau tidak mengatakan sebelumnya. Kenapa Kau hanya diam saat ibu ku menemuimu?! Hmm?"


"Aku hanya tidak ingin membuat mu dan ibumu bertengkar." Ucap Seulgi yang tertunduk. Jimin terlihat menakutkan.


"Kenapa kau begitu membuatku... Argh!!!" Jimin menghentikan ucapannya saat melihat bulir-bulir air mata itu keluar dari sudut mata kekasihnya itu. Jimin menghela nafasnya kasar dan menarik Seulgi lalu memeluk gadis itu dengan erat.


"Aku merindukan mu." Bisik Jimin.


Seulgi runtuh. Ia memeluk Jimin tak kalah erat lalu menangis karena kesalahannya di pelukan Jimin. Gadis bodoh ini akhirnya tau kalau ia bisa begitu gila jika Jimin pergi darinya.


"Maafkan aku Jimin. Maafkan aku yang bodoh ini." Isak Seulgi.


Jimin hanya tersenyum lalu melonggarkan pelukannya. Menyuruh Seulgi duduk di sampingnya. Ranjang rumah sakit itu cukup luas untuk mereka berdua.


"Kau sangat jelek saat menangis. Ingus mu keluar semua... Aduh bagaimana ini..." Seulgi memukul dada Jimin pelan. Jimin selalu menghiburnya saat air matanya turun. Tangan pria itu juga selalu menghapus air matanya dengan penuh kasih.


Seulgi yang begitu di manja Jimin kembali merasa bodoh. Gadis itu kembali memeluk Jimin.


"Aku juga rindu pada mu. Aku mencintaimu, park Jimin." Ucap Seulgi dengan manja.


Jimin mengangguk dan mengecup pipi Seulgi.


"Ini sudah malam, kita tidur dulu."


"Baiklah. Aku akan pulang." Seulgi baru saja ingin turun dari ranjang dengan wajah sedih tapi Jimin menahannya.


"Aku masih rindu padamu. Tidur di sini saja."


"Tapi kau masih sakit."


"Kau obat ku. Aku perlu aroma tubuh mu untuk bernafas." Mendengar jawaban Jimin, Seulgi tersenyum.


Mereka berbaring dan beristirahat setelah semua emosi itu benar-benar menguasi kamar itu. Hingga Jimin selalu menyelesaikannya dengan baik. Mereka tidur saling berpelukan seakan takut di tinggal satu sama lain. Mereka cukup merasa senang melepas rasa rindu itu.


.


.


.


.


.


Continue....

__ADS_1


__ADS_2